Gaung yang Semakin Keras dari Mahasiswa Lewat Tagar #UndipKokJahatSih #AmarahBrawijaya #MhsUMBersuara

Gaung yang Semakin Keras dari Mahasiswa Lewat Tagar #UndipKokJahatsih #AmarahBrawijaya #MhsUMBersuara

Gaung yang Semakin Keras dari Mahasiswa Lewat Tagar #UndipKokJahatSih #AmarahBrawijaya #MhsUMBersuara

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Peralihan sistem perkuliahan di kelas kini digantikan dengan sistem dalam jaringan (daring) yang ditunjang beberapa aplikasi video conference.

Thexandria.com – Kondisi yang tak stabil dalam masa pandemi Covid-19 jelas merugikan banyak pihak dan aspek. Bahkan, prakiraan waktu akan kapan selesainya bencana global ini belum dapat dipastikan hingga kapan. Dunia pendidikan menjadi salah satu spektrum yang terkena imbas besar dari adanya wabah pandemi ini. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sigap menelurkan beberapa kebijakan yang dirasa mampu memberikan dampak dalam pemutusan rantai penyebaran Covid-19.

Seluruh penyelenggaraan kegiatan pendidikan dialihkan, diundur bahkan ditiadakan. Mulai ditiadakannya ujian nasional (UN), belajar di rumah bagi para siswa hingga masa kuliah online mahasiswa yang diperpanjang hingga 29 Mei 2020. Pada awal pelaksanaannya, banyak pihak yang setuju dengan kebijakan ini karena, mungkin, terbuai asumsi awal yang salah kaprah—sekolah atau kuliah online, bukan libur.

Khususnya di tingkat perguruan tinggi, banyak ketidaknyamanan dalam pelaksanaan kuliah online yang terpantau dari berbagai linimasa. Keluhan atas ketidaknyamanan tersebut bukan tanpa alasan, yang apabila ditilik secara mendalam merambah beberapa aspek penting. Sebagian besar merasakan betapa beratnya perkuliahan online dibandingkan perkuliahan konvensional.

Peralihan sistem perkuliahan di kelas kini digantikan dengan sistem dalam jaringan (daring) yang ditunjang beberapa aplikasi video conference. Teknis pelaksanaan sistem daring tak sepenuhnya optimal karena banyak keterbatasan yang dialami setiap individu. Pulangnya ribuan mahasiswa ke kampung halaman masing-masing juga menghadirkan polemik tersendiri. Khususnya di daerah pedalaman yang kualitas jaringan internetnya tidak memadai menjadi kendala tersendiri dalam mengikuti perkuliahan online. Hingga derasnya keluhan perihal lebih beratnya tugas yang diberikan dosen saat kuliah online dibanding biasanya.

Kemudian, secara psikologi berdampak pada kesehatan mental sebagian besar mahasiswa. Penyebab utama stres yang dialami ini ialah terbatasnya ruang sosialisasi saat di rumah. Karena perkuliahan dalam kelas dinilai lebih mampu memberikan penyegaran fikiran tiap-tiap individu di dalamnya. Pada prosesnya terjadi interaksi, komunikasi hingga afiliasi dengan individu lain yang mampu memberikan pengalaman baru dan pembelajaran diri. Sekaligus menjadi justifikasi bahwa memang benar, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain.

Tugas yang represif dan tidak adaptif dengan situasi saat ini ditengarai menjadi akar permasalahan utama ketidak-optimalan perkuliahan online.

Selain sambatan perihal masalah di atas, beberapa waktu terakhir ini juga lahir sebuah gerakan atau kampanye yang cukup menyita perhatian. Mahasiswa di beberapa kampus nasional mengkampanyekan agar universitas memotong hingga meng-gratiskan uang kuliah tunggal (UKT) dan beberapa tuntutan lainnya. Kampanye yang ramai diperbincangkan di sosial media ini disebabkan mayoritas kondisi ekonomi orang tua mahasiswa yang semakin surut akibat pandemi.

Menarik alur benang tidak terlalu jauh ke belakang, sebelumnya pada April 2020 Majelis Wali Amanat Unsur Mahasiswa Universitas Gadjah Mada memulai pembahasan mengenai opsi penurunan UKT bagi mahasiswa. Namun, kini gaung semakin keras terdengar lewat beberapa tagar yang begitu masif hilir mudik di linimasa.

#UndipKokJahatSih

Hadirnya tagar #UndipKokJahatSih hingga 3 ribu cuitan cukup meramaikan jagad Twitter pada Sabtu (2/5/2020). Tagar tersebut juga sempat bertahta di trending topic sehingga cukup menjadi sorotan banyak warganet.

Tagar tersebut disuarakan oleh banyak mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang sebagai bentuk protes dari kenaikan UKT bagi mahasiswa baru nantinya. Badan Eksekutif Mahasiswa Undip melalui akun mereka @BEMUndip_ yang mulai meramaikan isu ini dengan me-retweet cuitan dari akun @derita_dipo soal kenaikan UKT di tengah pandemi Covid-19 dan juga membuat utas soal tuntutan mahasiswa Undip.

Beberapa tuntutan tersebut di antaranya meminta kajian terkait pertimbangan kenaikan UKT tersebut hingga transparansi pendanaan Undip sesuai dengan Pasal 7 Ayat (1) Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2016. BEM juga meminta pihak kampus untuk menunda kenaikan UKT bagi mahasiswa tahun 2020 dengan pertimbangan pandemi Covid-19

Hingga hal ini mendapatkan reaksi dari pihak Undip, dimana mereka menjawab pula dengan tagar #UndipPeduli #UndipBaikHati. Dimana di dalamnya Undip siap menurunkan UKT mahasiswa lama dan baru yang terdampak finansial akibat pandemi Covid-19. Ya, meskipun ada syarat dan ketentuan (SK) yang harus dipenuhi.

Sebenarnya yang dibutuhkan mahasiswa adalah SK Rektor, bukan SK yang itu.

#AmarahBrawijaya #MhsUMBersuara

“Kelas daring bikin dompet kering (halo ub), UKT selangit tapi sama kuota pelit (halo rektorat). Universitasnya elit tapi kuota daring dipersulit (halo birokrat). Rektorat medit subsidi? Geramnya sampe kebasssssss.” begitu narasi dalam video tersebut ditutup dengan tagar #AmarahBrawijaya.

Pergerakan tersebut berasal dari Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) yang terdiri dari berbagai elemen mahasiswa di UB. Pergerakan ini merupakan respons atas kebijakan rektorat UB yang mereka rasa belum memuaskan dalam menangani dampak covid-19, terutama bagi mahasiswa.

Selain itu, ada tuntutan lain yang dibagi menjadi beberapa klaster, di antaranya Klaster UKT, Klaster Kuota Daring, Klaster Pembangunan, Klaster Kebijakan Kampus, Klaster UB Kediri, dan Klaster Vokasi.

Baca Juga: Panduan Memahami Mudik dan Pulang Kampung

Dari kampus tetangga juga tak kalah bergelora. Mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) pun turut menyuarakan keresahan mereka lewat tagar #UKTHARUSTURUN #MhsUMBersuara. Melalui video yang diposting beberapa mahasiswa UM, tuntutan mereka adalah penurunan UKT. Dasar dari tuntutan ini adalah kondisi ekonomi yang belum stabil dalam masa pandemi sehingga akan memberatkan orang tua membayar UKT semester depan.

Menanti Sebuah Jawaban

Upaya yang dilakukan para mahasiswa di atas dalam masa pandemi patut diacungi jempol. Dampak yang terjadi apabila aspirasi mereka didengar bahkan direalisasikan akan sangat besar. Sektor perokonomian yang belum stabil tak lagi menjadi halangan bagi para mahasiswa untuk tetap menuntut ilmu. Sejalan dengan cita-cita bangsa ini yang  ingin “mencerdaskan kehidupan bangsa” sedari dulu.

Sekaligus menjadi awal realisasi nyata “kemerdekaan” yang hakiki dalam implementasi kebijakan Kampus Merdeka kepada mahasiswa. Kemerdekaan dalam berfikir, kemerdekaan menyampaikan pendapat, merdeka dari belenggu keterbatasan, hingga merdeka dari intervensi dan intimidasi.

Kendala perekonomian mahasiswa pun harus turut “dimerdekakan” untuk tetap bisa menjalani perkuliahan. Mahasiswa tidak dibebankan biaya yang begitu besar untuk tetap bisa menuntut ilmu, terlebih dalam masa sulit seperti ini. Hal itu sekaligus menepis tudingan bahwa terdapat komersialisasi hingga praktik kapitalisme dalam lingkup universitas.

Tidak ada perjuangan yang sia-sia dalam masifnya #UndipKokJahatSih #AmarahBrawijaya #MhsUMBersuara. Meskipun, akhirnya hanya sebatas menurunkan UKT, bukan menurunkan diktator seperti mahasiswa pada peristiwa ’98. Namun, dua hal tersebut bukan entitas yang seimbang untuk dibandingkan. Setidaknya upaya yang telah dilakukan menunjukkan bahwa idealisme mahasiswa kini belum memudar.

Dan, keadlian sosial untuk seluruh rakyat Indonesia benar-benar terlaksana dengan semestinya.

Semua kita kembalikan kepada bapak-bapak yang terhormat..

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.