Ego-Perspektif: Kata Siapa Posting Lagu dari Spotify ke Instagram Story Itu Norak?

Ego-Perspektif Kata Siapa Posting Lagu dari Spotify ke Instagram Story Itu Norak

Ego-Perspektif: Kata Siapa Posting Lagu dari Spotify ke Instagram Story Itu Norak?

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Sulit sekali untuk memisahkan musik dengan kehidupan pada zaman ini. Bahkan musik sendiri menjadi sebuah komoditas untuk meraih keuntungan yang bisa dikatakan ‘lumayan’ hasilnya. Penjualan album, merchandise, hingga diundang untuk pagelaran sebuah konser menjadi sebuah ladang peruntungan yang menggiurkan bagi beberapa kalangan, khususnya kawula muda. Bahkan dunia musik dengan segala kompensasinya sudah memiliki payung hukum untuk menjamin dan melindungi hak-hak bagi para pelaku di industri ini.

Pembayaran dan pendistribusian royalti itu diwadahi melalui Undang Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Di dalamnya mengatur tentang dua jenis Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang bertugas mengelola dan mendistribusikan royalti untuk performing rights. Royalti untuk pencipta lagu diurus oleh LMK Hak Cipta dan royalti untuk musisi atau penyanyi yang merekam lagu tersebut beserta produser yang merilis lagu tersebut diurus oleh LMK Hak Terkait.

Sebagai penikmat musik, mungkin beberapa dari kita tidak tahu-menahu soal regulasi yang mengatur perihal dunia permusikan bahkan lebih kepada tidak peduli—karena yang penting menikmati atau memaknai karya tersebut yang sebagian relate dengan kehidupan sehari-hari.

Ini ditambah dengan fakta bahwa kemajuan teknologi semakin memudahkan aksebilitas dalam menikmati musik. Menjamurnya layanan streaming musik secara online semakin memudahkan para pendengar tanpa harus memiliki memory card yang cukup memakan ruang penyimpanan pada gawai.

Layanan streaming musik yang cukup terkenal di Indonesia seperti Joox, Spotify, Apple Music, Google Play Music hingga Langit Musik yang merupakan asli buatan anak bangsa. Bahkan situs web berbagi video yang sangat mendunia, YouTube, kini mulai merambah konsep layanan streaming musik lewat YouTube Music.

Khusus di Indonesia, yang sangat-amat sedang digandrungi dan populer di kalangan anak-anak muda hingga orang dewasa adalah Spotify. Bukan tanpa alasan, Spotify begitu banyak memberikan ruang tidak hanya kepada musisi ibukota dan bintang lima, pun juga kepada musisi indie hingga musisi non-ibukota.

Sehingga apresiasi para pendengar terhadap karya para musisi tidak ter-limitasi hanya sebatas kepada musisi dengan nama-nama besar. Menjadikan indikator dalam menikmati sebuah lagu sudah menapaki kepada bagusnya komposisi penyusunan instrumen dalam lagu hingga lirik yang begitu ‘hidup’ dan mampu berdialektika dengan pendengar.

Bentuk apresiasi dan ‘suka’ terhadap sebuah lagu yang didengarkan dari Spotify sendiri sekarang dapat dilakukan dengan memposting lagu tersebut ke Instagram Story, yang kemudian dilihat oleh kawan-kawan followers akun Instagram. Ya, walaupun 99% lebih kepada tindak ekspresif relevansi mood dan juga kejadian apa yang sedang dialami sang pendengar.

Tentu tidak sedikit respon yang muncul dari postingan di story tersebut walaupun tidak tersampaikan secara eksplisit. Ada yang sekadar bertanya apakah lagu tersebut benar-benar ‘enak’ untuk didengarkan bahkan sampai bermuara kepada sebuah diskusi berkenaan dengan lagu atau artis terkait. Setiap yang dihasilkan oleh manusia pasti tidak sepenuhnya menuai respon yang baik, namun juga sikap kontra dari sekeliling.

“Norak banget share-share lagu Spotify ke IG Story.”

Respon primitif dan terkesan close-minded ini memang jarang dan bahkan tidak akan pernah sampai ke direct message akun kita. Kenyataannya respon seperti itu benar ada nyatanya melalui unggahan story kawan-kawan yang memang bermaksud menyindir ke-latah-an anak kekinian terhadap tren ‘apa-apa posting, apa-apa posting’.

Apabila mereka yang merespon dengan berkata seperti itu bisa dibilang kaum yang lebih baik, seharusnya mereka mampu melihat sisi positif agar tidak menimbulkan negative-vibes pada pikiran prasangka mereka.

Ya, berbagi ke Instagram Story merupakan aksi nyata dari kita sebagai masyarakat untuk mengapresiasi karya-karya para musisi. Unggahan yang kita sebarkan di story merupakan bentuk dukungan dalam bentuk publikasi sehingga dapat memberi sugesti kepada orang lain untuk menambah referensi musik mereka.

Sayang sekali bukan apabila terdapat musisi lokal dengan kualitas karya yang bagus namun tidak ter-ekspos? Dampaknya pun besar bagi musisi tersebut—sedikitnya apresiasi terhadap karya yang dibuat akan membuat malas sang musisi tersebut untuk berkarya lagi dan secara perlahan ‘mengubur’ orang-orang dengan kreativitas yang mumpuni.

Ditilik dari aspek lain yaitu pelaku industri musik juga sangat merugi, terutama musisi-musisi skala kecil. Dari data yang dihimpun Economica, pendapatan dari industri musik sangat rendah yang berkisar 0,0004 sampai 4 USD untuk sekali pemutaran lagu. Dengan penghasilan sekecil itu tentu akan sangat sulit untuk balik modal bahkan untuk menjadikan sumber tetap untuk mengisi perut sehari-hari.

Langkah untuk merilis karya melalui platform digital dirasa sangat tepat untuk para musisi karena biaya produksi rilisan fisik yang biasanya lebih mahal, khusunya mereka yang belum mempunyai nama besar.

Baca Juga: Kebetulan, Teman yang Pake Airpods Dimanapun-Kapanpun Itu Nyebelin dan Terkesan Pamer

Maka tak heran, beberapa musisi/band lokal merilis beberapa merchandise untuk dijual sebagai tambahan. Namun, kekhawatiran akan minat pasar yang tidak terlalu tinggi menjadikan sistem pre-oder sebagai pilihan untuk menghindari kemungkingan terburuk; tidak lakunya merchandise.

Karena kemungkinan kecil untuk mengikuti perkataan Ethan Diamond, penggagas Bandcamp: “Cara terbaik untuk mendukung musisi adalah dengan memberi mereka uang secara langsung.”

Karena kenyataannya tidak semua dari kita sebagai pendengar mau memberikan support secara materi dengan membeli rilisan fisik karya dari musisi/band lokal. Maka dari itu bentuk dukungan dalam tindakan lain sangat lain sangat disarankan, termasuk hanya sekadar posting di Instagram Story.

Memang publikasi melalui Spotify ke Instagram Story terlihat sangat sepele. Tapi dampak yang dihasilkan memiliki potensi yang besar apabila diikuti dengan kualitas karya yang bagus juga. Kemungkinan terbaiknya adalah promosi yang kita lakukan membuat band/musisi tersebut mendapat atensi lebih; karyanya disukai, dikenal masyarakat, menambah relasi dengan musisi/band lain hingga diundang untuk sekadar gigs kecil atau konser rutin.

Senang bukan punya andil dalam membuka keran rezeki orang lain?

Bagaimanapun promosi sangat diperlukan dalam menjangkau minat masyarakat, sekecil apapun promosi yang dilakukan.

Dan juga, sebenarnya tidak norak dan sah-sah saja untuk berkecimpung dalam hiruk pikuknya sosmed dan memposting lagu yang didengarkan dari Spotify ke Instagram Story.

Toh, tidak ada aturan dan larangannya, kan? Yang dilarang itu posting berita hoax, kan?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.