Cerita Tentang Lemari dan Perempuan yang Rajin Menangis di Dalamnya

Cerita Tentang Lemari dan Perempuan yang Rajin Menangis di Dalamnya

Cerita Tentang Lemari dan Perempuan yang Rajin Menangis di Dalamnya

Penulis Zein_lich | Editor Rizaldi Dolly

Aku ingin bercerita, tapi aku tidak mengerti bahasa manusia, jadi aku sangat bersyukur karena sore tadi—ketika aku berjalan-jalan ke dimensi lain—aku bertemu dengan pemuda sombong dengan pohon rimbun yang menyembul keluar dari dalam lehernya, aku mengatakan dia sombong karena dia selalu mengacungkan jari tengahnya ke segala titik pusat terlahirnya berbagai macam kebodohan-kebodohan.

Bahkan jika aku hitung-hitung, dia sudah memberiku jari tengahnya sebanyak berpuluh kali hanya karena dia merasa asing dengan bahasaku: bahasa benda.

Meskipun pemuda itu tak punya mulut, dan hanya mengandalkan tangannya untuk berbicara—semacam bahasa isyarat bagi manusia, sedangkan aku hanya mengandalkan ritme ketukan dari frekuensi kompleks yang kasat nalar—tapi entah kenapa aku dan dia bisa saling memahami apa yang masing-masing kami bicarakan.

Aku rasa dia bukan benar-benar manusia, lagipula, manusia mana yang bisa masuk ke dimensi kami: dimensi benda?

Pertemuan itu diawali dengan lambaian tangannya, tak hanya lambaian: dia melempariku dengan batu. Note penulis: jangan salah paham, aku tak punya mulut dan dia tak punya kuping, jadi begitulah caraku memanggil lemari itu, memangnya mau gimana lagi?

Aku baik-baik saja, karena aku tidak bisa sakit. Sebenarnya, aku ingin membalas lambaiannya, tapi aku tak punya tangan, berjalan saja aku harus melayang. Jadi aku tanya saja ke dia, kenapa dia melempariku dengan batu? Dia menjawab, “Kamu lemari yang seksi, jadi aku tertarik untuk menggodamu.”

Cih! Dasar manusia!

Aku dan dia mulai berkenalan. Note penulis lagi: pembukaan cerita ini sudah lumayan panjang, aku malas bertele-tele, jadi aku membuang yang tidak penting dan memasukkan yang penting saja. Omong-omong, lemari itu betulan seksi lho!!!!!

Setelah banyak mengobrol dan mendapatkan kesempatan untuk menceritakan sebuah kisah, dia mulai menunjukkan ketertarikannya pada kisahku, dan dia berkata, “Di dimensi manusia, aku kenal seseorang yang punya… Emm, gimana ya menjelaskannya…

Begini, kau tak akan mengerti, jadi, intinya dia punya rumah baca untuk manusia-manusia yang rajin membaca, dan kalau kamu mau kisahmu berada di sana, aku bisa menuliskannya untukmu, gimana?” Tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan, kapan lagi aku bisa menunjukkan eksistensi kami—kaum benda mati—ke ruang dimensi manusia? Kurasa, sebentar lagi aku akan menjadi benda mati paling berpengaruh sepanjang sejarah diciptakannya benda-benda!

Jadi, beginilah cerita yang akan aku kisahkan, semoga manusia kepala pohon itu bisa dipercaya.

Aku tinggal di sebuah kamar kecil yang kotor dengan satu orang yang menempatinya. Dia perempuan, setelah dianalisa manusia kepala pohon, kemungkinan dia berumur 27 tahun dan masih sendiri. Dia benar-benar sendiri bahkan selama berpuluh tahun hidupnya—aku tak pernah sekali saja melihat manusia lain masuk ke kamarnya.

Sekian lama kuperhatikan, dia gemar membanting pintu kamarnya setelah beberapa lama meninggalkan kamar, dengan matanya yang meruahkan rintik air; dia berbaring di tempat tidur yang tak luput dengan tangisannya.

Dia juga suka berteriak, aku tahu dia berteriak dari pergerakan bibir dan garis kerutan di mukanya, tapi sayangnya aku tak paham apa yang dia sampaikan kepada langit-langit kamar.

Perempuan itu suka menari menghadap bagian tubuhku yang memiliki cermin, dan ketika dia menari, tatapannya kosong sembari terus menatapku. Meskipun aku benda mati, aku bisa merasakan auranya: hitam dengan sedikit kemerahan pekat.

Jadi jika kusimpulkan, mungkin saja dia adalah manusia yang sudah mencapai batasnya, atau, jauh melampaui batasnya dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Seakan-akan tak ada gairah hidupnya yang terpancar dari auranya selama ini.

Terkadang aku merasa ngeri, jika aku memiliki bulu seperti halnya dengan manusia, dapat kupastikan bulu-bulu itu akan berdiri secara permanen—selama masih ada perempuan itu di kamar ini.

Terkadang lagi, aku bisa dibuat gila olehnya, sebab bagaimana aku bisa tenang ketika ada seorang perempuan menangis dan berteriak dan memukul-mukul cerminku, kemudian mengurung dirinya sendiri di dalamku selama semalam penuh?!

Sedang aku bukan tempat tidur ternyaman bagi manusia-manusia pada umumnya, dan itu memang jauh sekali dari kegunaanku. Perempuan itu benar-benar terjaga dan terus-terus saja menangis sembari memeluk kedua kakinya, meskipun keberadaannya disesakkan oleh pakaian-pakaiannya sendiri.

Pernah sesekali aku menyesal, kenapa manusia itu—yang menciptakanku dahulu, tak mau memberiku mulut atau tangan, atau apa saja yang bisa kugunakan untuk menenangkan perempuan itu. Bukan aku merasa kasihan—aku pun tak diciptakan memiliki hati, hanya saja aku merasa tidak tenang. Itu saja.

Di kamar ini kamu bisa melihat beberapa ukiran bercat hitam di dinding, tepat di depanku, lagi-lagi aku tak mengerti apa maksudnya ini:

A-P-A-I-N-I-H-A-R-I-Y-A-N-G-T-E-P-A-T-?

A-K-U-T-A-K-U-T-S-E-G-A-L-A-N-Y-A-J-I-K-A-H-A-R-U-S-S-E-K-A-R-A-N-G-!

Ukiran yang selama ini dia pandangi lekat-lekat sebelum waktunya tertidur. Biasanya, dia seolah ingin menghapus bagian-bagian dari ukiran itu dengan cat yang sama-sama hitam, tapi belakangan ini dia selalu mengurungkannya, sampai tiba masanya dia benar-benar melakukannya. Kejadiannya kemarin, dan lebih baik alur cerita ini kuarahkan sedikit ke belakang.

Pagi itu dia terbangun di jam 1 siang, malamnya dia begadang di meja tulisnya untuk menulis sesuatu yang aku dan teman-teman sebangsaku tidak mengerti apa yang dituliskannya, bahkan buku itu sendiri.

Dia terbangun dan langsung masuk ke kolong ranjangnya tanpa aba-aba, sepersekian menit kemudian perempuan itu muncul kembali dari balik kolong ranjang dengan membawa sebilah pisau dan satu buah revolver berwarna coklat tua.

Dua benda yang masih asing bagiku. Kurasa benda-benda itu hanya setia bersembunyi di dalam persembunyiannya selama ini.

Perempuan itu duduk dari ranjangnya menghadap cerminku, kali ini pandangannya berisi, sangat berisi, bisa juga dibilang setajam pisau yang dia genggam erat di tangan kanannya. Dia bukan menatapku, melainkan refleksi dari dirinya sendiri.

Dia tersenyum sesekali—adalah senyum pertama yang kulihat, juga senyum terakhir yang akan kuingat baik-baik. Dia menangis kebanyakan, namun kali ini tanpa suara; tanpa terisak-isak. Dia, perempuan itu, mengiris pergelangan tangannya dan menggunakan darahnya yang meruah deras itu untuk mencoret bagian-bagian ukiran di atasnya.

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Darah itu terlampau banyak sehingga sanggup menutupi apa yang dia kehendaki, dan menyisakan apa yang juga dia kehendaki.

I-N-I-H-A-R-I-Y-A-N-G-T-E-P-A-T

Lalu dengan tergopoh-gopoh dan mata sayu yang segan untuk terbuka, dia melangkah mendekat dan melesat masuk ke dalamku. Tidak memerlukan waktu lama, dia mengarahkan revolver itu di dada sebelah kirinya.

Dia

Perempuan itu

Mati

Di dalamku

Tanpa

Aku

Tahu

Sebabnya.

Dia, perempuan itu, melepaskan hidupnya dengan tidak terburu-buru, akulah saksi dari waktu yang ditunggu-tunggu, untuk datang; menjemput dan memetik yang seharusnya mati. Dan akulah saksi, dari betapa waktu itu tak kunjung bertemu, dengan kekasihnya yang lama menahan rindu.

Ternyata lemari bisa puitis.

Perihal nasibku sekarang, aku pasrahkan kepada manusia saja, apa aku akan dibuang atau dihancurkan, atau diasingkan, atau…

…karena lemari itu seksi dan mayat di dalamnya sudah diambil polisi, aku mengambilnya dengan semacam teleportasi antar dimensi. Berharap hantu perempuan itu akan menggentayangiku. Soalnya aku penasaran dengannya, siapa tahu dia bisa memberitahu apa yang telah dia tulis di buku itu. Tapi sampai sini, aku masih bingung harus kasihan dengan siapa. Sekian.

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.