Candi Sambisari Sejarah Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia

Candi Sambisari Sejarah Kekayaan Budaya Bangsa Indonesia

Candi Sambisari Sejarah Kekayaan Budaya Indonesia

Penulis Zain Sinjay | Fotografer Erce Ramadani

Indonesia adalah Negara yang kaya akan sejarah dan budaya, dengan alam yang indah gemah ripah loh jinawi. Indonesia yang dulunya disebut sebagai Nusantara kini masih berusaha berkembang menjadi Negara yang maju, besar, dan kokoh. Dan baiknya kita sebagai generasi sekarang untuk melestarikan kekayaan budaya Indoneisia.

Menuju sebuah kota di pulau Jawa. Sebuah kota yang kaya akan sejarah dan budaya yakni Yogyakarta. Tepatnya di Sleman Yogyakarta. Melihat langsung Candi Sambisari yang merupakan salah satu bukti sejarah tentang kekayaan budaya Indonesia yang terdapat di kota ini.

Bangunan utama Candi Sambisari
Bangunan Utama Candi Sambisari

Candi Sambisari ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari dan dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut. Candi Sambisari Sejarah Kekayaan Budaya Indonesia pada mulanya terkubur oleh tanah yang diduga diakibatkan oleh letusan besar gunung merapi pada abad ke-11.

Letusan dahsyat tersebut mengakibatkan terkuburnya Candi Sambisari yang kini berada di 6.5 meter di bawah permukaan tanah. Butuh waktu 30 tahun lamanya penggalian yang dilakukan untuk menyingkap kembali pesona candi tersebut.

Salah satu dari tiga Candi Perwara (pendamping)
Salah satu dari tiga Candi Perwara (pendamping)

Dengan dikelilingi oleh pagar batu, kompleks Candi Sambisari mempunyai candi utama didampingi oleh tiga candi perwara (pendamping).

Candi Sambisari dikelilingi pagar batu
Kompleks Candi Sambisari dikelilingi pagar batu

Di dalam bilik utama candi utama terdapat Lingga dan Yoni yang cukup besar. Keberadaan Lingga dan Yoni ini menegaskan bahwa candi ini dipakai sebagai pemujaan Dewa Syiwa. Keluar dari bangunan candi utama, di sisi barat kamu akan dapat melihat ketiga candi pendamping.

Pintu masuk ke bagian dalam candi utama
Pintu masuk ke bagian dalam candi utama

Pada bagian luar dinding candi utama terdapat relung yang berisi arca (patung). Di sisi utara terdapat arca Dewi Durga yang merupakan istri dari Dewa Syiwa, dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Lalu di sisi timur terdapat arca Ganesha dan di sisi selatannya terdapat arca Agastya dengan tasbih yang dikalungkan di lehernya.

Durga

Durga menurut kepercayaan umat Hindu adalah shakti Siwa. Dalam agama Hindu, Dewi Durga (atau Betari Durga) adalah ibu dari Dewa Ganesa ,Dewa Kumara (Kartikeya) Ashokasundari Dan Dewa Kala. Ia kadang kala disebut Uma atau Parwati.

Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu. Candi Sambisari Sejarah Kekayaan Budaya Indonesia

Di Nusantara, Dewi Durga cukup dikenal pula. Candi Prambanan di Jawa Tengah, misalkan juga dipersembahkan kepada Dewi ini. Dewi Durga adalah Dewi yang sangat cantik dan pemberani, Beliau juga dikenal sebagai Mahisasura Mardini yang artinya penakluk asura. Bagi yang melakukan pemujaan pada dewi ini akan mendapatkan perlindungan dari sang Dewi.

Ganesha

Patung Ganesha pada bagian timur
Patung Ganesha pada bagian timur

Ganesha dalah salah satu dewa terkenal dan banyak dipuja oleh umat Hindu, yang memiliki gelar sebagai Dewa pengetahuan dan kecerdasan, Dewa pelindung, Dewa penolak bala/bencana dan Dewa kebijaksanaan. Meskipun ia dikenal memiliki banyak atribut, kepalanya yang berbentuk gajah membuatnya mudah untuk dikenali.

Ganesa mahsyur sebagai “Pengusir segala rintangan” dan lebih umum dikenal sebagai “Dewa saat memulai pekerjaan” dan “Dewa segala rintangan” (Wignesa, Wigneswara), “Pelindung seni dan ilmu pengetahuan”, dan “Dewa kecerdasan dan kebijaksanaan”. Ia dihormati saat memulai suatu upacara dan dipanggil sebagai pelindung/pemantau tulisan saat keperluan menulis dalam upacara.

Agastya

Patung Agastya pada bagian selatan
Patung Agastya pada bagian selatan

Agastya oleh karena kebesaran dan kesucian Maha Rsi Agastya, maka juga disebut Batara Guru sebagai perwujudan Siwa di dunia mengajarkan dharma. Di dalam sejarah agama Hindu di Indonesia, Maha Rsi Agastya disucikan namanya dalam prasasti-prasasti dan kesusastraaan-kesusastraan kuno. Resi Agastya adalah sangat terkenal jasa-jasanya. Menurut pustaka Purana dan Mahabharata, dia lahir di Kasi (Benares) sebagai penganut Siwa yang taat.

Yang terdahulu sekali menyebut namanya ialah Prasasti Dinoyo di Jawa Timur tahun Saka 682 di mana seorang raja bernama Gajayana membuat pura suci yang sangat indah untuk Maha Rsi Agastya dengan maksud untuk memohon kekuatan suci untuk mengatasi kekuatan yang gelap.

Baca Juga: Santai Sore dan Mengabadikan Sekawanan Monyet

Tak kalah dengan para wisatawan lainnya. Saya berkeliling menyusuri jejak sejarah di dinding candi Sambisari yang terdapat arca-arca berupa, arca Dewi Durga, arca Ganesha, hingga arca Agastya. Selain itu ada juga Lingga dan Yoni di dalam bilik candi utama.

Seakan terhipnotis menikmati keindahan candi Sambisari sembari bersantai, tak terasa matahari telah bergulir dan siap untuk terbenam dalam sejengkal waktu.

Akhir kata saya berpesan agar kegiatan vandalisme atau pengerusakan seperti mencorat-coret atau bahkan mengukir nama di kompleks Candi Sambisari adalah perbuatan terlarang. Serta jangan pernah meninggalkan sampah sembarangan ya! termasuk di tempat manapun kita berkunjung.

Mari bersama-sama kita jaga peninggalan sejarah kejayaan peradaban masa lalu Indonesia kita tercinta yang kaya akan Budayanya.

Sumber Foto: Erce Ramadani

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.