Eksplorasi Musik yang Dalam pada Single Terbaru Biru Tamaela “Tak Mampu”

Eksplorasi Musik yang Dalam pada Single Terbaru Biru Tamaela, Tak Mampu

Eksplorasi Musik yang Dalam pada Single Terbaru Biru Tamaela “Tak Mampu”

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Biru Tamaela, sebuah band indie yang bagi para personelnya, merupakan sebuah ‘rumah’ yang memberikan mereka kesempatan untuk melepas penat, bercumbu dengan nada dan lirikal yang menghipnotis.

Setelah merilis EP yang bertajuk, “Gadis Kecil” dan dibuka dengan single “Rintik Malam”, Biru Tamaela dipertemukan dengan banyak pendengar-pendengar baru, yang bagi Biru Tamaela meng-terminologi-kannya dengan istilah “Jiwa Tamaela”.

Selain apresiasi yang diberikan atas karya EP “Gadis Kecil”, yang didalamnya terdapat lagu-lagu seperti, “Lahir” (instrumental), “Rintik Malam”, “Gadis Kecil”, “Istirahat”, dan “Titik Jenuh”. Biru Tamaela juga terus bertransformasi menjadi sebuah band yang membiarkan dirinya di-intervensi oleh kepentingan para jiwanya, walaupun, perihal musik, Biru Tamaela merasa tidak dapat mentolerir elaborasi nada dan kata yang dimasak di “dapur” rekaman.

Biru Tamaela juga mengalami kenyataan hidup, yang tak pelak membuat Biru Tamaela mengalami perpisahan-perpisahan dengan para punggawanya. Selain karena tak bermaksud menghalangi ambisi-ambisi personal, Biru Tamaela turut berbahagia ketika anak-anak manusia berani menjalani pilihan hidupnya. Dan disinilah pilihan hidup yang Biru Tamaela pilih. Biru Tamaela melanjutkan proses berkarya. Tak berhenti, meski satu-persatu anggota tubuh lumpuh sesaat.

Biru Tamaela telah usai mengaransemen dan membuahi karya mereka dengan jiwa ketulusan tanpa sebuah pengharapan yang berlebih. Dengan judul single, “Tak Mampu”, Biru Tamaela berusaha menghadirkan kembali sisi-sisi pilu dalam sebuah ikatan emosional.

Biru Tamaela menyadari, ikatan emosional dan batin antara dua insan, adalah pondasi alamiah manusia. Sebuah hubungan yang telah terjalin, ketika menemui sebuah keterpisahan, maka dengan sendirinya, melahirkan sebuah ingatan-ingatan yang hanya bisa dikenang. Sebagaimana hukum waktu, waktu tak akan bisa diulang, karna itulah Tuhan menciptakan kenangan.

“Tak Mampu” adalah cara pandang Biru Tamaela dalam melihat realitas dan angan-angan dalam sebuah ikatan.

Baca Juga: Rizky Febian “Tak Lagi Sama”, Mengajak Kita Belajar Kembali Mengenai Komitmen

Single Biru Tamaela “Tak Mampu” sudah dapat diakses di beberapa kanal media platform streaming seperti Spotify, Apple Music, Itunes dan Soundcloud. Sekarang mereka sedang proses merampungkan MV (Music Video) “Tak Mampu” yang juga akan segera dirilis.

Eksplorasi Musik yang Dewasa

Single “Tak Mampu”, sejujurnya memberikan sebuah pengalaman baru bagi para telinga yang mendengarnya.

“Tak Mampu” disajikan dengan hangat, tanpa drum, namun memberikan elegi yang kuat dikarenakan melodi pianika dan sayatan violin yang seperti bersatu padu, melagu serta menyatu pada esensi “Tak Mampu” sendiri.

Vocal khas dari Erce, seperti pada lagu-lagu Biru Tamaela yang sudah-sudah, menambah sisi-sisi kehilangan yang paling hilang. Kita seakan dipaksa untuk merefleksikan kembali kenangan.

Selain itu, petikan gitar akustik bergaya folks dari Aditya Darmawan, kami pikir tak pernah berubah, selalu menjadi pengawal dan penentu irama dari lagu yang disajikan.

Aji Daud yang memainkan lead gitar, berhasil memberikan sentuhan-sentuhan pemanis pada komposisi lagu. Dimana yang mungkin paling teringat, di titik interlude, melody yang dihasilkan, sekilas mengingatkan kami pada lagu “Kirana” Dewa 19. Melody yang sengaja dilepas dari patern-nya, sehingga menimbulkan ke-ambigu-an tersendiri, namun malah sangat berhasil menggambarkan kedewasaan musik yang dihasilkan.

Petikan bass dari Fajar Masliyansyah, yang semuanya nyaris repetisi, menegaskan ego yang semestinya memang dibagi dalam sebuah band. “Tak Mampu” sukses mengartikan sisi-sisi pembagian komposisi musik yang selaras, harmoni, dan suara bass yang “rendah hati”.

Nuansa yang tergambar pada single “Tak Mampu”, masih seputar dan seperti pada lagu-lagu Biru Tamaela yang sebelumnya. Yang membedakan, eksplorasi musik cenderung semakin dewasa, penambahan instrumen-instrumen musik yang lain, menegaskan bahwa “Tak Mampu” benar-benar “dimasak” dengan penuh kesabaran.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.