Ego-Perspektif: Kemampuan Beli Mobil yang Tidak Dibarengi Kemampuan Bangun Garasi

Garasi Mobil

Ego-Perspektif: Kemampuan Beli Mobil yang Tidak Dibarengi Kemampuan Bangun Garasi

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Segala jenis usaha dilakukan sejak kelahiran seorang manusia hingga menuju kehidupan sebagai orang dewasa. Di sinilah ada benarnya anggapan bahwa orang tua pasti selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Mulai dari memenuhi rengekan seorang balita sampai kepada upaya konstruktif bagi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik untuk kebaikan sosial sang anak.

Tak ayal, hidup memang harus memiliki target atau setinggi-tingginya ialah ambisi. Sebagian besar orang pasti menginginkan pekerjaan yang mapan, penghasilan yang melimpah hingga jabatan yang prestisius. Yang unik ialah pada saat yang lain berpikir buat kerja kantoran, ternyata masih ada tuh yang memilih untuk kerja sosial.

Gitu kok ya disindir, diomongin, dijelek-jelekin, dihina. Padahal yang dilakukan ya sama, sama-sama bekerja, namun beda orientasi saja. Sisi normatifnya kita tidak bisa menolak fakta bahwa setiap pekerjaan memiliki resikonya masing-masing.

Memiliki pekerjaan juga secara komprehensif membangun citra yang baik di lingkungan sosial, terutama tetangga. Karena salah satu penyakit kronis yang belum ditemukan vaksinnya adalah omongan tetangga; lulus kuliah lama diomongin, nganggur salah, dapat kerja yang biasa aja juga dinyiyirin. Serba salah..

Faktor tersebut yang mendasari sebagian besar dari kita slalu terpacu untuk menunjukkan sesuatu sebagai bentuk protes dalam “membungkam omongan tetangga”. Bekerja dan mampu membeli sesuatu yang secara fisik terlihat mewah adalah tindak nyata merespon hal tersebut.

Paling terlihat adalah membeli motor, mobil hingga rumah—ya, walaupun terkadang cicilan membuat nafas dan rekening kembang kempis. Khusus untuk mobil, inilah yang slalu perbincangan hangat para tetangga, apalagi yang sering bergonta-ganti mobil.

Selama ada uang tidak masalah, kan?

Kegemilangan industri otomotif di Indonesia juga mendorong sikap konsumtif masyarakat untuk memiliki mobil. Angka impor mobil dari beberapa merk ternama semakin naik, belum lagi produk-produk otomotif asal China yang mulai berinvestasi di Indonesia dengan membangun pabrik beserta stakeholder lainnya.

Dari fenomena di atas lahir pertumbuhan kepemilikan kendaraan yang cukup pesat di beberapa kota besar, khusunya mobil. Disokong menjamurnya dukungan lembaga pembiayaan yang memberi kemudahan yang semakin sulit membendung trend ini.

Volume kendaraan yang semakin tinggi menimbulkan kepadatan jalan raya yang membuat masyarakat kota besar semakin “bersahabat” dengan fenomena lainnya, kemacetan.

Untuk menyeimbangkan hal tersebut, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya, diantaranya melalui pengembangan infrastruktur publik, pelebaran badan jalan hingga pembangunan area parkir umum.

Prestise yang Menimbulkan Kejengahan

Persoalan yang sering disepelekan para pemilik kendaraan roda empat ialah dimana akan memarkir kendaraan mereka kemudian, khusunya di kawasan padat penduduk.

Memiliki mobil namun tinggal di lahan terbatas yang akhirnya memanfaatkan ruang kosong badan jalan sebagai tempat parkir menambah “dosa” pemilik mobil dengan merampas hak pengguna jalan.

Maka tak heran apabila di linimasa kita melihat foto yang dibagikan oleh warganet berisikan imbauan melalui spanduk yang berbunyi:

“Siapkan garasinya dulu, sebelum beli mobil. Jalan kampung adalah milik warga broo.. bukan garasi pribadi. Jangan rampas hak jalan orang lain.”

Spanduk tersebut dipasang di lokasi yang sering dijadikan lahan parkir oleh warga sekitar yang tidak memiliki garasi dimana hal tersebut sangat membuat jengah masyarakat sekitarnya.

Bukan tanpa alasan pembangunan garasi harus diprioritaskan sebelum membeli mobil. Selain tidak merampas hak pengguna jalan lain seperti yang banyak terjadi, pembangunan garasi juga dapat meringankan beban pikiran kita sebagai pemilik.

Bayangkan saja, ketika bersantai di siang hari bersama keluarga atau tidur di malam hari kita selalu dihantui kekhawatiran perihal keamanan mobil yang terparkir di pinggir jalan.

Potensi buruk seperti pencurian, tangan-tangan usil yang dengan sengaja membuat mobil lecet, hingga ketidak-sengajaan kendaraan lain menabrak mobil milik kita bisa dihindari secara preventif.

Baca Juga: Santai Sejenak; Mereka yang Kondangan dengan Menutup Jalanan Umum

Di lain sisi, memiliki garasi di rumah untuk mobil juga salah satu upaya merawat dan menyayangi kendaraan kita sendiri. Selain terlindungi dari ancaman keamanan oleh manusia, kendaraan juga akan terlindungi dari sinar matahari maupun air hujan yang sangat berpengaruh pada tampilan cat mobil dan masalah lainnya.

Kembali ke poin pretise, tak sedikit yang menganggap kepemilikan mobil lebih kepada gengsi dan upaya menunjukkan kemampuan sosial-ekonomi ketimbang memikirkan fungsi dan utilitasnya.

Struktur masyarakat terkini yang juga sangat hierarkis semakin menjustifikasi adanya kelas-kelas tertentu dalam tatanan sosial. Dimana ketika seseorang sudah mampu membeli mobil, maka dia akan menempati strata tertinggi dalam tatanan sosial di masyarakat.

Mobil secara simbolik dapat menjadi tontotan, dimana hal ini tidak seperti rumah yang tidak bisa dibawa kemana-mana. Sehingga, dimana mobil berkelana di situlah lingkup sosial akan memberikan tanda bagi pemilik mobil sebagai “Si Kaya”.

Belum lagi kalau hujan suka nyipratin orang yang lagi jalan, huft sesekali perlu tukar posisi kali ya.

Lagian, gak ada juga sih yang ngelarang untuk punya mobil, tapi kalo ngeliat mobil mewah dan besar parkir di perkampungan lalu menyebabkan kemacetan jalur orbit semesta, jadi bingung..

..yang kecil emang jalanan kampungnya atau otak yang punya mobil tersebut?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.