Dilematika Ngomong ‘Lo-gue’ di Luar Jakarta

Dilematika-Ngomong-Lo-gue-di-luar-Jakarta

Dilematika Ngomong ‘Lo-gue’ di Luar Jakarta

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Dyas BP

Berkat sahabat-sahabat yang di Jakarta pula, saya pribadi banyak mendapat cara pandang yang terbuka.

Thexandria.com – Jakarta dikenal menjadi pusat peradaban masyarakat urban Indonesia. Sebagai kota terpadat di dalam negeri, Jakarta juga dihantui oleh permasalahan pelik yang seakan tak pernah usai. Banjir dan kesenjangan sosial contohnya.

Ada juga idiom satire soal Jakarta. Daerah-daerah lain di Indonesia, sering memandang bahwa banyak kebijakan dan ‘lampu-lampu sorot’ pemberitaan sering dan terlalu ‘Jakartasentris’—dikarenakan hal yang memang menumpuk jenuh di Jakarta.

Mau bicarain politik? Jakarta. Mau bicarain hukum? Jakarta. Mau bicarain ekonomi? Jakarta. Mau bicarain musik dan lifestyle? Jakarta. Mau bicarain Harun Masikhu dimana? Ya di Jakart—hanya Tuhan dan ‘mereka’ yang terlibat yang tahu.

Di negara lain, banyak yang menghindari pencampuradukan atau penumpukan pusat-pusat national interest-nya. Amerika, menjadikan Washinton DC sebagai pusat pemerintahan, New York pusat ekonomi, dan Los Angeles sebagai pusat dari peradaban kultur populer-nya.

Saya punya sedikit pengalaman bagaimana kultur populer di Jakarta sedikit banyak ‘meng-intervensi’ identitas primordial yang saya miliki. Kultur pop yang saya maksud adalah penggunaan kalimat panggilan ‘lo-gue’ di lingkungan pergaulan, baik di kampus ataupun di tempat kerja, tentu dalam konteks informalitas atau ala-ala tongkrongan.

Sebuah Tuntutan yang ‘Ter-doktrin’

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Peribahasa itu selalu relate dengan para perantau, untuk senantiasa menghormati norma dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat sekitar, tapi mungkin tidak untuk masyarakat urban Jakarta.

Di lingkungan yang serba hectic dan konsumtif, Jakarta banyak melahirkan mereka-mereka yang oportunis, sehingga dengan sendirinya—membenarkan slentingan, “elo elo, gue gue”. (red: masalahmu ya masalahmu, masalahku ya masalahku).

Tapi juga tidak semerta menjadi generalisasi yang sempit. Berkat sahabat-sahabat yang di Jakarta pula, saya pribadi banyak mendapat cara pandang yang terbuka.

Gambar hanya ilustrasi

Flashback ke 2014, sewaktu kuliah dulu, saya bertekad untuk tetap menggunakan kalimat sapaan, “aku-kamu” seperti halnya bahasa Indonesia yang benar dan lumrah digunakan di kota saya, Balikpapan, yang kebetulan memang tidak menggunakan bahasa daerah melainkan hanya bahasa Indonesia.

Lambat laun, saya mendapat pandangan ‘aneh’ dari sapaan yang saya gunakan. Tak lama kemudian, saya mengetahui bahwa ‘aku-kamu’ ternyata adalah sapaan yang digunakan untuk mereka yang memiliki hubungan khusus (pacaran/menikah). Saya mengerti akhirnya, mengapa saya sering mendapat pandangan aneh tersebut, terlebih dari teman-teman cowok.

Saya tak terlalu ambil pusing sebenarnya, sampai dimana saya bertanya pada seorang teman, “kamu udah ngerjain tugas, belum?”—“jangan aku kamu, deh, Doll, geli!”, baiklah, saya pun sebagaimana perantau lain di Jakarta, berusaha berimprovisasi dengan kultur sapaan, ‘lo gue’.

Karna bukan dalam rangka melancong sebulan dua bulan, melainkan belajar dalam waktu tahunan. Hakikat sapaan ‘lo-gue’ yang tadi saya bilang adalah simbol tongkrongan dan penegasan bahwa kita ‘sedang tidak having relationship with someone’, menjadi terpatri dalam alam bawah sadar. Itu artinya, sebaliknya malah ‘berbahaya’, menggunakan ‘aku-kamu’—yang merupakan kalimat sapaan umum di kota saya, menjadi sebuah problem yang dilematis.

Selepas di drop out, dan kembali ke kota Balikpapan, hakikat ‘lo-gue’ dan ‘aku-kamu’—yang tadi saya bilang, terpatri. Terbawa kemana-mana dan cukup sulit dihilangkan. Untuk minggu-minggu pertama mislanya, rasanya ‘aneh’ menggunakan ‘aku-kamu’ di tongkrongan, yang mengakibatkan saya di cap, ‘tengil’ dan ‘sok ke-Jakarta-an’.

Sedikit demi sedikit, saya lantas coba membentulkan kembali alam bawah sadar saya. Bahwa tak ada yang aneh menggunakan ‘aku kamu’ kepada teman cewek, ataupun cowok s-e-k-a-l-i-p-u-n.

Berselang beberapa tahun kemudian, hidup kembali menerbangkan saya di Jakarta, kali ini di lingkungan kerja. Saya juga ingat bagaimana atasan saya yang terlibat dalam adu argumentasi, kemudian agak lost control, hingga kalimat ‘saya’, berubah kembali menjadi ‘lo gue’. Dan itu juga terjadi terhadap saya ketika dihadapkan pada tensi yang tinggi dan ketidakmampuan saya mengontrol emosi. ‘Lo gue’ akan meluncur tanpa disadari. Magic memang doktrin ‘lo-gue’, ini.

Baca Juga: “Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy”

Yang menjadi point saya adalah, penggunaan kalimat sapaan ‘lo gue’, sebetulnya bukan karna keren-kerenan semata. Melainkan ‘doktrin’ yang menghendap dalam alam bawah sadar.

Sebaliknya, menjadi lucu dan tengil memang, kalau misal, cuma melancong semingguan di Jakarta dan pulang-pulang sudah ‘elo elo – gue gue’. Itu boleh saja dianggap tengil. Namun bila menetap dalam waktu cukup lama, percaya lah, sapaan ‘aku kamu’ akan menjadi cukup aneh ketika dipakai kembali di kota asal.

Ah, yang paling comfortable memang cuma pakai bahasa Jawa Timuran dengan kearifan ‘jancok’-nya. No. Debat.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.