Derana

Derana

Oleh Firdaus Guritno

Ujung Rajut Bunga Krisan

ujung itu dirajutnya dengan terkaan perihal perpisahan…
dimana komunitas pagi tak lagi merutinitas hari…
setelah terkejar mimpi, dan hari esok mulai tak sama lagi…

ujung itu menyulamkan sepenggal makna waktu…
bilamana tergores di sebagian sisi milikmu…
sudah tak bisa berputar sebagaimana debu…

dan bila ukiran kalimat selamat datang tlah tergugur dari papan pengumuman…
bukan berarti semua tak bisa kembali,
terlebih saat saat bersama kalian disini…

sedikit kepercayaan sanggup menjungkirkan masa depan,
sebagian di antaranya bisa menuliskan keajaiban,
namun ketakutanku tak sanggup mengubah jalur perpisahan…

kita semua banyak tahu bahwa kursi ini bukan hanya milikku…
di tepian jingkatnya sempat duduk badan besarmu, waktu…
kita bercanda selagi kurcaci lain mencampakkan kertas ulangannya…
sedangkan kecewa terlapang lintang kala ujian mencapai titik nadirnya…

sebagai orang bijak, aku mesti akan berkata…
kebersamaan kita adalah gambar berwarna dan perpisahan sebagai bingkainya…
kelak kan kau pajang di samping jendela rumah kita sambil menerawangi fakta bahwa masa lalu hadir untuk menyusun mimpimu sebelum terlampir…

namun orang bijakpun juga pasti akan kecewa…
bila dia tahu yang akan ditinggalkannya adalah ayat-ayat kependidikan mulia, pikiran-pikiran belia, kausalitas cinta, perbandingan antara kesempurnaan yang tertata, penghargaan batin, terpuasnya nurani tuk mencairkan bekunya jati diri, dan pijakan untuk memulai mimpi…

yang terbajak oleh waktu hanya kebersamaan denganmu…
yang tercuri oleh masa hanya canda tawa kita…
karna ahli sejarah sudah siap merajut makna…
membuat hari ini sebagai histori untuk kita padatkan bersama…

Jingga untuk Bara Api

bara api suatu saat akan padam…

di saat itu takkan ada siang yang lebih terang daripada sebatang lilin yang hampir tenggelam…

betapa tulusnya sang waktu mematutmu hingga tiada pernah terusir malam tanpa munajat,

untuk kehadiran hujan yang kan membasahi sisipan hati,

tempat tinggal sang kebaikan yang begitu malu untuk mengucap salam atasku…

seakan jarak berjuta kali waktu tidak menghantamkan panggilan kedamaian,

yang menaungi hanya sekadarku tuk berdiri hingga aku yakin hidup adalah arti untuk kau sisipi sendiri di dalam hati…

aku tak sadar bahwa ketidakrelaan hanya memendungkan raga, padahal…

saat sang mendung melepas jiwa…
maka balutannya adalah seruan kedamaian…
maka rangsangnya adalah celoteh keceriaan…
maka selaputnya adalah senandung kemesraan…

saat sang mendung melepas jiwa…
maka perangkapnya adalah penghapus kemunafikan…
maka hasudnya adalah peluruh ketiadaan…
maka tirunya adalah penggugur kekhawatiran…

saat sang mendung melepas jiwa…
maka teriaknya adalah panggilan kebahagiaan…

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.