Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian

Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Penulis Zein Lich | Editor Rizaldi Dolly

Sebelumnya, bersediakah kamu sekalian memasuki satu frekuensi dengan? saya dan juga satu narasumber yang ingin membagi kisahnya di tulisan ini? Satu frekuensi yang saya sebut asal-asalan; dialog tongkrongan. Yang merupakan dialog bebas dan peduli-setan-dengan-aturan. Agar nantinya tidak terjadi kegaduhan antara kamu dengan saya—yang disengaja atau tak disengaja.

Jika mau, mari mulai menyelami kata-kata, jika tidak—percayalah, saya hanya ingin kamu pergi, sebab saya akan menjadi lebih baik jika segala omong-kosong-terkonsep ini tidak diolah percuma oleh otak-otak-mini-berkapasitas-sedang.

Sekian.

***

Takdir adalah ketetapan, ketentuan, atau nasib yang utuh pada awal mulanya, namun setiap yang utuh, siapa yang tidak meyakini bahwa suatu saat akan dicerai-beraikan oleh nafsu ingkar; berwujud ketidakpuasan dan penolakan?

Saya mengambil contoh takdir jenis kelamin. Saya adalah seorang yang ditakdirkan menjadi laki-laki ganteng. Titik. Adalah ketetapan yang utuh dari-Nya, bolehkah saya menentang dengan cara mengubahnya? Jawaban ini, biarlah kalian yang memikirkan.

Kalau bisa, jawablah sepraktis dan semanusiawi mungkin, tak perlu melalui pendekatan saintifik yang memerlukan penalaran deduktif ataupun induktif (hanya) untuk melihat satu ‘fenomena umum’ semacam ini agar terciptanya suatu kesimpulan yang spesifik maupun yang bersifat ‘luas’. Terkesan mubazir dan buang-buang waktu.

Saya pribadi tidak mempermasalahkan, juga tidak berkeberatan dan tidak terlalu saya pikirkan, bahkan tidak peduli dengan perempuan jadi-jadian; laki-laki jadian, selama: saya tidak diganggu sampai merasa terganggu. Titik. Apakah sudah cukup jelas kenetralan saya?

Tepi terkadang, menjadi netral saja tidak cukup bisa menjanjikan sebuah keamanan. Apa lagi setelah salah satu kawan saya—yang merupakan seorang lesbian—mulai menanyakan ini, “Kamu enggak pingin nulis tentang LGBT, Cuy?” Saya tepuk dahi. Ingin menepuk mulutnya keras-keras tapi itu dapat dipidana dengan pasal kekerasan.

Meski hanya tulisan sederhana, manusia mana yang ingin bunuh diri dengan membahas isu sensitif macam itu jika jauh dari kata ‘berkompeten’ dan memiliki power? Jelas saya menolak.

“Gimana kalau kutulis dengan konsep lain?” Jawab saya yang setelah saya pikirkan baik-baik, bukanlah usaha yang cerdas untuk melarikan diri dari semacam ‘pembunuhan atas diri sendiri’.

“Apa itu?”

“Entah, nanti kupikirkan.”

Dua minggu kemudian, jadilah seperti ini.

Singkat-banget-cerita, saya menghubunginya melalui WhatsApp setelah menyiapkan banyak pertanyaan untuk dia jawab. Setelah melakukan negosiasi singkat seperti, “Kalau tulisannya sudah jadi, traktir aku amer.” Dia menjawab, “Bisa, asal enggak muntah di pinggir jalan lagi.” Itu menjadi semacam hinaan yang luar biasa mengena. Sialan.

Dan ini dialog kami;

Ceritain dong, dari umur berapa sih kamu sadar kalau kamu itu memiliki orientasi sexual yang berbeda, dalam kasus ini: kamu kepingin jadi laki-laki? Dan apa aja gejala-gejalanya?

“Bisa jadi, di umurku yang ke 10 tahun, aku udah ngerasa ada yang aneh, semacam, ‘Eh, anjir, itu cewek kok cantik banget ya.’ Dalam intensitas yang lumayan menggelikan, perlahan-lahan kata-kata itu berubah menjadi, ‘Kayaknya aku suka deh sama dia.’

Untuk gejalanya sendiri, seperti yang tadi kubilang, timbul perasaan suka yang menurut manusia normal pada umumnya adalah hal yang tabu, karena menyukai sesama jenis. Selain itu, aku merasa keren banget kalau pakai pakaian cowok dan berperilaku selayaknya cowok tulen.

Jelasnya, dari SD aku sudah suka sama cewek, dan puncaknya di kelas 2 SMP—awal aku pacaran sama cewek, kamu tau kan anaknya, Cuy?”

Note: itu benar, namanya—sebut saja Rafflesia.

Sebelum itu, pernah pacaran sama cowok?

“Pernah,”

Menurutmu ada perbedaan nggak antara pacaran sama cowok dengan pacaran sama cewek?

“Ya, ada dong, kamu ini bego atau gimana sih?”

Sedikit. Terus, sensasi pacaran sesama jenis itu kayak gimana?

“Aku lebih ngerasa hidup aja, sih, kayak, “Hmm, bangsat juga ya, cintaku ke dia berasa lebih hidup dan berwarna daripada ‘cinta’ yang bisa kuberikan untuk mantan-mantanku yang cowok.

Pun, rasa sakit hatinya juga beda. Aku ngerasa, lebih patah hati ditinggal satu cewek dibanding dicampakkan seribu cowok.”

Hmm, oke juga.

Lanjut, apa ketakutanmu setelah kamu memutuskan untuk mulai menerima orientasi sexual mu? Dan cara kamu mengatasi ketakutan-ketakutan itu?

“Yang utama dan yang paling penting ya, paling juga cemoohan dari orang-orang sekitar. Menurutmu, bangsat nggak sih, ketika orang lain sibuk dengan kata-kata, ‘Jadilah diri sendiri’ dan ketika aku berusaha jadi diri sendiri—dalam situasi ini, aku jadi cewek tomboi, mereka malah nge-judge dan ngejauhin aku?”

Iya, itu bangsat.

“Nah! Dan kamu tau apa yang aku lakuin untuk mengatasinya?”

Enggak.

“Dengan menyembunyikan jati diriku dan sebisa mungkin terlihat normal. Kamu nggak bakal tau sukarnya kayak gimana.”

Iya, nggak tau.

Kapan pertama kali kamu berani membuka identitasmu sebagai ‘lesbian’?

“Awal masuk SMA, mungkin,”

Oh, iya. Aku ingat waktu itu kamu potong rambut ala Onadio Leonardo, klimis-klimis nggak guna itu. Pertanyaannya, waktu itu kamu sudah enggak takut?

“Bisa dibilang begitu sih, karena waktu itu aku sudah banyak tau dan mengenal orang-orang yang memang enggak normal seperti aku. Mereka berani menunjukkannya semacam, “Hai semua, begini lho aku! Aku nggak normal! Kalian mau apa?”

Dari situ aku juga mulai mem-bodo-amatin anggapan-anggapan orang tentang aku. Ini kehidupanku, aku sembelit? Bukan mereka yang bantu ngeluarin tai-tai sialanku, tapi aku sendiri. Yang penting aku ngejalanin hari-hariku tanpa terbebani apa pun.”

Keluargamu ada yang tau?

“Nah itu, Cuy. Sampai sekarang aku masih enggak tau, mereka itu sadar apa enggak kalau aku ini ‘tidak senormal seperti apa yang mereka cita-citakan’. Tapi dulu, selama aku sering ngebawa Rafflesia ke rumah, mungkin aja mereka curiga, atau bisa jadi nggak ada kecurigaan yang mengkhawatirkan. Siapa yang tau?”

Masa sih? Sewaktu rambutmu bermodel rambut klimis Onadio Leonardo, apa tanggapan mereka?

“Ibuku adalah ibu yang paling-nggak-suka-cewek-berambut-pendek. Jadi setelah rambutku berubah seperti itu, beliau melemparku dengan botol air mineral yang masih terisi setengah sambil berkata, “Hei, kamu anak jadah! Rambut bagus-bagus kok dipotong mirip cowok!”

Setelah berhari-hari, ibuku sudah enggak pernah mempermasalahkan penampilanku lagi. Dan itu menjadi semacam lampu hijau buatku, jadi aku bebas berekspresi dan ber-lesbi ria.”

Oh, siap. Pernah digantung sama ibumu dan berhasil selamat nggak?

“…”

Oke.

Kalau boleh Flashback sebentar, cara kamu dapatin hatinya si Rafflesia itu kayak gimana?

“Pura-pura jadi cowok, awalnya. Dan ternyata dari awal dia sudah tau kalau sebenarnya aku itu cewek, cuma dia enggak mau terus terang.

Singkatnya, aku pernah tanya ini ke dia, ‘Eh, bangkai Rafflesia, di Jakarta gimana orang-orangnya? Banyak yang homo atau lesbi nggak, sih?’ Terus kamu tau apa jawabannya, cuy?”

Enggak.

“Dia jawab, ‘Di sini mah banyak, gue juga sempet jadi lesbi dulu.’

Note: apakah kita merasakan hal yang sama? Tentang itu, jawaban bunga bangkai rafflesia? Tidakkah kita mengira bahwa hal itu ‘sinetron banget’? Entah ini semacam takdir, atau apa, yang jelas… Wow!!!

Jelas aku kaget dong, Sutaryo! Nah, dari situ aku mulai jujur ke dia kalau aku ini cewek. Dia sedikit marah, bukan marah karena aku sebenarnya cewek, tapi perihal kejujuran. Dan setelahnya, dia mau terima aku apa adanya.”

Oke. Setelah sama Rafflesia, kira-kira berapa cewek yang sudah kamu pacarin?

“Lima, mungkin.”

Kalau boleh tau, bagaimana gaya kalian kalau bercinta?

“…”

Hmm, lanjut.

Kamu masih lesbi sampai sekarang?

“Masih.”

Kukira sudah jadi Hokage. Kalau gitu, ada nggak keinginan untuk…uhmmm… kembali kepada orientasi sexual perempuan kebanyakan? Straight.

“Pasti dan ingin banget.”

Mulai dari cara berdamai dengan diri sendiri dulu deh, kayak gimana?

“Ngikutin arus aja sih, Cuy. Dilemasin aja, soalnya aku pernah berjuang melawan arus dan itu nggak enak, mulutmu kemasukkan air perutmu masuk angin. Semakin kulawan semakin sakit pikiranku. Jadi jawabannya: mengikuti arus.”

Mengikuti arus selayaknya tai yang mengambang? Oke. Pernah nggak kepikiran semacam, “Aku nggak pingin terbawa arus, aku ingin jadi arusnya”?

“Pernah, kepikiran doang, tapi aku belum cukup keren untuk jadi semacam ‘arus’ seperti yang kamu maksud.”

Usaha-usaha apa aja yang sudah pernah kamu lakuin dalam way to straight?

“Kumpulin niat dan iman, cari gebetan cowok, ibadah, sama mengubah penampilanku.

Cuy, kukasih tau aja ya, untuk orang-orang sepertiku ini kalau sudah berniat dan berusaha jadi normal kembali, hanya ada tiga kemungkinan: pertama, menjadi normal, kedua, gagal, ketiga, jadi biseksual. Kamu tau aku yang mana?

Enggak.

“Biseksual.”

Ya, oke, hmm.

Pesan-pesan untuk teman-teman LGBT?

“Tuhan itu pengampun. Mintalah pengampunan dan pertolongan (hanya) pada-Nya.”

Terakhir, tanggapanmu tentang takdir?

“Sialan. Intinya aku adalah hamba yang kurang ajar—sudah berpikir ingin merubah takdir jenis kelaminku.”

Baca Juga: Memaknai Kebersamaan dalam Filter “Truth or Dare”

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.