Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Penulis Suci Jayanti | Editor Rizaldi Dolly

Mengapa beberapa pria memilih untuk memanjangkan rambutnya dengan stigma miring yang masih mendarah daging di masyarakat?

Thexandria.com – “Penampilan menentukan kepribadian seseorang”, kata orang-orang yang mengimani kalimat tersebut. Apakah berlaku untuk pria-pria gondrong yang dicap urakan, malas, kotor, penjahat—seperti yang orang-orang pandang miring? Tentu saja tidak semua.

Meskipun pandangan masyarakat tentang kerapian masih sangat sempit dan mematok jika pria yang ‘baik’ dan rapi adalah pria-pria berambut pendek. Tapi, pernah berpikir nggak, sih? Mengapa beberapa pria memilih untuk memanjangkan rambutnya dengan stigma miring yang masih mendarah daging di masyarakat?

Kali ini, Thexandria mengajak Jeri dan Dandi untuk berbincang-bincang mengenai stigma pria berambut gondrong di studio mini Thexandria di Samarinda pada Kamis (28/11/2019).

Baca Juga Rebahanisme Dalam Kaum Rebahan; Paham Baru yang Lahir Dari Manajemen Waktu maha Santuy

Di bawah ini beberapa pertanyaan mengenai pria gondrong:

Kenapa memutuskan untuk gondrong?

“Memilih gondrong karena.. bukan pengin terlihat gaya atau gimana. Tapi menurut saya pribadi, gondrong adalah sebuah pernyataan sikap bahwa kita ingin menembus paradigma soal gondrong dan mematahkan stigma,” kata Dandi mengawali tanya jawab kali ini.

“Pengin anti mainstream aja dulu pas jaman maba gitu kan, ya anti mainstream, sih..” jawab Jeri sederhana.

Pernah dianggap negatif nggak secara pribadi sampai merugikan diri sendiri?

“Pernah. Apalagi dengan badan kurus gini.. Sampai dianggap “lu make, ya?” sama orang-orang. Tapi kembali ke otak sih, untuk mematahkan stigma.. kan mahasiswa, harus berisi otaknya ya harus seimbang dengan gaya. Nakal nggak apa-apa asal jangan bodoh.” ucap Jeri.

“Jelas banget, apalagi kan aku terlibat di badan eksekutif di kampus. Ya, kenapa sih harus gondrong.. nggak mencerminkan pimpinan banget sih” jawab Dandi.

Bagaimana cara merawat rambut gondrong?

“Nggak usah dirawat, seriusan.. paling keramas aja atau nggak pake jeruk nipis diperas di kepala 30 menit..” kata Dandi antusias memberi jawaban.

Berbeda halnya dengan Jeri yang memutuskan untuk memangkas rambutnya karena gerah.

Bagaimana cara menanggapi komen negatif masyarakat perihal rambut gondrong?

“Kalau emang dia yang gondrong paham akan filosofisnya, nggak akan kemakan omongan negatif, sih..”

“Yang negatif itu tuh yang berjas dan berdasi, seringnya.”

Pesan untuk para gondrongers di luar sana?

“Pede aja, karena itu kan pilihan masing-masing. Toh, kita juga nggak merugikan orang lain kecuali kita bekutu.”

Dari perbincangan singkat mengenai rambut gondrong tersimpulkan bahwa masyarakat masih ‘menuhankan’ penampilan di atas segalanya—yang dinamakan pria itu harus berambut cepak dan rapi, yang mapan ‘harus’ demikian. Salah kaprah dengan menggeneralisasi semua pria berambut gondrong adalah penjahat.

Baca Juga: Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Bukan hanya di lingkungan sekitar—ranah perusahaan tempat melamar kerja pun masih banyak mendiskriminasi hal tersebut, membuat susah untuk mencari kerja. Profesi-profesi tertentu pun ‘melarang’ gondrong dikarenakan ya simply bukan profesi itu banget—contohnya akuntan.

Akuntan sejatinya membuat catatan keuangan yang mana menggunakan tangan dan otak untuk mengatur keluar masuknya pemasukkan dan pengeluaran—lantas apa hubungannya dengan rambut yang gondrong? Begitu juga dengan dokter—sejatinya mengobati pasien, meliputi etika—yang mana berhubungan dengan perilakui; tidak ada hubungannya dengan penampilan.

Di dunia kampus juga begitu—dianggap  ‘jelek’ bahkan dianggap sebelah mata, jika ada permasalahan melibatkan pencurian, tawuran, perkelahian—sudah pasti pria-pria gondrong yang menjadi sorotan lebih karena penampilan yang berbeda sendiri, seperti; dengan mudahnya dikenali dan gampang dicari jika sesuatu hal terjadi—apalagi hal-hal buruk, sepertinya tidak bisa sembunyi dari itu. Hanya stigma, ini, itu, bla bla.

Baca Juga Peradaban dari .Feast, Membuat Saya Menyelami Konsep ‘Anarki’

Bisa disimpulkan juga bahwa penampilan itu bukan segalanya—buktinya, masih banyak  orang-orang berpakaian rapi, memakai kemeja, berjas, berdasi, bersepatu, berambut cepak seperti pada umumnya—yang mencuri, memperkosa, mengambil uang rakyat, yang bejatlah intinya.

Sah-sah saja jika pria memanjangkan rambut sebagai bentuk sikap melawan budaya ‘menuhankan penampilan’ dan stigma miring dalam masyarakat umum. Jika tidak dilawan—stigma akan menjadi ‘penyakit’ dan akan semakin menjalar merasuki isi otak itu—membuat social life semakin sesak dan memuakkan.

Jadi, semua kembali ke isi kepala, hati dan sikap—bagaimana kita ‘mengolahnya’ sehingga tersalur menjadi kebaikan-kebaikan yang bisa dinikmati diri sendiri dan orang lain.

Sumber Foto: Al Fikrie

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.