Di Pijar Batas yang Tenang (Sebab-musabab Keterpisahan) Kita Ada untuk Gugur

Kita Ada Untuk Gugur

Di Pijar Batas yang Tenang (Sebab-musabab Keterpisahan) Kita Ada untuk Gugur

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Menjelang petang berpulang. Di suatu sore yang diujung batas langit sedang temaram-temaramnya. Ayat-ayat Tuhan menggema dari sebuah mushola sederhana.

Adakah peringatan sampai kepada kita yang rapuh? Seutas tali menjuntai dari kasihNya, “Pulanglah kalau lelah.”

Tapi kutepis setatapan angkuh memenuhi renjana berkacakan intan. Adakah kita mengerti bahwa siklus hidup boleh jadi adalah kebosanan di tengah senda gurau menertawakan apa-apa yang terlupa? Adakah kekasih?

Deretan kapal mengapung mengikuti rima ombak yang begitu tenang. Diatasnya ada setitik mendung yang numpang lewat. Disekelilingnya ada kita yang mengumpat-ngumpat. Melompat-lompat. Bermuka lipat. Tersapu nikmat. Memudar cepat. Dan tamat.

Kadang kita cuma ingin terlupa sesaat. Semisal subuh yang dilumat kantuk lalu di siang kita terbangun menatap langit kamar lamat-lamat.

Dia ingin menjadi, aku ingin menjadi, mereka akan menjadi, kita akan menjadi, sepilas kenangan yang diingat menjelang tidur di larut malam yang pekat.

Dan terimakasih Martianti, Dee, Chairil, Nazriel, Mei, Aditya, Legaspia, Xandria, Tamaela, Hutagalung, Dea, Ana, Aldemar, Borno, Chyntia, Rama, Luna, Jakarta, Tuban, Jogja, Dago, Neng geulis berkerudung merah, anak kecil merapi, mas-mas teman selama di bus Jakarta-Madiun, gunung panderman, kota Batu yang dingin, UMM yang menolak, dan sabit yang terang, padahal masih petang.

Kini lampu jalanan berpendar, beberapa diantaranya tertutup daun-daun pepohonan. Di tahun ini, semua terasa begitu cepat. Usia kian menua, jantung mulai bosan, dan hanya tembakau ini yang tak mau pergi.

Perkara apa dan siapa memanggil nama, andai saja pukul 7 ini dunia kiamat, sudah tentu aku lebih memilih mematung menerima ketiadaan. Adakah kita bersedih atau takut, kasih?

Belum pernah sebelumnya, sebuah karakter dalam buku memberontak memulai sebuah revolusi. Mereka ingin hidup! Padahal kehidupan seringkali brengsek bagi kita yang menginjak kawanan semut. Ya, kita semua.

Dan satu diantara sepuluh manusia, sedang gamang memutuskan apa yang lebih baik, tali temali kah? Racun kah? Pisau kah? Atau memandang horizon sebelum lompat meninggalkan yang sudah-sudah?

Pernah ada satu masa dimana kaki tak mau berjalan, tangan tak mau menggenggam, dan mata enggan membuka tabir. Sekuntum mawar bernoda hitam kemerah-merahan terjatuh di tengah anak tangga yang melingkar.

Hey Jude, don’t be afraid, take a sad song, and make it better. Lalu ia tumbuh menjadi flamoboyan yang tertutup. Tak mengapa, setidaknya Mcartney melakukan hal yang benar.

Pernah di suatu siang, seorang perempuan membayangkan konsep keabadian. Ia menarik telunjuknya seperti sebuah bolpoin, menggaris satu meter udara, seperti diagonal. Ditengahnya ia tempelkan senyum terbaiknya, katanya, Tuhan berada tepat disenyumannya.

Terjadilah sebuah titik balik dari kemuraman yang habis meletus. Memang benar, habis gelap, terbitlah terang. Sehabis letusan, larva yang mengering membuat tanah menjadi subur, sudahkah kita paham dengan analogi yang baru saja saya ucapkan?

Kini langkah kakinya ringan. Ia menjinjing sebuah ransel berisikan setumpuk surat cinta yang lalu-lalu. Dari si A yang katanya akan selalu bertahan. Dari si B yang katanya luluh karna tatapan. Dari si C yang katanya setia sampai maut memisahkan. Dan dari si Z yang tak berkata apa-apa, hanya selembar kertas kosong lagi usang berantakan.

Bagai bunga, harum nafasnya yang terasa, dipenuhi kerindangan, ia menyatu dengan ribuan daun yang berguguran. Setatapan itu membumbung ikhlas. Ia sudah tau harus apa dan kemana.

Baca Juga: Emotional Healing; Luka Batin, Luka, dan Luka

Dengan tabah ia menunggu angin, agar menjatuhkannya dari batang-batang kehidupan. Sudah genap perjalanannya. Ia hanya perlu menyatu, menjadi daun ke-1001 yang gugur tanpa dendam.

Kadang saya terlalu terbata-bata untuk bertutur penuh jujur. Mungkin itu sebabnya, Tuhan meminta saya melakukan ini semua. Menulis sebelum tiada.

Dan kamu, kekasih, cukuplah diam menopang dagu mendengarkan, semacam tujuh tangga nada, ber-elaborasi menghasilkan irama-irama.

Jangan salah, kasih. Sebuah cerita ada untuk menjadi teman perjalanan. Sebab apa lacur, hari ini hidup, besok kita buta tentang bersyukur.

Dan kamu, kekasih, cerita apa yang kau bekalkan padaku hari ini?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.