Bunga yang Memekar

Bunga yang Memekar

Bunga yang Memekar

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Matahari terbenam di puncak La Palma, Kepulauan Canary. Dari sebuah obsevatorium terbaik di dunia, beberapa puluh menit setelahnya, rangkaian gugus bintang seperti hyades, beehive, pleiades, dan tentu yang populer, orion, memekarkan cahayanya. Tidak ada gangguan dari cahaya lampu kota-kota, melainkan di atas awan, saya bercengkrama dengan mereka, para bintang yang tampak asik, tidak terusik.

Manusia seringkali menemui keterbatasan dalam mengungkapkan beberapa hal, seperti misalnya, tentang bagaimana keindahan mengguncang sekelumit diri kita yang naif. Lalu, kita mem-personifikasi-kan apa yang terlihat dan yang kita rasakan dengan benda-benda di alam raya—yang sekiranya juga memberi “guncangan” yang serupa, yang setimpal, atau paling tidak, yang mendekati.

Lantas lahirlah begitu banyak sajak, prosa, puisi, atau bahkan ungkapan langsung. Zaman dulu, penyair adalah sebuah simbol strata sosial. Mereka (para penyair) dianggap kaum intelek karna mampu, membahasakan keindahan realitas dengan meminjam perbendaharaan benda-benda langit, seperti, matahari, bintang, dan bulan. Tiga contoh tersebut acapkali menjadi sebuah simbol yang dipersonifikasikan untuk—menggambarkan betapa perempuan, mampu menjadi premis yang melahirkan personifikasi-personifikasi yang lain.

Mengapa begitu? Mengapa perempuan? Ayolah, kita tidak sedang bermain tebak gambar. Kita mengerti kemana arah tulisan ini akan bermuara.

Perempuan ialah premis mengapa perandaian-perandaian keindahan tercipta. Kau boleh tidak percaya, tapi, kau juga boleh memeriksa apa yang terjadi dalam budaya populer kita. Apakah romantisme sudah mati? Tanyakan pada lagu-lagu yang ada didunia ini, berapa banyak yang bercerita tentang roman-roman manusia. Tanyakan pada film-film dan novel, berapa banyak genre roman bertebaran di kehidupan kita?

Atau kalau mau, kau bisa bertanya pada William Shakespeare, mengapa karya monumentalnya, “Romeo & Juliet” terus didaur ulang dalam banyak pertunjukan?

The thing is, hidup ini boleh jadi adalah tempurung besar yang bernama romantisme. Dan manusia hidup didalamnya. Bayangkan itu baik-baik.

Cinta dan perempuan, yang pada akhirnya menjadi pemantik bagi laki-laki mengungkapkan perasaanya lewat perandaian keindahan benda-benda yang ada di semesta ini. Berujung pada kolaborasi romantisme dan kultur, hingga menjadi peradaban modern sampai sekarang.

Disebuah bar langganan para ekspatriat, saya yang tak sekalipun ada niatan menguping, mendengar bagaimana seorang laki-laki diumpat habis-habisan oleh dunia, hanya karna satu hal: ia jatuh cinta dengan seorang perempuan yang ia kenal dari aplikasi dating dan tak sekalipun pernah bertemu secara langsung.

Saya mendengar kalau nama perempuan itu adalah, “Bunga yang Memekar”, nama macam apa itu? Bunga yang memekar? Lama kelamaan, saya mengerti, jika perempuan yang ia maksud bukanlah bunga yang memekar secara harfiah, melainkan, personifikasi.

Awalnya, saya sempat setuju dengan dunia, walaupun tak sampai ikutan mengutuk. Tapi jujur saja, ia benar-benar kelewat bodoh. Dimana letak rasionalitasnya, jatuh cinta pada seseorang yang belum pernah ia kenal langsung?

Saya juga sempat mendengar alasan mengapa ia membiarkan dirinya dilumat habis oleh perasaanya sendiri. Ia bilang, ia merasa sedang melewati sebuah pekarangan bunga, dan ‘menemukan’ sebuah bunga mawar yang sangat merah dan merekah. Yang rupa-rupanya, juga banyak ditemukan oleh laki-laki lain. Ia murung bukan karna dunia mengutuknya, bukan! Katanya. Tapi karna ia merasa ‘mengotori’ pekarangan bunga tempat dimana bunga yang memekar itu berada. Sederhananya, ia sedang belajar untuk tau diri, tak ingin mengganggu.

Soal bagaimana ia jatuh cinta, itu perkara lain. Bagaiamana mungkin kita mengharapkan jawaban yang logis sementara cinta memang cenderung selalu irasional? Tidak logis?

Baca Juga: Kilasan 2018 Tentang Dia

Setelah membayar dan mengucap “gracias”, saya pergi sambil berbela sungkawa dalam hati, betapa malang dan ironisnya laki-laki itu.

Tapi, bagaimana jika dunia ini ternyata paralel? Bagaimana jika di multiverse yang lain, laki-laki menyedihkan di bar tadi adalah saya sendiri? Apakah barusan, saya secara tidak langsung, berbela sungkawa terhadap diri saya sendiri?

Saya mengusap wajah saya, menyudahi hari dengan sebuah tawa sarkas. Orang-orang melihat saya dengan heran. Dengan rambut urakan dan sebuah kamera yang terkalung di leher. Mereka pikir, saya saintis atau fotografer bodoh yang habis kehilangan pekerjaan. Padahal, saya penulis yang baru saja menyadari dua hal;

Betapa ironinya dunia ini. Dan, betapa hebatnya makhluk yang bernama “perempuan”.

Selain mampu menjadi personifikasi benda-benda yang indah. Mereka juga mampu menjadi “instrument” Tuhan untuk membolak-balikan hati.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.