Gagasan Serupa Rudal Aktif yang Dirancang Secara Depresif dan Manipulatif

gugusan bintang-bintang

Gagasan Serupa Rudal Aktif yang Dirancang Secara Depresif dan Manipulatif

Penulis M Zein Al Hadad | Editor Rizaldi Dolly

Di antara gugusan bintang-bintang yang raya, gunung yang dominan, pohon tegap dan laut yang lapang, dan di antara segala misteri alam semesta yang sudah atau baru diciptakan: kita eksis—betapa beruntung, kita diberi hidup yang sejatinya kecil dan dibiarkan berkembang, kita ada dan disebut punya derajat paling tinggi di muka bumi.

Kehidupan dan keberadaan yang kecil, lahirlah segala pelebaya ketidakpuasan batin dari yang miskin, berupa egoisme yang tinggi untuk melakukan segala egoistis yang memuakkan dan cacat makna di sosial media.

Lihat di sekeliling kami, akan terlihat sebuah lingkaran yang diisi orang-orang yang menganggap keseluruhan dari mereka adalah yang paling terbaik.

Berjalan congkak menuju pusat perhatian, memancarkan aura kebintangan yang angkuh, dibuat-buat sesempurna mungkin padahal mengaburkan arti kehidupannya yang kecil, rapuh dan terlihat samar.

Mereka membalut halus seluruh tubuhnya dengan seni—pada pengharapan yang paling ambisius, tidaklah seni itu murni dan suci bagi mereka; yang semestinya terbebas dari kebutuhan ‘mengasupi’ para pendengung yang menata topik dengan sangat apik, menjalar ke jagat yang jahat—tempat untuk panjat sosial yang paling asyik dan menarik.

Disimpul oleh masa depan yang pirau, mata mereka buta sebelah untuk melihat kebenaran—yang dihidupi kecil dan terbilang berkembang, hanya ada dua kemungkinan: setelah mengembang pecah, adalah berisi terisi, bukan karena seni tertinggi memanipulasi mimpi, melainkan: mengkonsumsi arti dari toleransi.

Mereka cukup lama buta untuk melihat dan menghargai yang masih jauh dari jangkauannya, jangkauan yang mereka ukur dari seberapa jauh relasi dan tingkat sosial, motivasi hidup, penerapan dan pencapaian.

Pun acap kali buta untuk melihat dan menghargai yang masih rendah dari kepalanya, kepala yang mengisyaratkan bahwa lengkung langit sebentar lagi akan tersundul, pecah dan runtuh lalu jatuh membawa pesan bahwa mereka sudah sampai, di kedudukan paling tinggi yang bisa dicapai makhluk bumi.

Menjadi pusat dari apa yang terlihat, terdengar, terhirup dan terendus, bukan lagi sebuah prestasi jika mereka melupa pada tanah yang membentuk tubuhnya, menumbuh akar di kaki yang teramat teliti menjerat sepasang kaki-kaki agar tak terlepas bebas.

Sayap kebebasan membawa terbang apa yang seharusnya membumi sampai mati.

Pelbagai situasi yang menguntungkan datang dari kegairahan sekitar, menjadi gawai yang membentuk sebuah gaman, mereka bisa meluka atau terluka hanya dengan satu kali menarik pelatuk. Mereka bisa membunuh atau terbunuh hanya dengan satu kali melakukan kesembronoan.

Dan di antara gugusan bintang-bintang yang raya, gunung yang dominan, pohon tegap dan laut yang lapang, dan di antara segala misteri alam semesta yang sudah atau baru diperbincangkan: kita eksis lalu terkikis, terangkat sementara dan jatuh dengan waktu yang cukup lama—betapa menjadi sebuah kesedihan, manusia tak diciptakan disertai hati selapang lautan, seagung bintang-bintang, setegap dan sekokoh pohon dan gunung.

Coba lihat di sekeliling kami, mereka hanya memikirkan cara untuk bertarung sampai lupa berlindung. Pertarungan untuk membuktikan siapa yang paling dipuja dan dicandu atas segala yang palsu, perlindungan untuk menabahkan batin ketika gagal menahkodai kapal besi yang bisu.

Sekali lagi coba lihat di sekeliling kami, yang tua yang muda saling bersinggungan, dalam perseteruan penjenamaan untuk menghasilkan sebuah jenama yang seiras dengan bumantara, tidaklah mereka pikir bahwa hal itu tak akan memberikan kusala yang paling berharga melainkan drama dunia yang termaktub dalam tiga babak.

Keinginan besar untuk dipandang berharga serupa eksistensi busuk sebagai pembuka, kesadaran bahwa mereka tak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa sebagai masalahnya, serta kejatuhan atau bahkan kesuksesan sebagai penutup.

Baca Juga: Mencuri Dengar Percakapan Orang Lain: Perkara Baik dan Buruk, Ternyata Bisa Segetir Ini

Tak jarang dari mereka menggunakan jalan yang picik di babak kedua agar berhasil menyentuh pengakhiran yang ternyata semu, semisal sensasi kebodohan sebagai tontonan yang kotor.

Ilusi yang kelewahan, tumpah ruah dan dicairi bibit-bibit penyakit jiwa. Segala kerapuhan akan nampak mencuat setelah dihantui kecemasan dan rasa ketidakamanan diri, mereka bodoh dan sama bodohnya dengan seorang yang membiarkan itu tertelan sebagai pil pahit penghancur kehidupan, yang sedari awal dicita-citakan menjadi sosok penghibur yang elegan.

Dan di antara gugusan bintang-bintang yang palsu, gunung yang tak aman, pohon tumbang dan laut buatan, di antara segala imajinasi alam semesta yang diciptakan manusia itu sendiri: kami habis dan menangis. Menangis dan mengemis jawab atas pertanyaan “Mengapa saya tak seberuntung mereka? Mengapa?”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.