Fenomena-fenomena Kebencian yang Me-reduksi Kemanusiaan; Islamofobia dan Antisemit

Fenomena-fenomena Kebencian yang Me-reduksi Kemanusiaan; Islamofobia dan Antisemit

Fenomena-fenomena Kebencian yang Me-reduksi Kemanusiaan; Islamofobia dan Antisemit

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sebenarnya gue sudah mau nulis soal islamofobia dari beberapa minggu yang lalu. Ketika waktu itu, gue melihat sebuah video di explore instagram, dimana di video yang nggak sengaja gue tonton itu, memperlihatkan seorang pria paruh baya, memukuli seorang perempuan muslim yang tengah hamil di sebuah tempat makan. Belakangan, gue mengetahui bahwa lokasi terjadinya kebiadaban tersebut berada di salah satu kota di Australia.

Dan yang menjadi pemantik nuat gue nulis soal ini adalah, barusan, lagi-lagi gue menemukan video penyerangan terhadap wanita muslim yang mengenakan hijab. Kejadiannya di Amerika, dimana terlihat seorang pria yang mengenakan rok dan berpakaian layaknya perempuan, nampak mengejar dan mengonfrontasi perempuan tersebut, ia juga terus berusaha menarik-narik hijab perempuan itu dengan kasar, dan beruntung, ada sekelompok pria lain yang menghentikannya, dan bahkan terlibat perkelehaian.

Kedua kejadian yang terekam dan berseliweran di sosial media itu, disinyalir dilatarbelakangi oleh fenomena islamofobia yang tumbuh paling subur di kawasan negara-negara barat, yang ironisnya, negara-negara barat juga dicitrakan sebagai tempat atau orang/orang yang menjunjung tinggi kemanusiaan dan kebebesan berekspresi maupun berpakaian.

Dan tentu, bicara mengenai islamofobia, salah satu kejadian yang paling getir yang pernah terjadi ialah, pembantaian muslim di masjid di New Zealend beberapa waktu silam. Pelaku bahkan merekam detik-detik penembakan, dan merasa seperti layaknya ‘pahlawan’.

Ketika dunia turut bersimpati dan mengutuk kebrutalan tersebut, akan tetapi menganggap tragedi itu sebagai tindakan kriminal, pemerintah New Zealend tak segan mengakui bahwa tindakan yang dilakukan oleh pelaku merupakan aksi terorisme.

Islamofobia Populer Pasca 911 dan Antisemit di Negara Mayoritas Islam

Semua bermula ketika dua gedung kembar WTC diklaim tertabrak sebuah pesawat yang tengah dibajak, dunia geger, pemerintah AS dalam kurun waktu cepat langsung menuding bahwa Osama Bin Laden yang notabene nya adalah rekan AS kala Afganishtan masih di jajah Uni Sovyet.

Militer dan Inteljien AS bergerak cepat menyatakan perang terhadap kelompok Osama dan semua yang berafiliasi dengannya, dan entah pemerintah AS sejak awal sadar atau tidak, seiring dengan kebijakan luar negeri AS yang keras, masyarakat barat juga terkena gelombang isu baru, Islam adalah agama yang menebarkan teror.

Ditambah dengan kurangnya pengetahuan masyarakat barat tentang Islam dan dominasi informasi dari media arus mainstrem yang celakanya ikut andil dalam upaya pemerintah AS ‘mengobrak-abrik’ timur tengah, membuat stigma negatif terhadap islam dan muslim semakin menjadi-jadi.

Dan sedikit beruntung, di era teknologi dimana arus informasi tak hanya bisa didapatkan melalui media mainstrem, kenyataan bahwa Islam tidak pernah mentolerir atau bahkan mengajarkan kekerasan semakin banyak diketahui.

Kemuakan masyarakat di negara mayoritas muslim terhadap islamofobia, berujung pada tudingan bahwa ini semua akibat propaganda kaum yahudi. Dan ini sebenarnya lelucon, lelucon besar! Karna apa? Karna justru menimbulkan fenomena antisemit yang masif, yang ujung-ujungnya, semua orang malah saling membenci. Apa yang dikorbankan dari itu semua? Jelas, kemanusiaan.

Telah dipahami bagi orang yang berpikir, bahwa segala tindak tanduk amoral yang dilakukan oleh orang yang beragama, merupakan perilaku oknum dan tidak merepresentasikan agama yang dianut. Dan karna itupula, apapun masalahnya, kebencian terhadap suatu agama, tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.

Idiom yang menyebutkan bahwa kemanusiaan berada diatas agama, juga merupakan suatu kekeliuran buat gue pribadi. Karna konteks agama dan kemanusiaan, adalah dua entitas yang berbeda, namun selalu bersinggungan.

Baca Juga: Sebuah Paranoia; Eskalasi AS-Iran yang Meninggi, Berpotensi Perang Dunia ke-3? Perang Dunia Ndasmu!

Agama lahir sebagai kontrol dan direction tentang norma-norma dan ajaran baik, sementara kemanusiaan, adalah suatu titik dimana penebaran kebaikan yang berlandaksan rasionalitas serta empati, selalu mampu mendegradasi latar belakang kelompok maupun agama.

Yang jadi salah adalah, seringnya oknum-oknum, mengatasnamakan keduanya sebagai instrument pembenaran dari kejahatan yang dibalut pembenaran-pembenaran yang dipaksakan. Hasilnya adalah, reduksi total.

Pada intinya, kita perlu memahami dan terpahami, bila segala sesuatu fenomena yang dilatarbelakangi kebencian, dan juga memantik kebencian, harus diredam dan tak boleh dibiarkan menjadi realitas sosial.

Orang-orang yang membela mereka dari islamofobia ataupun antisemit, sejatinya adalah tamparan bagi dunia secara keseluruhan, bahwa segala macam upaya ‘pelacuran kepentingan’, tak selalu berhasil.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.