Fenomena Komet Berekor dan Kepercayaan Masyarakat Jawa dengan Lintang Kemukus

Lintang Kemukus

Fenomena Komet Berekor dan Kepercayaan Masyarakat Jawa dengan Lintang Kemukus

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Banyak masyarakat yang menjadi panik setelah mendengar kabar tersebut

Thexandria.com – Kemunculan Fenomena berupa cahaya misterius di langit Tuban, Jawa Timur pada minggu malam telah membuat kehebohan di jagat media sosial. Fenomena tersebut menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Berdasar penelusuran internet diketahui bahwa gambar tersebut berhasil diabadikan dan dibagikan di instagram oleh seseorang dengan nama akun @ndorobeii.

“Area tuban apakah kalian melihatnya, apakah itu,” tertulis pada deskripsi foto yang diunggah @ndorobeii yang menjadi viral.

Unggahan tersebut sontak mendapat respon dari warganet. Banyak warganet yang mengatakan bahwa fenomena alam tersebut adalah lintang kemukus atau komet atau bintang berekor. Dan tidak sedikit yang mempercayai jika kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda kurang baik karena konon katanya akan terjadi bencana besar setelah kemunculannya.

Akhirnya banyak masyarakat yang menjadi panik setelah mendengar kabar tersebut.

Mencoba meredam kepanikan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), menjelaskan bahwa fenomena lintang kemukus yang viral di media sosial merupakan misinformasi.

LAPAN berpendapat bahwa cahaya di atas langit Tuban malam itu merupakan pantulan dari cahaya Pembangkit Listrik Tenaga UAP (PLTU), dan bukan merupakan lintang kemukus seperti yang ramai diperbincangkan.

Peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto menjelaskan cahaya merah yang berada di langit tersebut tidak jelas menggambarkan lintang kemukus yang dapat disebabkan oleh komet atau meteor.

Rhorom berpendapat foto yang viral tersebut telah dipotong, padahal di daratan terdapat PLTU yang memancarkan sinar terang.

“Misinformasi, gambar yang beredar telah dipotong dan terdapat cahaya terang PLTU pada gambar aslinya, maka saya lebih yakin untuk mengatakan bahwa jejak merah tadi adalah hasil glare atau sorotan cahaya dari PLTU” kata Rhorom dikutip dari situs lapan.go.id.

Fenomena lintang kemukus tersebut mendadak viral di media sosial diantaranya Facebook, Twitter, dan Instagram pada sabtu malam kemarin. Netizen heboh menduga adanya lintang kemukus yang terlihat di sebagian kota Jawa Timur.

Cahaya tersebut, lanjut Rhorom, ia menduga bahwa cahaya terang yang terpantul di dalam lensa kamera. Cahaya yang terpantul tersebut mengakibatkan cahaya di langit sehingga menyerupai lintang kemukus.

“Cahaya terang dari PLTU masuk ke lensa kamera secara langsung dan juga melalui pantulan internal. Cahaya pantulan internal tadi disangka berasal dari langit, padahal tidak,” lanjut Rhorom.

Rhorom menambahkan, benda antariksa dapat menghasilkan jejak di langit seperti yang ada di foto. Namun, tidak ada benda antariksa berukuran sebesar itu yang melewati Jawa Timur pada jam tersebut.

Mitologi Lintang Kemukus dalam Sejarah Majapahit

Gapura Bajang Ratu Peninggalan Kerajaan Majapahit
600Gapura Bajang Ratu Peninggalan Kerajaan Majapahit

Kita semua pernah mendengar tentang Kerajaan Majapahit dari pelajaran sejarah kuno Indonesia. Kerajaan Majapahit (1293 – 1527) adalah salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Wilayah kerajaan Majapahit sangat luas, yang bila dilihat dari kacamata geografi modern meliputi Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Timor Leste dan Filipina. Majapahit mencapai masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal yaitu Gadjah Mada. Walaupun Gajah Mada dalam perspektif kepemimpinan modern lebih tepat dikenal sebagai Perdana Menteri.

Ni Nyoman Dhitasari, seorang bloger berlatar belakang ilmu teknik lingkungan, yang juga mempelajari astronomi budaya, memiliki cerita menarik terkait mitologi Lintang Kemukus.

Baca Juga Penelitian Potensi Tsunami 20 Meter di Laut Selatan Jawa Merangsang Daya Mitigasi Kita

Ia menulis, bahwa Dalam kehidupan bernegara di Majapahit, kerajaan tersebut terpecah menjadi dua golongan, yaitu golongan atas yang terdiri dari anggota kerajaan, keluarga bangsawan dan orang-orang kaya, serta golongan bawah yang terdiri dari rakyat jelata. Perbedaan dan perselisihan di antara kedua golongan ini begitu besar sehingga mengancam persatuan dan kesatuan Majapahit ketika itu. Untuk mengatasi masalah ini, dipanggilah sekitar seratus orang Empu (orang bijak, pembuat keris) untuk membuat satu keris sakti untuk mempersatukan bangsa.

Keris istimewa tersebut dibuat dari bahan yang diambil dari berbagai daerah dan dinamai Kyai Condong Campur. Nama tersebut dipilih sesuai dengan tujuannya. Kata “condong” dalam bahasa Jawa kuno (yang mungkin sudah diserap menjadi bahasa Indonesia) berarti “cenderung/lebih mendekati/mengarah pada…”. Sementara “campur” berarti “menjadi satu” atau “persatuan”. Dengan demikian, arti nama keris ini kurang lebih adalah “pembawa persatuan”.

Masyarakat Majapahit (dan masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa masa kini) meyakini bahwa setiap keris pusaka memiliki kekuatan spiritual dan supernatural, bahkan memiliki karakternya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan keris Kyai Condong Campur. Keris tersebut diharapkan memiliki karakter pemersatu, namun betapa terkejutnya para Empu pembuat keris ketika mengetahui bahwa Kyai Condong Campur memilki karakter yang jahat dan ingin menguasai.

Setelah melalui pertarungan yang sengit, Keris Sabuk Inten kalah dalam pertarungan tersebut. Mengetahui karakter jahat Keris Kyai Condong Campur, Keris Sengkelat akhirnya bertarung melawan Kyai Condong Campur meskipun sebenarnya ia segan bertarung. Di luar dugaan, Keris Sengkelat berhasil mengalahkan Kyai Condong Campur yang terkenal sakti. Keris Kyai Condong Campur amat murka kareka kekalahannya.

Dalam kemarahannya Keris Kyai Condong Campur bersumpah bahwa ia akan kembali setiap 500 tahun untuk membawa ontran-ontran (bahasa Jawa, yang berarti “kekacauan/bencana”) ke tanah Majapahit. Setelah mengucapkan sumpahnya, Keris Kyai Condong Campur melesat ke angkasa, meninggalkan jejak cahaya terang. Inilah yang dikenal orang Jawa/Majapahit sebagai Lintang Kemukus, bintang berekor. Mungkin inilah sebabnya masyarakat Jawa hingga saat ini masih percaya bahwa penampakan komet di langit adalah pertanda akan adanya bencana.

Pada masa itu, setiap golongan memiliki keris yang menjadi simbol golongan mereka. Golongan Atas memiliki keris pusaka yang bernama Keris Sabuk Inten (nama yang berarti “ikat pinggang  permata/intan”) dan golongan bawah memiliki keris pusaka bernama Keris Sengkelat. Nama “sengkelat” diyakin berasal kari kata-kata Jawa “sengkal atine” yang berarti “hati yang berat/lelah/kecewa”, dikaitkan dengan kondisi hati masyarakat kelas bawah yang penuh kekecewaan atas kondisi kehidupan mereka yang berat. Keris Sabuk Inten merasa terancam dengan kehadiran Keris Kyai Condong Campur, maka Kersi Sabuk Inten menantang Keris Kyai Condong Campur untuk bertarung.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.