Grafiti Bak Truk di Indonesia yang Bebas Pentas

Grafiti bak belakang truk Indonesia

Grafiti Bak Truk di Indonesia yang Bebas Pentas

Penulis Akhlis Fuadi | Editor Dyas BP

Grafiti truk memiliki banyak keunikan dan ciri khas

Thexandria.com – Saat asik berkendara di siang hari, jalanan berdebu dan teriknya matahari merupakan sebuah kondisi yang coba kita hindari. Banyaknya kendaraan mulai roda dua hingga roda enam pun sibuk berlalu lalang memenuhi ‘hasrat’-nya masing-masing. Tak terkecuali truk-truk berukuran kecil sampai besar yang selalu produktif mengantar setiap pesanan sang juragan menuju destinasi tertentu. Uniknya, hampir setiap truk memiliki kesan tersendiri bagi para pengendara kendaraan lain. Mulai kesan buruk dengan gaya berkendara yang ugal, hingga kesan baik dengan sikap berkendara yang tidak ugal bahkan mampu sedikit menghibur dengan sebuah gambar yang terlukis di bak belakang mereka.

Bak truk yang ada di Indonesia memang tidak semuanya bergrafiti. Namun, bak truk bergrafiti yang melintasi jalanan daerah khusus seperti Pantai Utara Jawa (Pantura) memiliki keunikan tersendiri. Grafiti yang ditunjukkan kerap menampilkan gambar perempuan berparas cantik dan didukung oleh tulisan yang menarik pengendara lain untuk membacanya. Di mana tulisan khas di bak truk tersebut dibuat sebagai sebuah karya seni atau menyampaikan pesan dan maksud. Pada medan lainnya, seperti jalan tol, ada yang pernah mengatakan bahwa gambar perempuan seksi dan tulisan yang terkesan ‘erotis’ bertujuan untuk ‘menyegarkan’ pengendara lain agar terhindar dari rasa kantuk saat di belakang sang truk. Karena kebanyakan kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk.

Grafiti truk memiliki banyak keunikan dan ciri khas lainnya. Pertama, grafiti merupakan satu jenis tuturan yang dituliskan dan berbeda dengan grafiti di tempat publik lainnya seperti di tembok atau toilet. Grafiti di bak truk bersifat sepihak (monodirectional) karena tidak mungkin bagi pembaca untuk merespon atau membalas secara langsung. Realita juga menjustifikasi bahwa grafiti di bak truk merupakan aset perorangan, sedang yang di tembok milik publik—siapa pun masih bisa dengan bebas membalas dengan mencoret juga tembok tersebut.

Baca Juga Drama Korea, Aku Jatuh Cinta!

Kedua, karena sifatnya yang sepihak itu maka penutur grafiti (pelukis atau pembuat grafiti) memainkan peran yang sangat menonjol. Bak truk mampu secara optimal menjadi sebuah media untuk menyampaikan pesan hingga menghadrikan kesan bagi pembacanya. Ketiga, karena sifat mobilitasnya secara fisik sangat dinamis, maka diharapkan mampu menjangkau pembaca yang lebih luas dibanding grafiti yang ada di tembok. Grafiti bak truk menempatkan karyanya di bagian belakang truk karena lebih mudah terjamah oleh mata pembaca. Hal tersebut memperlebar kemungkinan adanya apresiator dengan sebuah karya seni.

Selain itu, grafiti bak truk juga memuat fenomena-fenomena kehidupan yang segmentasinya menyentuh persoalan akar rumput hingga masyarakat perkotaan yang heterogen. Tema sosial, ekonomi, politik dan budaya pun tak luput dari radar pembahasan grafiti bak truk. Terlebih-lebih lagi tema tentang perempuan nakal, poligami, janda dan visualisasi artis yang sedang populer menjadi komoditas yang menarik dalam pembuatan grafiti tersebut.

Grafiti di atas merupakan satu dari sepersekian contoh dari banyaknya grafiti yang mengangkat perempuan sebagai objeknya. Dari kalimat yang mengiringi tersebut, mampu menciptakan interpretasi bagi para pembaca yang beragam. “Nafkahku Demi Desahmu” seolah memiliki makna level denotasi; yang mana nafkah laki-laki setelah bekerja adalah demi desahan sang wanita. Desahan adalah orientasi laki-laki yang berupa hubungan biologis. Hubungan timbal balik yang digambarkan adalah pemenuhan hasrat biologis, terlepas dari kontroversi yang ditimbulkan.

Oleh sebab itu, ada bak truk yang menampilkan gambar dan tulisan tentang perempuan—terlebih perempuan yang sensual dan kalimat yang erotis. Bagi yang melihat grafiti perempuan seksi tersebut, mungkin ada rasa terhibur yang muncul saat membacanya. Hal tersebut entah didesain sedemikian rupa untuk hiburan atau iseng belaka, namun yang pasti fungsi menghibur kepada pembaca sebagai sebuah media telah terpenuhi. Fungsi tersebut serupa dengan fungsi sastra, yaitu dulce et etile yang bermakna menyenangkan dan berguna.

Tak ayal, kehadiran perempuan dalam kehidupan supir truk tentu menjadi pemacu semangat bekerja mereka. tuntutan perempuan untuk tampil cantik adalah semata untuk memenuhi hasrat dan imajinasi seksual laki-laki terutama sang supir. Supir rela menempuh perjalanan panjang dan berhari-hari untuk mendapatkan uang, yang di mana uang tersebut digunakan untuk perempuan yang dicintainya. “Nafkahku Demi Desahmu” adalah orientasi supir ketika telah mendapatkan uang agar dapat merasakan timbal balik dari sang pasangan, yaitu cinta—yang (mungkin) dihiperbola dengan ekstrim lewat kata ‘desah’.

Oleh karenanya, grafiti bak truk selain bermakna denotasi juga akan bermakna konotasi atau mitos. Level makna konotasi atau mitos inilah yang menjadi gambaran umum bagi sebagian masyarakat yang relate dengan grafiti tersebut. Perempuan yang kerap digambarkan dalam bak truk merupakan sebuah representasi, fenomena bahkan realita yang sebenarnya. Adanya representasi perempuan tersebut menggambarkan adanya citra dan persepsi perempuan menurut pandangan laik-laki. Representasi perempuan yang tertuang ke dalam grafiti bak truk tersebut menjadi fenomena dan catatan kritis. Supir mempunyai kekuatan lewat grafiti di bak truknya. Medium yang dipakai terbatas namun seringkali lebih mengena, mencerminkan keadaan sosial dan dapat menjadi sebuah nasihat kepada siapapun.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.