Empati Masyarakat Terhadap Ambulans Lewat; Satu Hal yang Masih Meyakinkan Saya Hidup di Indonesia

Empati Masyarakat Terhadap Ambulans Lewat; Satu Hal yang Masih Meyakinkan Saya Hidup di Indonesia

Empati Masyarakat Terhadap Ambulans Lewat; Satu Hal yang Masih Meyakinkan Saya Hidup di Indonesia

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Membaca judul artikel yang panjang ini, dan dengan majas ber-aroma pesimistis tentu sedikit menjustifikasi betapa runyamnya hidup di Indonesia.

Wajar sajalah, kita harap maklum, republik yang sudah berusia 74 tahun ini masih dalam klasifikasi ‘negara berkembang’—bukan tidak mungkin turun menjadi ‘negara keos’ atau ‘negara miskin’ apabila rakyatnya terus menyibukkan diri untuk menjatuhkan satu sama lainnya, semakin menjadi-jadi yang bodoh makin bodoh. Yang korup makin kaya.

Mulai sektor ekonomi, politik, budaya, hingga sosial hampir semua memuakkan bila dijabarkan satu-satu praktiknya di masyarakat. ditambah angka pengangguran yang saya sendiri tidak tega untuk menuliskannya.

Yang diherankan adalah korupsi yang mulai meraja-lela, dan cengkraman oligarki yang makin kuat memeluk pondasi negara di satu dekade terakhir ini.

Maka tak salah berhembus pepatah “Yang kaya nitip Harley semakin kaya, yang miskin semakin miskin”. 

Kehidupan sosial pun tak sedikit polemik yang terlihat, baik polemik individu sendiri maupun interaksinya dengan orang banyak. Dimulai dari fenomena mental illness yang di Indonesia masih dianggap tabu, banyak orang yang menganggap bahwa penderita gangguan kesehatan mental adalah orang yang aneh, harus dihindari dan memalukan.

Banyak juga yang beranggapan bahwa pengidap gangguan kesehatan mental disebabkan karena kurangnya ibadah, tidak dekat dengan Yang Maha Kuasa, kerasukan setan dan semacamnya.

Lucu kan?

Ya, saya yakin kok suatu saat masyarakyat Indonesia selera humornya tidak stuck di titik itu..

Pada kenyataannya kalau mereka lebih aware dan banyak membaca ketimbang membuat diagnosis dangkal, hal tersebut sama sekali bukanlah penyebab seseorang menderita gangguan kesehatan mental. Mental illness dapat menyerang siapapun tanpa pandang bulu, mau itu orang yang alim, petinggi agama, dokter, atau siapapun itu, semua orang dapat mengalaminya

Belum lagi beberapa faktor penyebab dari mental illness mengarah ke body shaming sampai kepada yang lebih masif, yaitu bullying. Sulit sekali untuk mengimplementasikan teori ‘me-manusiakan manusia’ di sini, semakin superior saja mereka yang dianugerahi kondisi fisik, ekonomi, lingkungan sosial dan keluarga yang baik.

Selentingan seperti “Liat deh, muka ceweknya si Budi kayak penjual jamu.” sudah sering saya dengar dari mulut kawan-kawan ketika menilai seorang perempuan dari fisiknya dan kemudian melontarkan kesimpulan se-sampah itu.

Padahal dia sendiri belum tentu lebih baik;

“Jokes lo lucu engga, ganteng juga engga lu nya..” sedikit kalimat yang secara spontan terlontar untuk menampar hal bodoh seperti itu.

Ribut-ribut pilihan politik tanpa ujung yang damai sampai kepada hal sepele pun semakin memundurkan ke-optimisan saya terhadap bangsa ini.

Apakah rasa simpati dan empati sudah tidak ada lagi di benak masyarakat negara berkembang ini? Apakah kita sudah bisa me-manusiakan manusia lain sebagaimana mestinya? Apakah kita sudah siap menjadi negara maju dengan kualitas mental bangsa yang seperti ini?

Semakin tidak yakin saja saya hidup di Indonesia.

Mari kita biasakan memposisikan diri sebagai orang lain agar mengerti rasanya berada di posisi mereka, ya itulah empati..

Masih Ada Secercah Harapan dari Sebuah Sirine

Studi terbaru oleh Pennsylvania State University menunjukkan rasa empati dalam diri seseorang semakin langka, sebanyak 65 persen orang bersikap tidak peduli alias kehilangan empati.

Muncul sedikit kekhawatiran dari riset tersebut terhadap kenyataan sikap masyarakat di sekitar. Namun, seolah Tuhan berusaha mematahkan kekhawatiran saya dengan menunjukkan hal sepele yang membuat saya yakin, bahwa masih ada sebuah harapan dari masyarakat Indonesia.

Ketika berada di perjalanan pulang dari kantor dan menghadapi macet yang luar biasa, cuaca yang cukup gerah ditambah manusia dengan ego yang tinggi ingin mendahului satu sama lain tanpa memikirkan keselamatan, rasanya ingin pindah saja ke planet Uranus.

Tiba-tiba terdengar suara sirine dari jauh yang masih sulit saya bedakan antara pejabat yang ingin lewat dengan kawalan polisi dengan suara sirine ambulans— pejabat daerah yang sebenarnya urusannya tidak darurat-darurat amat, karena memang pada dasarnya itu adalah salah satu fasilitas ketika menjadi seorang pejabat.

Ya, bebas dari kemacetan. Berbeda dengan rakyat biasa, lagi-lagi empati tidak berlaku apabila jabatan dan uang berbicara.

Dari spion terlihat tulisan “Ambulance”. Tanpa dikawal dan diinstruksikan kepolisian, jalanan dengan kondisi kemacetan yang dapat memicu amarah tersebut tiba-tiba seolah menjadi “jalan pertolongan” bagi orang yang berada pada keadaan darurat di dalam ambulans tersebut.

Bagaimana tidak, dari kemacetan jalan yang cukup panjang, semua kendaraan dari dua arah berlawanan memilih untuk berhenti dan minggir untuk memberi jalan kepada ambulans tersebut. Ambulans itu pun dengan mudahnya membelah lalu lintas yang tengah padat.

Memang di Indonesia belum ada jalur khusus bagi mobil ambulans, baru ada jalur khusus Trans Jakarta pun itu sangat sering diterobos oleh pengguna sepeda motor.

Namun kejadian di atas cukup mematahkan kekhawatiran, bahawasannya ketertiban, kesadaran bahkan empati masyarakat kita akan kepentingan semacam itu belum musnah begitu saja.

Baca Juga: Saya Manusia, dan Ini Narasi Kontemplatif Saya

Karena untuk pemahaman hal kecil tapi berpengaruh besar seperti bahwa mobil-mobil bersirine seperti mobil pejabat, ambulans dan mobil Pemadam Kebakaran harus mendapatkan prioritas ketika berada di jalan, karena apa?

Tentu saja ini mengenai nyawa satu atau bahkan lebih banyak orang.

Jelas tertuang dalam Pasal 134 dan 135 UU Nomor 22 Tahun 2009 mengenai prioritas dan hak kendaraan gawat darurat di lalu lintas semacam itu.

Tanpa adanya kebijakan perundang-undang-an pun, sebagian masyarakat Indonesia adalah manusia yang masih memiliki hati nurani, setidaknya untuk hal-hal yang bersifat darurat-kemanusiaan.

See?

Tenang saja, kesadaran dan empati masyarakat Indonesia terhadap orang lain masih mempunyai sebuah asa, negeri ini masih mempunyai banyak harapan untuk me-manusiakan manusia..

Sumber Foto: Asuransiku.id

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.