“Dua Wajah” Musik yang Paradoksal Dalam Sejarah Manusia: Musik dan Perang

Dua Wajah Musik yang Paradoksal Dalam Sejarah Manusia Musik dan Perang

“Dua Wajah” Musik yang Paradoksal Dalam Sejarah Manusia: Musik dan Perang

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Apakah musik turut membunuh? Secara tidak langsung, ya.

Thexandria.com – Niccolo Machiavelli dalam risalahnya berjudul, The Art of War, tahun 1521, menyebut trompet sebagai salah satu alat penting dalam perang. Alasannya, trompet memiliki suara yang tajam dan bertenaga, tidak tenggelam dalam gaduhnya perang. Sedang drum dan flute, disebutkan sangat bagus untuk melatih kedisiplinan dalam baris berbaris atau memerintahkan pergerakan dalam peperangan.

Perang dan musik hadir berdampingan sebagai sebuah kenyataan dalam sejarah manusia yang tak bisa dibantah.

Jika selama ini kita hanya mengira bahwa musik erat hubungannya dengan kedamaian, keindahan, ataupun melankolia, maka kita belum memahami musik secara utuh dalam sejarahnya. Musik, telah beratus-ratus atau bahkan ribuan tahun yang lalu, digunakan sebagai instrument yang tak bisa lepas dari peperangan. Kami coba hadirkan beberapa jejak sejarahnya yang kami rangkum berdasarkan beberapa sumber.

Musik dalam Perang Saudara Amerika

Musik dalam Perang Saudara Amerika
Gambar hanya ilustrasi

Perang Saudara yang terjadi di Amerika Serikat (AS) antara tahun 1881-1865, telah membagi AS menjadi dua, utara dan selatan, Union dan Konfederasi. Dipicu oleh keinginan memerdekakan diri para penduduk di selatan yang kebanyakan para budak, perang ini tidak terhindarkan lagi.

Baca Juga Oasis Bukan Sekedar Band, Tapi Sebuah Kultur!

Lebih dari 600 ribu orang tewas dalam perang ini. Apakah musik turut membunuh? Secara tidak langsung, ya. Karena, selain difungsikan sebagai sarana rekreasi selama perang oleh para tentara—entah karena bosan, tegang, stres, atau rindu rumah—musik punya fungsi lain: komunikasi dan senjata psikologis.

Sebagai fungsi komunikasi, musik dipakai dalam memandu baris berbaris, memberi komando di medan perang, atau sinyal panggilan di perkemahan. Sedang sebagai senjata psikologis, musik berkontribusi untuk membangkitkan patriotisme, moral, kekuatan, semangat, dan perasaan senasib. Maka otomatis, dengan berbagai fungsi tersebut, baik tentara pemusik maupun bukan, diharuskan menghafal puluhan kode komando lewat musik.

Untuk kedua fungsi tersebut, Yunani dan Romawi bahkan sejak lama telah menggunakan musik dalam urusan kemiliteran mereka. Lewat alat tiup logam (brass) dan perkusi, mereka menyampaikan informasi kepada pasukan, baik di lapangan maupun di perkemahan.

Bahkan tentara Yunani menyewa pemusik untuk mengiringi puisi atau memainkan lagu patriotik yang menceritakan keberanian pahlawan-pahlawan tempo dulu. Pun China memanfaatkan musik ketika perang melawan Korea pada 1950-1953. Kala itu, China kekurangan alat komunikasi modern seperti radio.

Regimental Band

Regimental Band
Gamba hanya ilustrasi

Regimental Band adalah elemen terpenting dalam kemiliteran, pada perang saudara AS, sehingga berada dalam stuktur organisasi kemiliteran.

Baik kubu Union maupun Konfederasi, sama-sama memiliki Regimental Band untuk bermain dalam parade, baris berbaris, atau pagelaran konser. Pada kubu Union, mungkin lebih ‘sadis’ lagi, setiap pasukan artileri maupun infanteri, memiliki Regimental Band yang beranggotakan 24 orang dan 16 orang untuk pasukan kavaleri.

Baca Juga Tumbuh di Era ‘Mimpi yang Sempurna’, ‘Kukatakan Dengan Indah’, dan ‘Langit Tak Mendengar’

Karena sedemikian pentingnya tentara pemusik, maka didirikanlah sebuah tempat pelatihan musik bagi para tentara di Governor’s Island, New York, bernama School of Practice for U.S.A. Field Musicians. Namun perhatian yang banyak terhadap musik, membuat pembiayaannya mengalami kesulitan.

Dilaporkan bahwa 26 dari 30 regu tentara dan 213 dari 465 relawan tentara, mempunyai Regimental Band. Ini berarti, ada 1 orang pemusik dalam 41 orang tentara!

Karena memakan biaya besar, pada 17 Juli 1862, di kubu Union, Kongres menghapus Regimental Band. Kongres hanya mengizinkan band pada tentara relawan, bukan pada tentara reguler. Sebagai gantinya, dibentuklah Brigade Band menggantikan Regimental Band. Aturannya, satu band untuk empat regu tentara.

Ada tiga alat musik yang paling dominan dalam Regimental maupun Brigade Band, yakni bugle, fife, dan drum. Bugle adalah alat tiup logam tanpa katup, cikal bakal trompet dan french horn. Sedang fife merupakan alat musik tiup kayu, yang pada perkembangannya menjadi piccolo (flute sopran). Dan drum, masih seperti yang ada pada hari ini.

Pemain drum memiliki fungsi mendasar pada regu tentara karena diperlukan untuk memangil prajurit dalam membentuk formasi, atau untuk tujuan lain seperti untuk tanda bangun di pagi hari, sebagai panggilan untuk memberi laporan, berkumpul, sampai penugasan tentara yang giliran berjaga.

Baca Juga Blackpink dan Revolusi Grup Musik Perempuan

Pada tentara Union, drum yang dipakai bergambar elang bersayap dengan bintang dan garis yang mengelilinginya. Sedang drum milik tentara Konfederasi hanya polos saja tanpa ornamen apapun. Di lapangan, fife adalah teman setia drum.

Dua Wajah Musik

Tentara Pemusik
Gambar hanya ilustrasi

Bukan sekedar bermusik yang menjadi tugas para tentara pemusik. Pada waktu dan situasi yang lain, mereka harus siap membantu sebagai tenaga medis dan juga turut bertempur. Maka tak heran, Abraham Lincoln, presiden AS ke-16, kepada George F. Root yang menulis “The First Gun Is Fired” sebagai lagu pertama yang diciptakan untuk perang, berkata begini, “Anda telah melakukan lebih daripada seratus jenderal dan seribu orator.”

Sejarah umat manusia telah mengukir kenyataan bahwa perang dan musik adalah dua hal dalam satu tujuan, yaitu, kemenangan. Sebuah kenyataan yang kadang pahit, marah, dan melukai, tapi sekaligus manis, gembira, dan intim.

Ia (musik) hadir dalam dua wajah paradoksal: sebagai sebuah kekacauan sekaligus keindahan yang masing-masing menyediakan ruang kontradiktif di dalamnya. Sebuah peristiwa sejarah berikut akan menjelaskan betapa musik, setidaknya, ialah elemen maha penting dalam sebuah peperangan.

Musim salju 1862-1863 di Fredericksburg, Virginia. Pasukan Union dan Konfederasi berkemah di lokasi yang berdekatan dengan Rappahannock River sebagai pemisah. Di suatu siang yang dingin, untuk menyemangati pasukannya, kubu Union memainkan musik yang kemudian direspon oleh kubu Konfederasi hingga terjadi balas membalas. Dan terjadilah sebuah duel yang indah.

Duel ini diakhiri oleh sebuah lagu yang dimainkan bersama oleh kedua kubu yang sama-sama merindukan kampung halamannya, yang sama-sama berhadapan pada kenyataan kemanusiaannya yang paling dasar, Home, Sweet Home:

Mid pleasures and Palaces though we may roam,

Be it ever so humble, there’s no place like home!

A charm from the skies seems to hallow us there,

Which seek through the world, is ne’er met with elsewhere.

Home! Home! sweet sweet Home!

There’s no place like Home! There’s no place like Home

Referensi:

http://americanrevwar.homestead.com/files/civwar/bands.html

http://hubpages.com/hub/Music-Of-The-Civil-War

http://en.wikipedia.org/wiki/Music_of_the_American_Civil_War

http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres01.html

http://memory.loc.gov/ammem/cwmhtml/cwmpres07.html

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.