Dialog Tertulis: Mengkalkulasi Gaya Hidup Dari Fisik yang Intens Pergi Ke Diskotek

Dialog Tertulis Mengkalkulasi Gaya Hidup Dari Fisik yang Intens Pergi Ke Diskotek

Dialog Tertulis: Mengkalkulasi Gaya Hidup Dari Fisik yang Intens Pergi Ke Diskotek

Penulis M Zein Al Hadad | Editor Rizaldi Dolly

Kata narasumber saya, ‘Naik’ adalah istilah lain dari ‘pergi ke diskotek’. Sebuah istilah yang mungkin hanya diketahui oleh lingkup pertemanannya saja. Terdengar aneh, tapi mengingat aktivitas di dalamnya seolah seperti menaiki anak tangga untuk mencapai ‘ketinggian’ atau teler. Istilah tersebut bisa sedikit dimaklumi. Saya akan banyak memakai istilah itu di tulisan ini.

___

Melangkah untuk sebuah pengalaman merasakan berada di dalam diskotek—yang jujur saja, saya merasa tidak enak hati untuk terus-terusan berada di keramaian hedonis, ditambah dengan tak ada hentinya suara musik yang begitu memekakkan telinga. Bagi anak rumahan doyan sendirian seperti saya ini, diskotek bukanlah suatu tempat yang bisa memberikan kenyamanan yang tulus.

Sama sekali tak ada kebanggaan yang mesti diperbincangkan di antara kita, jika kamu adalah termasuk pengunjung yang rajin, atau kamu adalah pemabuk yang suka menyesap sebotol Tequila sendirian tanpa metode lick-sip-suck. Semua itu hanya akan berakhir pada pertanyaan “Bagaimana” atau “Apa” yang kamu cari, dan yang ingin didapatkan.

Naik untuk menggembungkan tagihan kartu kredit, teler dan muntah angin di pojokan karena air di perut sudah habis, pulang sempoyongan lalu tertidur nyenyak, bagaimana? Dan apa yang sudah kamu dapatkan? Kualitas gaya hidup yang bisa kamu andalkan di kehidupan sehari-hari? Ya, mungkin itu jawaban alternatif. Saya tidak peduli.

Di sisi lain, saya tidak menyangkal bahwa banyaknya pelajaran yang saya dapat di sana. Pelajaran sepanjang cerpen, tapi tidak berlebihan seperti novel, juga tidak sependek naskah pidato.

Mungkin cukup, untuk kelak saya ceritakan kepada anak-anak saya, lalu di kemudian hari dijadikan bahan pembelajaran hidup. Supaya semestinya tak ada muncul rasa penasaran, dan yang lebih buruk: menginginkan.

Beragam stigma yang sejak purba bertengger di pikiran masyarakat mengenai hiruk pikuk pergaulan bebas dunia gemerlap, agaknya sedikit memunculkan kesan tendensi untuk ‘melebih-lebihkan’ supaya ‘menakut-nakuti’ dengan berbicara “Awas!”—jika mereka tak pernah benar-benar melihat, mengalami dan merasakan. Sebab selalu ada pembeda dari setiap orang per orang, waktu ke waktu, dan berbagai tempat.

Memang sudah sepatutnya semua berpulang pada penilaian masing-masing orang, namun, mengaitkan hal ini pada ‘moral’ akan dirasa-rasa sangat tidak adil selama tak ada ‘mereka’ yang mengganggu ‘siapa’ di luar area tersebut.

Generalisasi moral pada tingkatan tertentu, serta “Awas!” yang menyingkirkan ‘edukasi’, ketakutan muncul berbarengan dengan rasa penasaran. Maka kesimpulan akan selalu bertajuk “Menyeimbangkan kehidupan”. Klise dan tak ada pembenahan.

___

Untuk di awal, aku minta kejujuran kamu perihal pertanyaan ini. Nggak perlu dilebih-lebihkan untuk dipandang, atau dikurang-kurangi untuk merendah. Nggak akan ada yang peduli. Dari kisaran 50-100, 100-200, 200-300, di kisaran yang mana jumlah kamu pergi ke diskotek dari awal sampai sekarang?

“Kisaran 100 ke atas, nggak lebih dari 200.”

Dari pengalamanmu ‘naik’ sebanyak itu, apa sih yang bisa kamu bagikan untuk pembaca Thexandria?

“Banyak banget ya, tapi semoga aku bisa memilih yang penting-penting aja. Mungkin, jawabanku bakal berputar-putar atau keluar jalur, kamu bisa merapikannya nanti?”

Bisa.

“Oke, begini. Anggap aja aku sedang bicara sama kamu.

Akan ada masanya seorang pelayan datang membawa kertas tagihan, kemudian seorang gay yang sudah memantau dari jauh, datang untuk menggodamu—melakukan basa-basi yang basi semacam joget-joget kepanasan di hadapanmu, nggak lama kemudian, dia mengambil dan melihat jumlah total pembayaranmu, lantas membanting bill itu ke atas meja dengan kuat.

Mengira kamu miskin, dilihat dari secarik ‘kertas tagihan yang bukan segalanya’ itu. Kamu membuang muka, dan malu setengah mati sudah dihina seorang gay.

Ada dua kemungkinan; pertama, kamu bodo-amat-in, toh dia nggak akan pernah tau berapa saldo di rekeningmu yang sebenarnya. Kedua, kamu terpancing dan langsung membeli mulutnya. Kamu termasuk pengunjung yang tolol, kalau sampai melakukan yang kedua.

Lagi. Akan ada masanya kamu menyewa seorang wanita penghibur untuk menemani, yang semula duduk tenteram bersamamu dengan anggukan kecilnya mengikuti tempo musik yang cepat, lantas kemudian memasang wajah panik. “Aku lupa malam ini temanya ‘pantai’.” Katanya.

Kamu melirik pakaiannya dan benar saja, sengaja atau enggak sengajanya wanita itu, kamu cuma punya dua pilihan lagi. Membiarkannya dengan rumus pengalihan topik, atau justru menjaga ‘gengsi’ dengan membawanya ke toko baju.

Pada akhirnya, sadar nggak sadar, semua akan terpusat pada perkara ‘gaya hidup hedonis’ yang berorientasi pada kebebasan yang diselimuti oleh kesenangan.”

Sementara.

“Yap, sementara.”

Aku penasaran, dari pengalamanmu ‘naik’ sebanyak itu, apa sih yang kamu cari? 

“Nggak ada.”

Bohong.

“Di awal-awal, iya, aku nyari pengalaman. Tapi kalau sudah sebanyak ini? Apa yang mesti aku cari lagi?

Aku bisa kok teler di rumah pakai kombinasi anggur-bir-dingin, atau kalau bosan, nyoba minum Soju original campur Yakult. Aku bisa senang-senang hanya karena nonton konser, pergi nongkrong, atau traktir teman makan.

Jadi nggak melulu semua itu kudapat dari ‘naik’ doang. Makin ke sini, aku ‘naik’ cuma karena kepengin aja, bukan karena sebuah ‘kebutuhan’ untuk memuaskan gaya hidup yang… banyak anak muda yang ‘menyembahnya’.

Sudah ngerasa lewat dari batas pengalaman, sekarang aku lagi belajar baca situasi, membuka kepekaan terhadap sekitar. Bisa dibilang, yang aku cari bukan lagi kesenangan tapi lebih kompleks dari itu.”

Nah, berarti ada dong. Apa itu?

“Mencari bahan untuk bikin serumpun cerita nyata, buat siapa aja yang penasaran. Diambil dari banyak sudut pandang. Menurut kacamata pribadi, ‘dunia gemerlap malam’ yang identik dengan dunia bebas itu sudah sedemikian dibatasi kok, nggak bebas-bebas amat kayak di film-film semi barat.

Dan anggapan orang tua tentang, “Di sana tempatnya seks bebas, minuman keras, dan narkoba” bagiku itu ada benarnya, tapi berlebihan dan ada yang enggak tepat sasaran.

Mereka menyinggung suatu tempat nih, tapi mana ada sih orang mau ngewe di diskotek, ditonton banyak orang, disawer terus disemangatin gitu. Enggak ada  anjir. Mungkin kalau pernyataan mereka diganti jadi “Seks bebas bisa berawal dari tempat seperti itu, tetapi, eksekusinya di tempat lain”, nah aku setuju, tapi mungkin harus dipertegas soal ‘pribadi mana yang melakukan’.

Untuk narkoba, pihak kepolisian dibantu oleh BNN sudah sering banget ngambil dan ngumpulin sampel urine para pengunjung di tempat-tempat hiburan malam. Mereka cuma nggak tau aja, karena belum mengalami.”

Oke. Ganti alur ya.

Sorry banget, kali ini aku mau bahas sesuatu yang menyinggung privasimu. Perihal mengkalkulasi keuangan, boleh?

“Monggo, lur.”

Gaji per bulan?

“8 juta sekian,”

Insentif atau bonus lain? Jumlahnya?

“Lebih banyak dari gaji, dan yang selalu kupakai untuk ‘naik’. Ya, bisa lebih dan bisa kurang dari 20 jutaan. Kadang kalau ada proyek besar, di atas 50 juta bisa masuk kantong. Pernah sesekali-dua kali ‘naik’ pake duit tabungan, dan itu bahaya banget, kalau nggak ketakar, ya kelar.”

Selama ini, setiap kali mau ‘naik’, ada persiapan khusus nggak semacam beli baju atau celana atau sepatu sebelum masuk ke diskotek?

“Kebanyakan teman-teman yang kukenal begitu, tapi aku enggak. Mereka nggak pintar nakar. Begini, aku yang ngatur uangku, bukan uang yang ngatur aku.”

Siap.

Berapa total pengeluaran paling kecil selama berada di dalam diskotek?

“500 ribu sekian,”

Paling banyak?

“13 juta.”

Sendirian?

“Enggak. Waktu itu aku traktir 5 orang.”

Oh, oke.

Sebelum ‘naik’, selalu pesan kamar? Bawa cewek?

“Sedikit-banyak iya.”

Berapa total duit?

“Tergantung kamar, dan tergantung tingkatan sosial si cewek—termasuk long time atau short time. Pelik, lur, nggak berfaedah juga kalau kujelasin.”

Hmm.

Normalnya dalam sebulan, berapa kali ‘naik’? Dan jumlah pengeluarannya?

“5 sampai 6 kali. Rata-rata 7 sampai 9 juta. Nggak termasuk nyewa kamar dan lain-lain di luar diskotek.”

Terakhir. Hal-hal apa yang nggak banyak orang tau tentang dunia gemerlap malam?

“Mau yang bahaya atau yang aman-aman aja?”

Dari yang aman dulu deh.

“Cewek dan cowok, sebagian dari mereka ke sana cuma untuk panjat sosial, teler itu utama, tapi bukan yang paling utama. Juga sebagai ajang untuk unjuk taring, kebanyakan orang ingin dianggap berada di ‘kasta tertinggi’. Menurutku, nggak akan pernah ada taring yang paling tajam. Kalau pun ada, mungkin dia termasuk Crazy Rich Asians.

Wkwkwkwk, yang bahaya?

“A&/99janaopajdiwoj&oa&&002$-!$”

Note: bahaya banget, serius.

Baca Juga: Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.