Dialog Tertulis, Berbagi Perspektif dengan Pelakon Seks Bebas: Seberapa Penting Sexual Consent Baginya?

Dialog tertulis, berbagi perspektif dengan pelakon seks bebas seberapa penting sexual consent baginya

Penulis Zein Lich | Editor Rizaldi Dolly

Masing-masing dari mereka menilai bahwa—setelah mengetahui—sexual consent memang begitu penting

Thexandria.com – Sexual consent adalah persetujuan di antara kedua belah pihak untuk berhubungan seks. Sesederhana berucap, “Iya” atau “Tidak”, ketika diajak berhubungan badan. Tapi seperti yang kita semua ketahui: tidak semua orang bisa mengatakan kemauannya, entah karena takut atau ada dorongan lain.

Dan saya percaya, masing-masing dari kita punya formula tersendiri untuk melacak kata “Iya” atau “Tidak” yang sengaja disembunyikan dibalik kode-kode keras ala wanita. Sebuah formula yang bisa menghindarkan penggunanya dari perilaku ‘memaksa’.

“Melayani suami—dalam konteks bersetubuh—adalah kewajiban seorang istri. Jika ia menolak, ia akan dilaknat malaikat.”

Saya pernah membaca satu atau banyak komentar senada dengan kalimat di atas, ketika para pakar seks melalui medianya sedang membahas tentang hal tersebut, perihal benar atau tidaknya, “Ia akan dilaknat malaikat” saya tidak bisa menjawab.

Baca Juga: Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Tapi yang pasti, memanusiakan manusia adalah hal yang agung dan luar biasa baik. Dengan tidak memaksa wanita di saat ia sedang tidak ingin bercinta? Adalah salah satu cara dari sekian banyak cara memanusiakan manusia.

Saya pernah melihat kambing jantan sedang mengejar-ngejar kambing betina untuk disetubuhi, tampak sekali si betina sedang tidak ingin. Si jantan tetap memaksa, sampai akhirnya kelamin jahat itu masuk ke lubang yang dicita-citakannya.

Omong-omong, kita ini manusia, bukan kambing sangean. Kita punya akal rasional yang kambing dan anjing tak punya. Sekian.

***

Di dialog tertulis kali ini, saya tidak akan membahas tentang sexual consent dalam konteks pernikahan, karena saya belum menikah dan saya tidak bersedia mendebat ajaran agama yang sudah pasti—ada saja oknum-oknum yang akan terpancing dan tersenggol.

Saya tahu, jika ingin main aman, bahas saja tentang itu di lingkup seks bebas remaja era industri 4.0. Meski juga bukan ranah saya, beruntung sekali saya punya banyak kawan yang ahli di bidang perselangkangan.

Tanpa berniat memperpanjang narasi klise nan membosankan di atas, saya mulai saja dari sini:

Baca Juga Dialog Tertulis: Mengkalkulasi Gaya Hidup Dari Fisik yang Intens Pergi Ke Diskotek

Halo, gimana kabarmu hari ini?

“Super sekali.”

Oh, gt.

Bisakah kita mulai sekarang?

“Bisa.”

Kapan pertama kali having seks? Dan apa alasannya?

“Lulus SMA, ya sekitar umur 18.

Emang kalau ngeseks, ada alasan lain selain karena horny?”

Ya, ada dong.

“Misal?”

Misal: pada saat itu kamu seorang diri berbelanja obat pegal-pegal di salah satu warung gerobak pinggir jalan. Kamu bilang ke penjaga warung, “Mang, obat kuat dong.” Sebenarnya yang kamu maksud adalah obat kuat untuk mengurangi pegal-pegal, eh ternyata penjaga warung salah menafsirkannya.

Kamu diberi obat kuat untuk permainan di ranjang dan membawanya pulang tanpa sadar. Kamu meminum dan beberapa saat kemudian burungmu bangun keras sekali. Kamu berkata dalam hati, “Wow, aku sange sekali!” Lalu kamu menelepon kekasihmu dan berkata, “Sayang, aku siap melepas keperjakaanku.” Dan tamat.

“Oh. Fiksi sekali hidupmu.”

Baca Juga Mencuri Dengar Percakapan Orang Lain: Perkara Baik dan Buruk, Ternyata Bisa Segetir Ini

Iya, kok tau?

“…”

Kamu tipe pemuda safety yang kalau lagi bercinta pakai pengaman nggak?

“Enggak. Pernah dulu, sekali, baru berapa detik udah nggak nyaman. Sensasi ‘kulit ketemu kulit’ itu nggak bisa didapet kalau kamu pakai kondom, Cuy.”

Oke.

Nyesel nggak sudah begitu cepat melepas keperjakaan?

“Sampai sekarang enggak.”

Pertanyaan serius, nih. Ketika kamu lagi bercumbu, pernah ada sekelibatan pikiran muncul semacam: Tuhan sedang menontonmu dari atas?

“Emang Tuhan itu beneran ada?”

Aku harus jawab nggak nih?

“Enggak.”

Yowes.

Dari lulus SMA sampai sekarang—kalau dihitung-hitung, udah berapa kali bobo bareng cewek sambil ngeseks?

“Yaampun, haruskah aku menghitungnya? Anggap aja di atas 50 dan di bawah 100 kali.”

Wow! Udah berapa kali kena Raja Singa tuh?

“Sekali.”

Gimana gejala-gejala yang kamu rasain?

“Waktu itu, aku kepepet banget, Cuy. Lagi horny parah tapi belum ada pasangan, jadi aku download aja aplikasi **** dan nyari cewek BO di sana. Nah singkatnya, setelah aku main sama tuh cewek, aku baik-baik aja. Mungkin sebulan setelahnya baru aku ngerasain gejala-gejalanya.

Pertama, badanku lemes banget kayak nggak punya tulang, sambil ngerasa pegal-pegal di berbagai otot. Kedua, demam, dan parahnya sekitaran kelaminku panas banget gila, kayak diolesin balsem. Awalnya masih ngira kalau itu demam biasa, tapi setelah aku kencing—wah sial sih, keluar nanah anjir.”

Baca Juga The Other Side; Masuk List Close Friend Instagram Ukhti yang Melepas Hijab dan Hanya Memakai Tanktop

Ew.

Sembuhnya gimana?

“Ke rumah sakit, terus disuntik antibiotik di bokong. Kelar.”

Oke, cukup mengerikan.

Pernah maksa cewek ngajak ngeseks nggak? Berapa kali?

“Yang namanya nafsu itu kan susah untuk dilawan ya, Cuy? Berhubung aku tipe cowok sangean yang nggak bisa banget ngontrol hal itu, dan lagi, aku nggak sudi main tangan pake sabun, ya mau nggak mau cewekku harus mau kalau aku ajak.

Tapi aku jarang maksa, karena selama ini aku memang nyari cewek yang juga satu frekuensi. Jadi jawabnya kurang lebih lima kali.”

Setelah adegan pemaksaan dan percumbuan berakhir, apa yang cewek itu katakan?

“Dia enggak bilang apa-apa, cuma langsung rebahan aja. Karena emang sudah sama-sama capek ya kami langsung tidur.”

Berpengaruh nggak sih di hubungan kalian setelah kamu sempat memaksa?

“Banget, dan kentara betul. Hari-hari setelahnya aku sadar dia agak ngejauh dari aku, yang awalnya komunikasi kami baik jadi berantakan. Enggak ada penjelasan spesifik dari mulutnya tentang hal itu sih, tapi aku tau aja kalau dia ngerasa terganggu sama apa yang sudah aku lakuin kemarin-kemarin. Dan setelahnya, kami putus.”

Dari kondisi psikologis cewek itu, terganggukah?

“Enggak pernah nyari tau. Kan udah lost contact.”

Oke. Pernah denger atau udah paham apa itu sexual consent?

“Pernah dengar sekilas, tapi nggak pernah nyari tau. Bisa jelaskan?”

Adalah persetujuan dari kedua belah pihak untuk melakukan hubungan seks. Having sex without consent? Bisa mengarah ke sex-related trauma, dan itu sama aja kamu perkosa dia.

Tau nggak dampak lain dari having sex without consent selain hubungan jadi renggang?

Baca Juga Teriak-teriak Soal Feminisme Biar Keliatan Edgy: Sebuah Logical Fallacy

“Enggak.”

Dari hasil risetku, aku cuma dapat beberapa poin: kecemasan ekstrem, flashback, mimpi buruk, dan tidak menutup kemungkinan akan mengalami gangguan jiwa lainnya. Dan siapa yang tau kalau setelah itu mereka akan berbuat yang enggak-enggak?

Setelah tau itu semua, seberapa penting sih, sexual consent bagi kamu?

“Aku nggak pintar menjelaskan, tapi kalau boleh dipersentasekan, jawabannya 80% penting.”

Sisanya kemana?

“20% adalah nafsuku.”

Note: sebenarnya saya melakukan dialog bersama 3 orang narasumber—berbeda latar belakang, dan tidak saling mengenal—yang setelah saya telisik, jawaban mereka kurang lebih sama seperti apa yang sudah tertulis di atas; melepas keperjakaan di sekitaran usia 18, pernah terkena Sifilis dengan gejala yang hampir sama, punya prinsip hidup semacam “Pacaran tanpa ngeseks, adalah kebodohan yang disengaja”, pernah memaksa dan belum terlalu paham perihal sexual consent beserta dampak-dampaknya.

Masing-masing dari mereka menilai bahwa—setelah mengetahui—sexual consent memang begitu penting, tapi seberapa penting pun hal itu—mereka yakin bahwa hawa nafsu yang tak terukur sangat bisa mengaburkan segalanya.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.