Emotionally Abused; Tak Nampak, Tak Terasa Terjebak

Emotionally Abused; Tak Nampak, Tak Terasa Terjebak

Emotionally Abused; Tak Nampak, Tak Terasa Terjebak

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Sewajarnya dua insan yang sedang menjalin kasih—sudah sepatutnya untuk berbagi afeksi, cerita, bahkan pertanyaan “Gimana hari kamu?” yang tedengar sepele namun penuh makna untuk pasangan yang mungkin di hari itu adalah hari yang berat baginya, ya—sebenarnya  bukan sepele, sih, kalau untuk aku pribadi—malah menjadi sesuatu yang sepatutnya untuk diketahui.

Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang bahkan tidak menanyakannya sama sekali kepada pasangan? Atau parahnya,  hal-hal yang bersifat ‘sepele’ itu memudar seiring berjalannya waktu—dan kalian ‘menikmatinya’.

Kali ini, aku ingin membagi apa yang dialami temanku—tentang  pasangan yang dimabuk cinta hingga tidak terasa ada yang ‘janggal’ seiring waktu berjalan. Seperti yang aku baca di laman healthline.com beberapa waktu lalu—setelah mendengar cerita bahwa pasangan ini sudah putus dikarenakan permasalahan yang itu-itu saja—tho, they broke up in a ‘good way’.

Aku langsung mencari-cari apa itu emotionally abused, atau bisa dibilang kekerasan emosional—dimana kekerasan yang tidak nampak secara fisik dan membingungkan korbannya.

Kekerasan emosional sering kali membingungkan korbannya karena meliputi kekerasan yang diserang melalui verbal atau perilaku manipulatif. Contohnya seperti meremehkan, berteriak, merendahkan, mengancam, mencaci, mengintimidasi, posesif yang berlebih atau parahnya sampai mengabaikan. Kenapa aku bilang membingungkan?

Karena kekerasan emosional dalam hubungan sifatnya sangat halus—obviously, berbeda sekali dengan physical abuse, meskipun dua-duanya juga sama-sama berbahaya.

“Gitu aja salah! Kan aku udah kasih tau.”

“Jangan pergi sama dia, ah. Aku nggak suka!”

“Bisa nggak, nggak usah kayak gitu?”

“Bego banget, sih!”

Dan beberapa kalimat-kalimat lain yang aku dapatkan dari temanku ini—“ternyata selama ini aku emotionally abused sama dia, njir, baru sadar,” ungkapnya. “Tapi, ya—bukan juga salah dia sepenuhnya, sih.. kadang aku juga ngelakuin hal yang sama.

Mungkin itu cara defense aku ke dia, idk,” lanjutnya. “Terus, kamu gimana sekarang?” aku bertanya balik. “Been through hard times, masih takut juga kadang..” balasnya dengan kepala yang menunduk di depanku.

Prihatin akan itu, setelah mendengarkan ceritanya—aku langsung berselancar di Google untuk mencari tahu lebih lanjut efek jangka pendek dan panjang dari sebuah hubungan yang melibatkan kekerasan emosional.

Lagi, beberapa orang akan merasa bingung dan denying “Ah, masa, sih? Kan dia sayang aku..” –hell nah, they are not. Maybe yes, but they don’t treat you that well.

Rasa takut ternyata yang paling atas muncul di laman pencarian—takut untuk melakukan ini dan itu, takut akan dikomentari tidak baik oleh pasangan tanpa sebuah advice yang baik setelahnya, atau takut diejek., diremehkan.

Setelahnya akan merasa malu—merasa super kecil, merasa tidak pantas untuk melakukan apa-apa, merasa selalu tidak pernah cukup.

Korban kekerasan emosional menyebabkan kesulitan dalam berkonsentrasi, mood yang berubah tidak teratur, mimpi buruk, jantung yang berdetak kencang setiap kali berinteraksi dengan pasangan atau orang lain, self-esteem yang menurun.

Sama kuatnya seperti kekerasan fisik—anxiety, rasa sakit hati, rasa bersalah, insomnia, susah berinteraksi sosial, mengurung diri dan kesepian pun tidak bisa dihindari.

Memang terasa susah pada awalnya untuk keluar dari hubungan yang melibatkan kekerasan emosional di dalamnya setelah bergelut dengan kebingungan dan rasa takut—butuh keberanian yang lebih.

Mengabaikan hal ini bukanlah jawaban dari semuanya melainkan hanya membuat mental dan fisik menjadi sakit.

If you’re already out of that relationship, give yourself a time to heal.

Tidak ada salahnya untuk bercerita ke teman-teman yang dipercaya dan tidak menghakimi atau mencari support group, you don’t have to go through this alone.

Baca Juga: Memaknai Kebersamaan dalam Filter “Truth or Dare”

Berkegiatanlah, berolahraga, berjalan kaki, membaca buku, melakukan hal-hal yang disukai—atau sempatkanlah bertemu orang-orang lama yang sudah lama tidak bertukar kabar. Selain itu, tidur yang cukup juga membantu—bangun lebih awal agar badan dan pikiran lebih fresh.

Selesainya aku berselancar di dunia maya—aku melihat ke arah temanku, “are you really ok?”

“I don’t know, maybe I’m not—but I’ll get better soon.” balasnya dengan tersenyum.

“Yeah. You’ll get better soon. I’m so proud of you, Nyet! Makasih udah mau cerita ke aku, ya.” kataku sambil menoyor pundaknya.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.