Eksebisionisme Tak Mengenal Gender, Sayang

Eksebisionisme Tak Mengenal Gender, Sayang

Eksebisionisme Tak Mengenal Gender, Sayang

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Pelecehan seksual kepada perempuan akhir-akhir ini semakin tidak masuk di akal. Terakhir yang membuat heran adalah kasus pelemparan sperma kepada beberapa perempuan di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Selain kriminil, hal ini merupakan penyimpangan dalam hal seksualitas. Beberapa waktu sebelumnya juga sering terjadi kasus pelecahan seksual serupa dengan motif memamerkan alat vital kepada khalayak di tempat umum.

Sungguh gila..

Penyimpangan ini dalam ilmu psikologi biasa disebut dengan eksibisionis. Pengidapnya tak segan pamer alat vital dihadapan banyak orang dan mendapat kepuasan batin karena hal tersebut.

Perlu diketahui, kondisi tersebut merupakan gangguan kejiwaan yang serius. Keinginan pamer alat kelamin atau organ seksual lainnya itu disebabkan oleh dorongan untuk memuaskan hasrat seksualnya.

Berbicara tentang eksebisionisme, umumnya pelakunya memiliki kecenderungan yang berulang dan menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada orang asing (biasanya lawan jenis) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.

Eksebisionisme umumnya dilakukan oleh laki-laki heteroseksual yang memamerkan pada wanita, remaja, atau dewasa yang apabila di respons dengan keterkejutan, ketakutan, atau  terpesonanya korban maka kegairahan pelaku akan semakin meningkat. 

Kebanyakan individu dengan gangguan eksebisionisme tidak berusaha menyembuhkan diri melalui keinginannya sendiri, sampai mereka benar-benar terciduk oleh orang lain ataupun diminta oleh pihak yang berwenang.

Dalam hal ini, apabila menemukan orang di sekitar yang mengalami gangguan semacam itu akan sangat disarankan untuk melakukan tindakan represif— perawatan dini sangat disarankan, perlakuan untuk eksebisionisme biasanya termasuk psikoterapi dan obat-obatan.

Alternatif lain dalam melakukan penanganannya adalah dengan terapi perilaku kognitif yang dapat membantu individu tersebut mengidentifikasi indikasi yang menyebabkan dorongan mereka.

Setelah itu sebagai care-giver kita dapat mendampingi mengelola dorongan tersebut dengan cara yang lebih sehat. Pendekatan psikoterapi lainnya termasuk pelatihan relaksasi, pelatihan empati, pelatihan keterampilan mengatasi dan restrukturisasi kognitif (mengidentifikasi dan mengubah pikiran yang mengarah pada eksebisionisme).

Obat-obatan yang mungkin membantu dalam mengobati eksibisionisme termasuk obat-obatan yang menghambat hormon seksual, menghasilkan penurunan hasrat seksual. Beberapa obat yang biasa digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan suasana hati lainnya, seperti SSRI (selective serotonin reuptake inhibitors), juga dapat mengurangi hasrat seksual.

Wanita dalam Lingkaran Eksebisionisme

Memiliki tubuh yang ideal, atau bahkan biasa dikenal dengan istilah “seksi” tentu saja menjadi hal yang diinginkan oleh banyak individu terutama perempuan.

Tetapi, keinginan untuk memiliki tubuh yang ideal dan indah dilanjutkan dengan keinginan untuk memperlihatkan keseluruhan tubuh atau sebagian tubuh yang umumnya disembunyikan, yang sering dikenal dengan nude photography, menjadi fenomena yang menarik dikaji dalam perspektif abnormalitas.

Secara biologis perempuan memiliki organ reproduksi yang berbeda dengan laki-laki. Organ reproduksi perempuan lebih tersembunyi dibandingkan dengan laki-laki. Dengan organ yang  tersembunyi, perempuan seringkali menjadi sulit untuk mengekspresikan  dorongan seksualnya.

Kondisi tersebut semakin dipengaruhi oleh budaya dan norma masyarakat yang menempatkan peran perempuan pada posisi individu yang harus mampu mengelola dan mengontrol apapun dalam dirinya dirinya dengan kuat.

Beberapa perempuan mempercayai bahwa tidak sepantasnya memperlihatkan dorongan seksual mereka sehingga umumnya mereka akan berusaha kuat menghentikan atau menyembunyikan dorongan seksual yang mereka miliki.

Lebih lanjut, dalam  interaksi  seksual  antara  laki-laki  dan  perempuan, seringkali muncul paradigma di masyarakat bahwa perempuan merupakan objek seksual bagi laki-laki. Kondisi  tersebut diperkuat lagi dengan adanya keyakinan bahwa perempuan berada pada posisi pasif saat berinteraksi seksual dengan laki-laki.

Kemudian dalam hal seksual, perempuan juga dianggap sebagai penerima (recipient) dan laki-laki sebagai inisiator yaitu di mana laki-laki akan bertindak terlebih dahulu untuk membuka  peluang terjadinya hubungan seksual dari pada perempuan.

Kali ini, saya mencoba mengambil sampel dari salah satu penelitian di bidang psikologi mengenai eksebisionisme. Pada pelaku eksebisionisme perempuan ditemukan bahwa mereka memiliki tujuan untuk memancing suasana erotis pada diri lawan jenisnya atau pasangan  seksualnya.

Mereka merasa senang dan lebih terangsang secara seksual ketika lawan jenisnya memunculkan respons erotis terhadap gambar yang dikirim kepada pasangan mereka.  

Pada perspektif ini, terlihat bahwa sebagai seorang perempuan, subjek memiliki  kecenderungan perilaku eksebisionisme. Banyak sekali pernyataan yang memang cukup mengejutkan

“Gue tuh dalam pake baju aja milih yang seksi gitu kan. Gue pengen bisa menonjolkan bentuk tubuh gitu”

Subjek menyatakan bahwa dirinya memiliki keinginan untuk dapat menampilkan lekuk tubuh dan membuat dirinya terlihat sensual di hadapan orang lain. Pernyataan lain yang memperkuat bahwa subjek memiliki kecenderungan eksibisionis adalah pernyataan bahwa ia merasa  senang ketika dapat memperlihatkan foto tanpa busana kepada pacarnya yang ditampilkan melalui pernyataan

“Sebenernya juga ada kayak rasa seneng karna gue bisa ngasih ke dia”.

Selain itu, subjek juga menyatakan bahwa perasaan senang yang ia rasakan juga muncul akibat subjek merasa bahwa dirinya mampu membangkitkan suasana erotis dan membuat pacarnya merasa puas saat melihat fotonya, hal ini terlihat dari pernyataan subjek

“Karena gue ngerasa dia puas gitu dengan liat foto gue.”

Sejalan dengan hal tersebut subjek juga menyatakan bahwa keinginannya untuk berfoto telanjang merupakan hal yang bertentangan dengan keseharian diri subjek.

Baca Juga: Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Subjek menyatakan bahwa berfoto telanjang atau berpenampilan seksi adalah bentuk ideal-self yang subjek miliki. Ideal-self sendiri merupakan diri yang ingin dituju dan seringkali tidak sesuai dengan real-self yang dimiliki oleh individu.

“Keinginan buat tampil seksi itu, gue rasa sih emang udah ada di diri gue gitu. Seksi itu kayak antara ideal-self sama real-self gue gitu.”

Melihat jawaban yang sangat mengambang antara narsisme dengan eksebisionisme dalam penelitian tersebut, saya pun juga agak sulit untuk berfikir objektif. Oke, saya coba untuk jujur dan berfikir subjektif;

Eksibisionis tak kenal gender sayang…

Jangan samakan saya dengan laki-laki lain yang meledak-ledak nafsunya ketika melihat foto organ vitalmu. Maaf sungguh maaf, saya benar-benar terganggu.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.