Garuda Kebanggaan Hadapi Terpaan

Garuda Kebanggaan Hadapi Terpaan

Garuda Kebanggaan Hadapi Terpaan

Penulis Adi Perdiana | Editor Dyas BP

Bukan sekedar maskapai tetapi juga sebagai harga diri bangsa.

Thexandria.com – Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan industri penerbangan mengalami pukulan yang berat akibat terhantam oleh pandemi Covid-19. Tidak hanya menyerang dalam negeri, tetapi juga global.

Seperti yang kita ketahui bahwa industri penerbangan memang mengalami pukulan keras akibat pandemi Covid-19. Ancaman kebangkrutan yang menghantui industri penerbangan dibuktikan dengan bangkrutnya maskapai dari negara tetangga, Thai Airways, Thailand.

Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR RI, Irfan memperingatkan agar anggota dewan tidak perlu kaget apabila nantinya ada maskapai nasional yang mengalami kebangkrutan. Ia bilang beberapa maskapai asal negara tetangga pun telah terlebih dahulu menyatakan bangkrut.

“Di dekat kita ada Thai Airways, jadi enggak usah terlalu kaget kalau dalam waktu dekat ada maskapai di Indonesia yang tidak tahan lagi,” kata Irfan dalam gelaran Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI, Selasa (7/7/2020).

Pernyataan tersebut disampaikan Irfan menanggapi usulan diskon yang dinilai tidak mungkin diberikan lagi karena kondisi keuangan maskapai sendiri sudah terpuruk akibat pembatasan penumpang selama pandemi Covid-19.

Ia menyatakan, di tengah memburuknya industri penerbangan akibat Covid-19, opsi menurunkan tarif tiket pesawat berpotensi semakin menekan kinerja maskapai. Bahkan, tidak menutup kemungkinan maskapai bangkrut apabila kembali menurunkan harga tiket pesawat.

Ia memang menyadari perlunya promosi, berupa insentif seperti harga tiket pesawat murah untuk mempercepat perbaikan sektor pariwisata. Namun, dengan keadaan yang dihadapi seperti ini hal tersebut dinilai sulit untuk dilakukan. Mengingat efek dari pandemi Covid-19, yang memukul keras industri penerbangan termasuk Garuda yang kehilangan 90% penumpangnya.

“Betul penting untuk memperoleh harga murah, tapi mohon dipahami hari ini industri mengalami pukulan yang sangat besar. Kami jumlah penumpang tinggal 10 persen,” tuturnya.

Hadapi Terpaan

Rincian Utang Garuda Indonesia
Sumber Gambar antaranews.com

Per 1 Juli 2020, total saldo utang usaha dan pinjaman bank Garuda Indonesia telah mencapai 2,2 miliar dollar AS atau Rp 31,9 triliun.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra “Saldo utang usaha dan pinjaman bank total 1 Juli 2020 2,2 miliar dollar AS,” kata Irfan dilansir dari Antara (14/7/2020).

Utang sebesar 2,2 miliar dollar AS itu di antaranya terdiri dari pinjaman jangka pendek sebesar 905 juta dollar AS dan pinjaman jangka panjang sebesar 645 juta dollar AS.

“Dari 645 juta dollar AS ada pinjaman sukuk 500 juta) dollar AS yang sudah kita negoisasi dan extend (perpanjang) selama tiga tahun yang seharusnya jatuh tempo 3 Juni 2020, menjadi 3 Juni 2023,” kata Irfan.

Sementara itu untuk arus kas (cash flow) yang tersisa di perusahaan hanya 14,5 juta dollar AS atau Rp 210 miliar.

Baca Juga Ribut-ribut Soal Ekspor Benih Lobster: Komoditas Perikanan Bernilai Ekonomi Tinggi

Oleh karenanya Irfan mengungkapkan manajemen memutuskan untuk menawarkan pensiun dini kepada para pegawainya dimana opsi tersebut sudah diambil oleh sebanyak 400 karyawan. Serta manajemen juga menawarkan cuti di luar pertanggungan atau unpaid leave kepada 800 karyawan yang berstatus perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

Pihaknya juga telah melakukan pemutusan atau mempercepat masa kontrak kerja kepada 135 pilot. “Kami juga melakukan pemotongan signifikan gaji dari seluruh jajaran komisaris dan direksi dari April,” ucap dia.

Tak pernah terfikir bagaimana jika Garuda tak lagi mengudara. Bukan sekedar maskapai tetapi juga sebagai harga diri bangsa. Meskipun berat, semua itu ditempuh agar Garuda sebagai maskapai kebanggaan Indonesia mampu bertahan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.