Dampak Corona di Indonesia Menyebabkan Kita Mengalami Turbulensi Social Distancing, yang Paling Jago Adalah Kaum LDR

Dampak Corona di Indonesia Menyebabkan Kita Mengalami Turbulensi Social Distancing, yang Paling Jago Adalah Kaum LDR

Dampak Corona di Indonesia Menyebabkan Kita Mengalami Turbulensi Social Distancing, yang Paling Jago Adalah Kaum LDR

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Sebelum kita memulai tulisan kali ini. Kami ingin menodong anda dengan sebuah tuduhan, bahwa beberapa diantara kita, ada yang menyambut diliburkannya segala aktivitas selama dua pekan, telah memberi sebagian daripada kita secercah kebahagiaan. Ngaku enggak?

Maaf, kami kadang suka lupa, kalau tuduhan lebih kejam dari perselingkuhan. Apasih!

Enggak lah ya, yang pasti, wabah corona telah menumbuhkan sebagian duka kita bagi dunia dan bangsa Indonesia pada khususnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan pengumuman bahwa virus corona telah ditetapkan sebagai wabah virus berkategori pandemi, virus yang mewabah secara luas dan menembus batas-batas wilayah negara. Artinya, sekarang bukan hanya China yang berusaha melawan corona, namun kita semua, iya kita, termasuk kamu, kamu, iya bener, kamu!

Untuk wilayah Asia Tenggara sendiri, Indonesia termasuk yang telat terpapar penyebaran virus corona dibanding para tetangganya seperti Malaysia dan Singapura.

Kita tentu dibuat enggak terkejut-kejut banget dengan pengumuman suspect corona pertama di Depok, karna memang, WHO dan sebagian kalangan sedari awal telah curiga dengan perkembangan virus corona di Indonesia.

Yang bikin terkejut sebenarnya adalah presentase kenaikkan pasien virus corona. Dimana per-hari ini, pasien corona telah menyentuh angka 134 orang, yang dimana juga telah menimbulkan beberapa tudingan kepada pemerintah, seperti misalnya, pemerintah Indonesia terkesan masih cukup tertutup dengan laporan pasien corona. Pemerintah pusat dinilai lamban dalam menyikapi virus corona di Indonesia.

Pemerintah sempat mementingkan lajur investasi ketimbang kewaspadaan terhadap corona. Dan berita baiknya, penyebaran corona di Indonesia sedikit banyak telah memporak-poranda-kan kesantuy-an masyarakat kita, virus corona telah mampu “memaksa” kaum rebahan agar lebih rajin mencuci tangan, memakai masker—kemudian lanjut rebahan lagi.

Dengan terus bertambahnya jumlah pasien corona, bahkan Menteri Perhubungan dilaporkan juga positif terkena corona–Presiden Jokowi, telah memberikan instruksi agar masyarakat Indonesia mengurangi aktivitas diluar dan menjalankan segala kesibukan dari rumah–yang otomatis di respon dengan memberlakukan kerja remote bagi karyawan, baik swasta maupun PNS, serta meliburkan seluruh kegiatan belajar mengajar di hampir seluruh institusi pendidikan–yang semuanya diberlakukan selama dua minggu.

Sejauh ini, kami melihat kerenggangan aktivitas sosial belum terlalu masif. Namun sebagian orang meyakini, bahwa dalam pekan depan, sosial distancing akan terasa dalam dinamika kehidupan sosial.

Segala aktivitas penting seperti meeting mulai dilakukan melalui komunikasi jarak jauh, para bos mungkin mulai tengah khawatir dengan terjadinya social distancing ini, yang dimana memiliki imbas terhadap produktivitas kantor.

Dan mungkin juga, para bos bisa kita berikan beberapa advice, seperti,

“Jarak dapat menimbulkan percikan rindu yang kuat, sekarang bayangkan, dalam dua minggu karyawan anda akan merindukan keriuhan kantor, julid teman kantor, deadline, bahkan mereka akan merindukan dikala anda marah-marah. Lalu setelah dua pekan enggak ngantor, mereka akan kembali bekerja dengan daya produktifitas yang jauh lebih tinggi.”, bagaimana? Itu enggak ngawur, kok, kami memberikan pandangan dengan berkaca pada kaum LDR.

Baca Juga: Apa yang Kita haha-hihi-kan Sebelumnya, Soal Indonesia “Kebal” dari Corona Akhirnya Kejadian; Dua WNI Positif Corona

Kaum LDR (red: pasangan muda-mudi yang raganya dipisahkan oleh jarak, dan video call adalah tempat bagi mereka menumpahkan segala ke-uwu-an) adalah mereka yang paling enggak ambil pusing soal social distancing.

Karena jauh sebelum negara api menyerang virus corona datang, ketidakhadiran raga adalah sebuah keharusan yang telah dimaklumi bersama.

Terakhir, kami termasuk yang agak setuju soal desakan pemberlakuan lock down bagi kota-kota yang paling banyak memiliki pasien corona.

Bukan gimana-gimana, tapi Indonesia seyogyanya dapat mengambil pelajaran dari Italia, Korsel, Iran dan China, yang tega enggak tega, perduli setan soal investasi dan turis, memberlakukan lock down guna mengedepankan kesehatan waganya di atas segala-galanya.

Ohiya sedikit intermezo, China yang dimana telah mampu menekan penyebaran virus corona di negaranya, sekarang enggak mau dianggap menjadi biang dari penyebaran virus pandemi ini, alih-alih menyikapi dengan tenang, China kini malah terjebak dalam perspektif heroisme.

China menganggap bahwa merekalah pahlawan yang dapat menumpas corona, sementara biang keladinya, China menunjuk militer Amerika Serikat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.