Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Di ‘Pluto’, Gue Sirna Sebelum Sempurna

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Buat gue, Bumi adalah tempat di mana raga kita berdua berada, bersama milyaran manusia lainya. Namun sebanyak apa pun jumlah Homo Sapiens, rationya tetap kalah dibanding bintang-bintang yang bertebaran di antariksa. Menyadarkan gue, kalau manusia adalah kumpulan debu yang jiwanya mudah terbang seperti abu.

Kadang gue berpikir, kalau Kehidupan seringkali berjalan secara matematis, kalkulasi demi kalkulasi memotret kaki-kaki manusia. Celakalah kita; manusia, yang andai saja Tuhan yang ‘bersemayam’ di atas arsy tidak mempertemukan lagi Adam dan Hawa di Jabal Nur, di waktu abad pukul 0, ketika cinta masih berusaha menemukan bentuk dan telaganya sendiri. Lalu cinta bermetafora, dari sebuah ketetapan, menjadi sebuah abstraksi yang paling sunyi; yang paling sendiri. Karena boleh jadi, cinta adalah sebuah pelukan dari belakang. Dekapan yang hangat, meski yang dipeluk menggenggam tangan yang lain.

Cinta bisa saja menjadi yang paling tidak perduli, meski kini dan nanti, ia ditempatkan di tempat yang terjauh di Galaksi Bimasakti, lalu terbuang, terlupa tanpa melupa.

Biar gue perjelas ini sekali lagi. Gue sedang bermain analogi, analogi kosmologi. Adalah saat pertama kali gue dan perempuan yang gue suka beradu tatap, tatapannya yang kala itu menghancurkan jiwa dan gue lihat rembulan mekar purnama di bola matanya yang bulat. Kemudian gue ber-analogi, jika gue bumi? Maka segenap dirinya adalah bulan yang mengitari. Sepenting itu, apa jadinya bumi tanpa malam? Apa jadinya gue tanpa tulang rusuk yang menggenapkan? Yang sialnya, sekaligus menentramkan?

Singkat cerita, kita mulai memainkan peran ini, hari demi hari kita arungi seperti siklus malam dan pagi. Dan bila malam menjelang, matahari remuk dalam pelukan gue yang kuat. Seketika dunia terbenam, rembulan terbit dari tatapannya yang pekat.

“Selamat datang. Selamat mengorbit di kehidupan gue, yang takkan mengenal malam andai lo pergi.”

Karna mau bagaimana lagi? Gue sedang bermain analogi, analogi kosmologi.

NAMUN…

Ternyata gue salah. Gue bukan bumi, sementara lo tetap rembulan yang memekar, purnama tanpa sadar. Ternyata gue bukan bumi yang lo pilih untuk diputari. Secara pelan dan sistematik, gue berangsur sadar kalau kemungkinan yang gue dapat adalah, ditasbihkan sebagai– Pluto.

Pluto yang terbuang, yang kini terlalu jauh untuk bisa sekali saja lo terangi. Lo kitari. Barangkali, Di sana ada seseorang yang menurut lo lebih pantas menjadi bumi. Seseorang yang tubuhnya seperti ombak samudra yang perkasa. Yang tatapannya teduh seperti awan-awan menghalau terik matahari. Kemudian dengan sekejap, lo tunjukan bulan di mata lo yang sudah pasti memikat. Gue… terbuang entah di ratusan juta tahun cahaya yang ke berapa. Gue putus asa. Titik tanpa sempat koma.

Disatu waktu gue berjalan sendirian. Menapaki tempat gue sekarang, menghayati peran gue yang setengah hati gue mainkan. Pluto yang kelam. Pluto yang malang. Di saat langkah gue mulai gontai kehabisan tenaga, gue menemukan sebuah telaga yang ternyata bisa menghapus dahaga. Gue pikir, NASA tidak akan menyangka, di sebuah planet kecil yang mereka coret dari daftar planetarium yang mendiami galaksi ini, terdapat sebuah telaga luas yang airnya tenang. Sunyi.

Baca Juga: Manusia Kepala Pohon

Di pinggir telaga, terdapat sebuah prasasti, di tengahnya terdapat ukiran huruf yang tidak gue mengerti, tapi batin gue memahami. Tertulis begini,

DI SINI ADALAH TEMPAT DI MANA CINTA MENJADI CINTA YANG SEUTUHNYA. CINTA YANG TAK MENGHARAP SUATU TIMBAL BALIK. TIDAK TERPERANGKAP DALAM FRASA KEBERSAMAAN YANG FANA. NAMUN TERIKAT DALAM DIMENSI YANG SEMPURNA. TAK LEKANG, HINGGA NANTI IZRAFIL MENIUPKAN SANGKAKALA.

DISINI, DI TELAGA INI. CINTA AKAN DIBIARKAN MERENUNGI CINTANYA SENDIRI. KARNA CINTA ADALAH SEBUAH PELUKAN DARI BELAKANG. DEKAPAN YANG HANGAT, MESKI YANG DIPELUK MENGGENGGAM TANGAN YANG LAIN.

Abad pukul 0, Telaga Sunyi, Pluto

Seberapa naif gue sekarang? Berpikir kalau gue adalah satu-satunya laki-laki yang paling malang? Bukanya cinta selalu klise, varian tentang cinta yang tak terbalas bukan sekedar milik satu atau dua orang. Melainkan tema besar yang acapkali dipilih bagi insan-insan yang tertaut kasmaran yang menyebalkan.

Gue? Hanya segelintir kecil, Atau mungkin gue yang baru tersadar? Kalau semua orang, berpotensi menjadi Pluto-pluto yang lain?

Di ‘pluto’, gue sirna sebelum sempurna.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.