Buzzer Blunder dengan Narasi Fitnah; Bentuk Kebuntuan atau Kedunguan?

Buzzer Blunder Bintang Emon

Buzzer Blunder dengan Narasi Fitnah; Bentuk Kebuntuan atau Kedunguan?

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Pasal 27 ayat 3 UU ITE tentang pencemaran nama baik dalam media elektronik akan menjadi ‘kado’ yang tepat bagi para buzzer atas perbuatan mereka (seharusnya).

Thexandria.com – Penetapan hukuman bagi tersangka penyiraman air keras kepada Novel Baswedan dihujani kritik. Masyarakat dan warganet berbondong-bondong mempertanyakan tuntutan yang dianggap tidak setimpal dengan perbuatan tersangka. Salah satu yang menyuarakan ketimpangan itu adalah Bintang Emon, seorang Standup Comedian nasional. Lewat gaya komedinya yang santai, kelakar yang dihadirkan meraih atensi besar dan menjustifikasi bahwa banyak kejanggalan dalam kasus tersebut.

Kritik dengan gaya komedi tersebut justru lebih mudah diterima publik, yang kemudian menciptakan aksi responsif dari pihak (yang mungkin) tersindir.

Diketahui setelah memposting konten kritikan tersebut Bintang Emon mendapatkan banyak ancaman dari pihak tidak dikenal. Mulai dari pengiriman ancaman melalui surel, potensi peretasan hingga fitnah yang dilakukan oleh buzzer. Fitnah yang diterima Bintang Emon adalah dirinya yang dituduh sebagai pemakai narkotika jenis sabu-sabu.

Fitnah buzzer ke Bintang Emon

Bro Emon mulai gelisah, takut dites oleh aparat. Jangan pakai sabu bro kalau mau buat doping…masa depanmu menjadi taruhan. @bintangemon. #GakSengaja #NovelBaswedan Gak Sengaja,” tulis akun buzzer @LintangHanita.

Selain itu, di dalam cuitan juga dicantumkan desain gambar yang menampilkan Bintang Emon disertai tulisan “Terungkap Gusti Bintang Emon Ketagihan Sabu-sabu.

Tak ingin berlarut-larut, Bintang Emon segera melakukan tes bebas narkoba ke rumah sakit dan hasilnya didapati bahwa ia negatif dari barang-barang haram tersebut.

Wah, sudah gila para buzzer ini..

Buzzer yang Tak Tepat Guna

Keberadaan buzzer di Indonesia terekam dalam riset Universitas Oxford yang bertajuk The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation. Dari kajian Oxford, 87% negara menggunakan akun manusia, 80% akun bot, 11% akun cyborg, dan 7% menggunakan akun yang diretas.

Secara umum, pasukan siber Indonesia menggunakan akun bot dan yang dikelola manusia. Mereka membanjiri media sosial dengan tujuan menyebarkan propaganda pro pemerintah atau partai politik, menyerang kampanye, mengalihkan isu penting, polarisasi, dan menekan pihak yang berseberangan.

Sedikit anekdot, fenomena buzzer di Indonesia sendiri baru sebegitu riuh-nya pada medio menjelang pilpres 2014. Saya ingat betul saat 2013 melakukan debat online via Twitter dengan akun @TrioMacan2000, akun buzzer ekstremis yang cukup populer pada masa itu.

Jiwa muda yang masih membara saat itu membawa saya ke ‘pertempuran’ melawan penyebaran hoaks dengan data dan fakta yang saya temukan. Sebuah ‘kado’ yang luar biasa tentang pembelajaran mengenai nalar.

Selain bertugas melakukan kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan politik pada saat itu, akun tersebut juga menggulirkan ‘bola api panas’ di tengah masyarakat. Isu besar seperti tudingan bahwa Joko Widodo saat itu adalah seorang komunis masih hangat melekat di pikiran masyarakat hingga sekarang. Hingga akhirnya orang di balik akun @TrioMacan2000 berhasil diringkus. Kejadian itu menjadi salah satu faktor yang memprakarsai direvisinya UU ITE sebagai regulator dalam arus pemberitaan daring.

Setelahnya, buzzer-buzzer kerap dikoordinir menciptakan gerakan konfrontatif melawan kritik masyarakat kepada pemerintah di lini masa. Hal tersebut dinilai sah-sah saja selama narasi yang digunakan berkualitas dan diharapkan mampu menciptakan dialog-debat produktif. Selain itu, perdebatan yang produktif dan sehat akan menyegarkan iklim demokrasi di negeri ini. Sehingga, realisasi faham demokrasi tidak semu dan sebatas ‘nyoblos’ di tempat pemungutan suara (TPS) saja.

Tetapi pada kasus Bintang Emon, blunder oleh buzzer yang memilih narasi fitnah sebagai opsi membentengi legitimasi terlihat cukup ironi. Berita bohong yang disebarkan ini tentu sangat merugikan pihak yang tertuduh. Langkah di atas mengasumsikan habisnya akal orang-orang di balik akun buzzer dalam strategi melawan kritikan masyarakat. Di mana buzzer yang dituntut reaksioner dalam menghadapi kritikan, akan menghasilkan strategi yang semrawut jika tidak ditangani oleh orang yang tepat dan cerdas.

Tuntutan dalam melancarkan kontra-narasi yang berkualitas pun dikesampingkan dengan dalih ‘dikejar deadline’. Hal ini menjadikan langkah yang diambil oleh para buzzer cenderung agresif dan manipulatif. Di lain sisi, aksi tersebut akan menciptakan skena pembungkaman hingga pembunuhan karakter bagi pihak pengkritik pemerintah.

Padahal jika meninjau pemaknaan buzzer seutuhnya, langkah tersebut membuat pergeseran pandangan dan makna terkait buzzer. Menurut Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) mendeskripsikan buzzer sebagai profesi legal yang melakukan kampanye massif untuk menaikkan citra produk barang/lembaga/figur secara profesional.

Baca Juga Menanti Respon dari Vonis Bersalah Pemblokiran Internet di Papua: Jika Memang Salah, Kenapa Harus Gengsi untuk Meminta Maaf?

Kampanye yang dilakukan pun sejatinya untuk mempengaruhi persepsi publik walau sekadar menjadi ‘pengikut’ produk tersebut, bukan menyerang kompetitor. Data dalam kampanye yang disuguhkan pun seharusnya kredibel, faktual dan bergerak transparan, bukan berita palsu.

Namun yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, segala cara dihalalkan termasuk pemalsuan fakta.

Kebuntuan yang dialami para buzzer, ketidakmampuan menyajikan fakta sampai lahirnya berita palsu menjadi blunder ke-sekian-kalinya dalam upaya etatisme. Sangat wajar jika menyebut mereka ‘makan uang haram’ karena menghalalkan perbuatan licik untuk menjatuhkan seseorang. Tak ada manuver intelektual yang semakin membuat mereka ‘mati langkah’ dan terjerumus dalam ‘kelumpuhan’ narasi.

Terlebih, Bintang Emon yang dituduh memakai narkoba jenis sabu-sabu tidak terbukti benar dengan hasil tes yang menyatakan hasilnya negatif.

Hasil tes narkoba Bintang Emon

Ingatlah kata orang tua kita dulu: “Fitnah lebih kejam daripada membunuh.” — yang kini termodifikasi dan relate dengan sitiran, “Jempolmu harimaumu”.

Pasal 27 ayat 3 UU ITE tentang pencemaran nama baik dalam media elektronik akan menjadi ‘kado’ yang bagus bagi para buzzer atas perbuatan mereka (seharusnya).

Masyarakat Indonesia yang sudah berpengalaman dalam arus pemberitaan hoaks cukup faham bagaimana menyikapi hal ini. Penilaian orang-orang terdekat Bintang Emon juga meyakinkan masyarakat bahwa apa yang disebarkan oleh buzzer adalah berita yang dibuat-buat—sebuah pembodohan. Iya, kedunguan yang sistemik lebih tepatnya.

Saran dari kami, banyak belajar dan riset mendalam lagi lah, jangan terburu-buru. Gak malu jadi ‘badut‘?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.