Dunia dalam Postmodernisme

Dunia dalam Postmodernisme

Dunia dalam Postmodernisme

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Era postmodernisme sendiri hanya dibatasi pada akhir abad 20.

Thexandria.com – Kehidupan masyarakat dengan segala realitas sosial yang ada, begitu dinamis sekaligus sporadis. Dalam pengertian yang lebih sederhana, bisa dikatakan bahwa, masyarakat tidak pernah berada dalam suatu kondisi yang stagnan dari waktu ke waktu, begitu pula dengan realitas sosial yang terus mengalami modifikasi akibat berbagai produk budaya yang muncul sebagai reaksi dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mampu melampaui realita itu sendiri.

Era modernisme yang beberapa tahun terakhir, sempat menjadi standar dari setiap kehidupan masyarakat yang maju dan rasional, pada akhirnya justru memunculkan suatu kondisi masyarakat yang sporadis—yang penuh dengan manipulasi tanda yang dicirikan dengan ketidakstabilan makna akan segala sesuatu. 

Ketidakstabilan tersebut ditampilkan melalui bahasa lewat media massa yang terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi—yang menyebabkan segala sesuatu menjadi tidak seimbang dan tidak bisa dipercaya karena bahasa tidak lagi bersifat deskriptif kualitatif, melainkan cenderung melebih-lebihkan untuk memantapkan image tertentu dari sebuah produk barang maupun jasa.

Baca Juga Serba-Serbi Among Us: Game yang Dianggap Overrated Hingga Meniru Werewolf

Kondisi ini pada satu titik menyebabkan masyarakat postmodern begitu identik dengan masyarakat konsumsi karena iklan-iklan di media massa secara terus menerus mengkontruksi bagaimana segala sesuatu di dalam kehidupan harus berjalan dengan ideal, maka berbagai produk yang ditawarkan melalui iklan pada dasarnya tidaklah ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan yang esensial bagi individu sebagai seorang manusia. Melainkan dimuati berbagai simbol yang menawarkan janji-janji terpenuhinya imajinasi gaya hidup yang ideal menurut versi masyarakat postmodern. 

Teori Postmodern

Postmodern
Gambar Ilustrasi

Teori postmodern atau postmodernism (Felluga, 2007) merupakan sebuah gerakan intelektual yang lahir sebagai respon terhadap beberapa tema yang dikemukakan oleh kaum modern atau modernis yang diartikulasikan pertama kali selama masa Pencerahan. Era postmodernisme sendiri hanya dibatasi pada akhir abad 20. Beberapa ahli terkadang menyebutkan bahwa era postmodernisme dimulai setelah Perang Dunia II berakhir karena adanya kekecewaan eksistensial akibat terjadinya Holocaust.

Selain itu, kelahiran postmodernisme ditempatkan di tahun 1960an ketika modernism tidak lagi produktif. Postmodernisme tidak mewujudkan dirinya sendiri hanya terbatas pada filsafat seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi atau teoretis melainkan postmodernisme adalah sebuah konsep yang jauh lebih komprehensif yang melingkupi seni, asitektur, dan kritik.

Para ahli teori sepakat bahwa terdapat dua pengertian postmodernisme yaitu pertama, postmodernisme sebagai reaksi terhadap estetika modernisme pada paruh pertama abad 20 dalam arsitektur, seni, dan sastra. Dan kedua, postmodernisme sebagai reaksi terhadap tradisi modernitas yang telah berlangsung lama selama Abad Pertengahan. Makna kedua seringkali disebut juga dengan postmodernity atau postmodernitas karena mengacu pada banyaknya aspek historis dan sosial postmodernisme.

Makna kedua juga terkait dengan poststrukturalisme yang menyindir penolakan terhadap budaya Pencerahan yang borjuis dan elitis. Tanpa adanya perbedaan ini, maka postmodernisme mungkin tidak memiliki hierarki sentral atau prinsip pengorganisasian yang jelas, yang mewujudkan kompleksitas, kontradiksi, ambiguitas, keragaman, dan keterkaitan yang ekstrem. Namun, ciri umumnya biasanya dianggap meliputi penolakan terhadap narasi besar, penolakan terhadap kebenaran absolut dan universal, ketidakberadaan signified, disorientasi, penggunaan parodi, simulasi tanpa yang asli, akhir kapitalisme, dan globalisasi.

Kritik dan Kekecawaan Terhadap Modernisme

Francois Lyodra
Francois Lyotard

Wacana postmodern menjadi popular setelah Francois Lyotard (1924) menerbitkan bukunya The Postmodern Condition : A Report on Knowledge (1979). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa postmodernisme merupakan kritik terhadap arus modernisme yang semakin menggusur humanisme dari manusia sendiri, melahirkan materialisme dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Postmodernisme beraksi terhadap inti filsafat modernisme; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah Prancis Bacon.

Francois Lyotard mengatakan bahwa postmodernisme merupakan intensifikasi yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar, berupa penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, seperti Hegelian, liberalisme, marxisme, dan lain-lain. Postmodernisme dalam bidang filsafat dapat diartikan segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya.

Sederet kekecewaan kepada modernisme diajukan oleh para postmodernis. Pertama, modernisme gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan dramatis sebagaimana diinginkan para pendukung fanatiknya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas seperti tampak pada preferensi-preferensi yang sering kali mendahului hasil penelitian. Ketiga, ada semacam kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan – yang sesungguhnya tidak berdasar– bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia dan lingkungannya; dan ternyata keyakinan ini keliru manakala kita menyaksikan bahwa kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan terus terjadi menyertai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisik eksistensi manusia karena terlalu menekankan pada atribut fisik individu. Dengan demikian, postmodernisme mendeklarasikan diri sebagai kritik atas modernisme dan memulai merasuki berbagai bentuk kebudayaan masyarakat saat ini.

*Disadur dari Berbagai Sumber

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.