Di Danau UI Akseyna “Berpulang”, Pembunuhnya Belum Ditemukan

Di Danau UI Akseyna Berpulang, Pembunuhnya Belum Ditemukan

Di Danau UI Akseyna “Berpulang”, Pembunuhnya Belum Ditemukan

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

“Will not return ……..

please don’t search for existence

My apoligize for everything”

Thexandria.com – Hari itu UI sedang hujan. Seorang mayat ditemukan di danau UI. Beberapa hari kemudian, polisi mengkonfirmasi, bahwa korban bernama Akseyna Ahad Dori, seorang mahasiswa S1 Jurusan Biologi, FMIPA UI.

Di awal kasus mencuatnya kematian Akseyna, ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa almarhum kemungkinan mengalami depresi, akibat tidak mengikuti kejuaraan olimpiade nasional, yang mana sebelumnya, almarhum menjuarai olimpiade di tingkat regionalnya.

Belum lagi, ditambah dengan ditemukannya sebuah memo (red: surat) yang berisi pesan seolah-olah memang Akseyna memang sedang “berpamitan”, seperti halnya pada kasus-kasus bunuh diri yang lain.

Baca Juga Nyarinya Bertahun-tahun, Tuntutannya ‘Cuma’ Setahun: Hukum Gini Amat, Bre!

Namun, keluarga beserta teman-teman dekat Akseyna meragukan bahwa almarhum bunuh diri.

Dari hasil otopsi pun, juga ditemukan beberapa luka lebam di wajah, dan tas yang Akseyna kenakan berisi bebatuan.

Situasi seolah bergerak cepat, Kepolisian menyatakan bahwa kasus kematian Akseyna adalah pembunuhan.

Kasus Akseyna pun segera menghiasi layar kaca, publik menunggu, siapa gerangan pelaku yang tega melakukan perbuatan keji ini pada mahasiswa cerdas bernama lengkap Akseyna Ahad Dori.

Banyak sekali kejanggalan pada kasus kematian Akseyna, misalnya, ada seorang teman Akseyna yang masuk ke kamar kost nya dan sempat mengutak-ngatik laptop almarhum. Kemudian, bila seseorang ingin melakukan bunuh diri, maka memilih memasukan batu kedalam tas dan menenggelamkan diri didalam danau adalah cara yang tidak lazim. Dimana, orang yang melakukan bunuh diri, biasanya cenderung melakukannya lebih cepat, bukan dengan memasukan batu ke dalam tas dan menenggelamkan diri di danau.

Tak sampai disitu, kejanggalan yang lain pun muncul menyingkap tabir.

Ada juga dugaan bahwa Akseyna diseret dalam keadaan pingsan sebelum ditenggelamkan kedalam danau, yang dimana juga ditemukan sobekan pada sepatu yang dipakai korban.

Baca Juga Misteri Kematian Dubes China untuk Israel, Operasi Pembunuhan oleh Intelijen?

Kejanggalan Surat “Wasiat” Akseyna

Banyak spekulasi bermunculan tentang siapa sebenarnya pelaku pembunuhan Akseyna. Di banyak lini media masa ataupun di percakapan diskusi daring, Kaskus dan Twitter misalnya.

Masyarakat banyak yang berpikiran bahwa kemungkinan pelaku adalah orang yang cerdas.

Hal ini bisa dikaitkan dengan penemuan seorang Penganalisis tulisan tangan (grafolog) dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi, yang dari hasil investigasinya, ia menyatakan surat wasiat Akseyna dibuat oleh dua orang. Surat itu ditulis oleh Akseyna dan orang lain.

Setelah melakukan proses analisa dengan dokumen asli dari pihak kepolisian, melalui pembesaran mikroskopik 200x Deborah menemukan bahwa tulisan tangan dalam surat tersebut milik 2 orang.

Menurutnya ada indikator grafis yang menunjukkan bukti bahwa tulisan tangan di “surat wasiat” tersebut dibuat oleh 2 orang. Pada bagian pertama ditulis oleh Akseyna dan di bagian revisi oleh orang lain.

Tulisan tangan bagian pertama identik dengan tulisan tangan almarhum (asli), sementara ada bagian tulisan tangan dan tanda tangan yang dibuat oleh orang lain. Bagian yang ditulis oleh orang lain adalah bagian yang direvisi berikut penambahannya (not, for eternity, existence) dan tanda tangan. Benar-benar janggal.

Baca Juga Stop Kekerasan Pada Anak!

Menurut tulisan Al-Mosaiwi di The Conversation, “People with depression use language differently – here’s how to spot it” (2018), yang kami kutip dari Kumparan, isi dan gaya bahasa yang biasa digunakan oleh penderita depresi membentuk ciri khas language of depression. Dari segi isi, penderita depresi akan mengekspresikan lebih banyak emosi negatif dan menggunakan lebih banyak kata ganti pertama dibandingkan kata ganti ketiga. Akan tetapi, pada memo yang ditemukan di kamar kos Akseyna, tidak ditemukan emosi negatif dan bahkan tidak ditemukan penggunaan kata ganti satu pun.

Begini isi surat “wasiat” dari almarhum Akseyna.

“Will not return ……..

please don’t search for existence

My apoligize for everything”

Isi pesan ini, diyakini tidak menggambarkan seseorang yang depresi, dan cenderung tenang.

Belum lagi ditambah banyaknya orang, yang dalam artian terdapat beberapa orang teman Akseyna yang masuk kekamar kost almarhum, saat jenazah belum ditemukan dan keluarga sedang berusaha menghubungi/mencari keberadaan Akseyna.

Baca Juga Dialog Tertulis dengan Seorang Lesbian: Cara Menerima Orientasi Sexual dan Kontradiksi Nurani

Berikut keterangan lengkap dari keluarga korban dari web ayah Akseyna, Mardoto.com :

Keluarga Mardoto sangat tidak meyakini apa yang selama ini disebut sebagai “surat” Akseyna ditulis oleh Akseyna. Hal ini didasarkan pada sejumlah bukti formal/prosedural dan material, yaitu:

Banyak orang yang telah masuk kamar Akseyna sebelum polisi melakukan penyelidikan. Dalam kurun waktu sejak orangtua kontak terakhir dengan Akseyna pada Sabtu, 21 Maret 2015, setidak-tidaknya selama 4 hari sejak jenazah ditemukan di Danau Kenanga UI pada Kamis, 26 Maret 2015 hingga Mardoto memastikan bahwa jenazah tersebut adalah Akseyna pada Senin 30 Maret 2015 sekitar pukul 17.30 WIB, telah banyak orang telah memasuki kamar Akseyna. Hal ini telah mendahului kegiatan penyelidikan polisi yang baru dimulai pada 30 Maret 2015 sekitar pukul 18.30 WIB.

Di antaranya adalah beberapa teman Akseyna yang mendatangi kamar Akseyna beberapa kali. Bahkan, ada teman Akseyna yang masuk ke dalam kamar dan menginap di kamar tersebut (Minggu 29 Maret 2015 malam). Padahal, tidak ada satu pun keluarga Akseyna yang pernah meminta atau menyuruh siapapun untuk masuk bahkan menginap di kamar Akseyna.

Tante Akseyna yang datang untuk mencari atau mengecek keberadaan Minggu 29 Maret 2015 siang juga tidak masuk ke kamar Akseyna yang saat itu kondisinya terkunci. Tante Akseyna juga tidak ditawari oleh penjaga kos untuk masuk dan mengecek ke kamar Akseyna.

Dengan banyaknya orang yang telah masuk ke kamar Akseyna, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa di antara orang-orang tersebut tidak melakukan tindakan/upaya apa-apa, termasuk terkait dengan keberadaan/pemunculan apa yang dikatakan sebagai “surat” Akseyna.

Baca Juga Thread Samparrrrr Si Predator Seksual dan #MalangDaruratPredator: Betul, Buka Saja Identitas Para Penjahat Kelamin ke Publik!

Kedua, ibu Akseyna berhasil menelepon HP Akseyna yang aktif pada Minggu 29 Maret 2015 malam. Ibu sempat bicara dengan penerima HP tersebut yang mengaku sebagai teman Akseyna dan yang bersangkutan menyebutkan bahwa ia berada di dalam kamar Akseyna.

Keberadaan yang bersangkutan di kamar Akseyna dilakukannya bukan karena permintaan dari orangtua Akseyna.

Beberapa orang yang dikatakan sebagai teman Akseyna juga berada di dalam kamar Akseyna pada Senin, 30 maret 2015 hingga polisi mulai masuk melakukan penyelidikan ke kamar kos Akseyna pada hari yang sama sekitar pukul 18.30 WIB, setelah Mardoto mengkonfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan di Danau Kenanga UI tersebut adalah Akseyna. Saat polisi tiba, kamar sudah dalam kondisi berantakan. HP dan laptop Akseyna sudah diakses atau diotak-atik, koper berisi barang-barang dan baju juga telah terbuka, buku-buku dan perlengkapan lain di meja belajar sudah berserakan.

Kondisi ini memungkinkan banyak hal terjadi di dalam kamar Akseyna, termasuk kemungkinan berubahnya bentuk, letak, dan kondisi barang-barang yang seharusnya bisa menjadi barang bukti, termasuk pemunculan ‘surat’ Akseyna.

Ketiga, tidak ada informasi penemuan surat dari teman Akseyna dalam percakapan telepon Minggu, 29 Maret 2015 malam. Hari Minggu 29 Maret 2015 sekitar pukul 21.00 WIB, SMS Ibu Akseyna yang dikirim ke HP Akseyna siang hari setelah Tante Akseyna menyampaikan informasi Akseyna tidak ada di tempat kos, yang sebelumnya pending, tiba-tiba terkirim. Secepatnya, ibu Akseyna langsung menelepon HP Akseyna dan diterima oleh teman Akseyna.

Teman Akseyna tersebut mengatakan bahwa ia berada di dalam kamar Ackseyn. Pada saat percakapan via telepon tersebut, dia tidak pernah menyebutkan adanya penemuan ‘surat’ Akseyna.

Nalarnya, apabila sejak awal ‘surat’ tersebut sudah ada di kamar Ace, maka bila ia masuk dan berada di kamar Akesyna, seharusnya sudah langsung bisa menemukan atau melihat atau membaca surat tersebut lalu menginformasikannya pada orangtua yang sedang mencari keberadaan Akesyna.

Baca Juga Gondrong Bukan Kriminal Melainkan Sebuah Sikap

Keempat, Senin 30 Maret 2015 siang tiba-tiba muncul informasi penemuan ‘surat’ Akseyna. Hari itu juga sekitar pukul 15.30 WIB, ibu Akseyna kembali mencoba menelepon HP Akseyna, terdengar nada masuk tetapi tidak diangkat. Selanjutnya ibu Ace menelepon penjaga kos Akseyna dan menanyakan kabar Akseyna. Penjaga kost menyampaikan bahwa Akseyna belum pulang dan menyatakan bahwa ada banyak teman Akseyna yang berada di kamar Ace sedang mengakses laptop Akseyna yang katanya banyak dipasang password.

Selanjutnya Ibu Akseyna melalui penjaga kost meminta agar ada teman Akseyna menerima hubungan telepon ibu Akseyna lewat HP Akseyna karena ingin menanyakan keadaan Akseyna. Pada saat ditelepon, teman Akseyna menyebutkan bahwa ia sedang di dalam kamar Akseyna bersama beberapa teman lain. Pada saat itu teman Akseyna menyampaikan bahwa barang-barang Akseyna berupa laptop, HP dan dompet ada di dalam kamar. Padahal saat Minggu 29 Maret 2015 malam saat komunikasi dengan keluarga Akseyna tidak diinformasikan hal tersebut. Teman Akseyna juga menyampaikan jaket atau jamper semua ada di kos kecuali yang berwarna biru tua yang ada tulisan Universitas Indonesia. Mardoto heran dengan detilnya barang-barang yang disampaikan teman Akseyna tersebut.

Saat itu pula teman Akseyna menyampaikan bila dia menemukan secarik kertas dengan tulisan yang dikatakannya tulisan Akseyna namun tidak menyampaikan secara pasti apa isinya. Bahkan ketika ibu Akseyna meminta membacakan tulisan itu teman Akseyna tersebut hanya bilang intinya Akseyna pergi. Pada sisi lain, pada waktu tersebut Ayah Akseyna belum memastikan bahwa jenazah yang ditemukan di Danau Kenanga UI adalah Akseyna.

Kelima, pada foto ‘surat’ yang tersebar berbentuk tempelan di dinding. Pada banyak media, foto atau capture ‘surat’ yang tersebar berbentuk foto ‘surat’ yang tertempel paku di dinding. Hal ini memunculkan pertanyaan sekaligus kecurigaan oleh keluarga Akseyna, dari mana dan siapa yang menyebarkan foto tersebut, karena yang didapatkan penyidik atau polisi adalah ‘surat’ berbentuk lembaran yang diserahkan oleh Ayah Akseyna.

Baca Juga: Pangeran Muhammad bin Salman; Dugaan Dalang Pembunuhan Jurnalis Jammal Khashoggi, Penangkapan Para Pangeran dan Kegelisahan dengan Nubuat Akhir Zaman

Penyebaran foto ‘surat’ yang tertempel di dinding pasti memiliki motif yang tendensius untuk membuat berkembangnya opini bahwa ‘surat’ tersebut memang tertempel di dinding kamar kost Akseyna. Padahal, belum ada pihak yang bisa memastikan bahwa ‘surat’ tersebut benar-benar tertempel di dinding kamar kos Akseyna, karena bukan polisi yang mendapatkannya.

Atas keganjilan-keganjilan itu, maka keluarga keberatan dengan istilah ‘surat wasiat’ Akseyna. ‘Surat’ Ace cenderung membangun opini bahwa ‘surat itu seakan-akan memang ditulis oleh Akseyna.

Mardoto menyebut, jika ditelisik, bentuk tulisan dan tanda tangan Akseyna di ‘surat’ tersebut berbeda. Pertama, pada kata for. Ada tiga kata for di ‘surat’ tersebut dan ketiganya memiliki bentuk berbeda. Orang awam pun bisa melihat kejanggalan ini dengan jelas. Kedua, tulisan existence dan beberapa kata lainnya memiliki bentuk atau kemiringan huruf yang sangat mencolok perbedaannya dengan huruf-huruf pada kata-kata yang lain juga. Ketiga, jarak spasi antar satu kata dengan kata lainnya berbeda-beda dan tidak beraturan. Keempat, tanda tangan di ‘surat’ tersebut sangat tidak mirip dengan tanda tangan Ace di KTP yang reguler maupun yang e-KTP. Kelima, tata bahasa ‘surat’ dalam bahasa Inggris itu tidak beraturan.

Keluarga mengenal Akseyna memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik karena sudah terbiasa membaca jurnal ilmiah berbahasa Inggris, novel-novel bahasa Inggris dan menonton film-film berbahasa Inggris tanpa subtitle. Bahkan sewaktu di SMP saja sudah memperoleh TOEFL 433.

Desa-desus dan Harapan

Kini misteri kasus pembunuhan Akseyna belum terungkap secara utuh. Pelaku masih bebas berkeliaran. Tanpa terasa, waktu sudah berjalan 5 tahun dari semenjak kematian Akseyna pada tahun 2015.

Saya sendiri, jujur saja setiap tahun, minimal dua kali, selalu mengetik kata “perkembangan kasus Akseyna” di laman pencarian google.

Baca Juga Kalian Mungkin Bukan Atheis, Barangkali Hanya Malas Ibadah

Dari setiap penelusuran saya, saya selalu dibuat terhenyak dengan desas-desus adanya dugaan kaitan antara kematian Akseyna dengan komunitas edukasi LGBT dikalangan UI.

Yang bagaimanapun, desas-desus tersebut memang tidak atau belum bisa dipertanggungjawabkan, karna bersumber dari diskusi di forum kaskus.

Tanpa bermaksud menuduh, namun semestinya, hal ini juga patut ditelusuri kebenarannya. Karna bisa jadi ini dapat menjadi bukti baru. Terlebih, Kepolisian tengah kembali menyelidiki kasus kematian Akseyna.

Terakhir, kami juga yang termasuk sangat berharap dan menunggu, pelaku dapat segera tertangkap. Sehingga keluarga korban dapat menemukan titik terang. Mari kita luangkan waktu sejenak, untuk mengirim doa kepada almarhum Akseyna, agar tenang disisi Tuhan Yang Maha Esa.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.