Bulan Puasa 2020 Vibes Check: Ramadhan yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Bulan Puasa 2020 Vibes Check; Ramadhan yang

Bulan Puasa 2020 Vibes Check: Ramadhan yang Dulu Bukanlah yang Sekarang

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Semua orang pasti sangat merasakan, betapa tahun 2020 sangat cukup membuat muak di segala lini kehidupan. Segala aktivitas yang dilakukan selama adanya pandemi cukup memberikan dampak pada aspek ekonomi, psikologi, jasmani sampai rohani kita semua. Hampir sebagian besar pekerjaan, khususnya yang bekerja di kantor, dihimbau untuk “dirumahkan”. Kebijakan ini cukup berpengaruh pada aspek ekonomi, dimana beberapa perusahan atau instansi melakukan pemotongan gaji sekian persen kepada para karyawan. Pekerja non-kantoran pun banyak yang harus menerima kenyataan bahwa pendapatan mereka turun drastis.

Dampak pada aspek psikologi dialami hampir sebagian besar mahasiswa seluruh nusantara. Perkuliahan online yang selama ini menjadi solusi tetap berjalannya berbagai kegiatan akademik, cukup memberikan turbulensi kejiwaan bagi para mahasiswa. Tugas yang diberikan dosen dianggap kurang bersahabat baik kuantitas maupun kualitasnya di tengah situasi pandemi. Dosen memberikan tugas-tugas seperti penyusunan artikel ilmiah dengan kewajiban minimal 50 referensi jurnal berstandar internasional, pembuatan makalah berjumlah 100 halaman sampai pembangunan candi dengan deadline satu hari satu malam. Berat prof, berat.

Perkuliahan jenis ini semakin berat dijalani karena ada kewajiban lain yang harus dilakukan saat berada di rumah. Di samping tuntutan tugas kuliah yang semakin berat, sebagai anak sholeh dan sholehah kita wajib membantu orang tua ketika di rumah; baik itu membersihkan rumah, mencuci baju, menambal genteng yang bocor sampai menjaga adik yang masih bayi. Jika orang tua tidak tau apa yang kita kerjakan dan ada kalanya kita terlalu sibuk dengan laptop seharian menggarap tugas, pasti akan terlontar ucapan: “Laptopan terosss, itu teras depan belom di-pel, piring kotor pada numpuk.”

Selama pandemi ada satu anjuran yang cukup penting bagi kesehatan jasmani kita. Ya, tetap berolahraga. Berolahraga yang dimaksud tidak harus dengan mengadakan pertandingan persahabatan sepakbola antar kampung atau balapan renang di tambak udang terdekat. Olahraga di rumah yang beken disebut workout bisa dilakukan tanpa harus melakukan pengumpulan orang banyak. Mulai dari gerakan-gerakan sederhana seperti push-up, sit-up hingga naik turun tangga di rumah untuk menjaga diri kita tetap bugar dan sehat.

Udah, hilangkan kebiasaan mager, mager itu bukan budaya kita, budaya kita itu tetap fall in love with people we can’t have. [aww mlu bgt]

Pada aspek rohani beberapa kegiatan ibadah umat beragama juga agak terganggu—walaupun beberapa dari kalian emang dasarnya aja gak rajin-rajin amat beribadah alias males wkwkwk. Beberapa kegiatan di seluruh rumah ibadah sementara ditiadakan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sholat berjamaah di masjid, ibadah kebaktian minggu di gereja dan kegiatan ibadah lainnya yang dilakukan dengan jumlah jemaat banyak kini sebagian besar tak lagi dilakukan.

Ramadhan Tiba, Ramadhan Tiba

Menjelang datangnya bulan suci umat Muslim, Ramadhan, konsep ibadah di rumah sepertinya juga akan diterapkan. Salah satu kegiatan yang paling kita rindukan saat bulan puasa adalah sholat taraweh berjamaah di masjid atau musholla. Namun sepertinya, demi kebaikan bersama, sementara untuk tahun ini kita tidak akan bertemu dengan para tetangga saat menjalankan ibadah sholat taraweh. Oiya, ada yang ngerasa nggak kalau puasa makin tahun makin berkurang vibes keseruannya? Atau mungkin saya saja yang semakin tua, ya?

Sebenarnya sholat taraweh ini menjadi begitu berkesan karena masa kecil kita. Ya gimana nggak seru, wong dulunya setiap orang-orang tua pada sholat teraweh kalian pada keluar masjid dan malah mainan mercon atau “kepret-kepretan” pake sarung bareng teman sebaya. Pengalaman lainnya adalah dimarahin bapak-bapak saat di masjid, di saat pak Ustadz berceramah, suara kita pada saaat itu ngalah-ngalahin speaker masjid.

Sebagai anak kecil kala itu yang masih ingin terus bermain, guru sekolah kita cukup tau cara bagaimana agar siswa-siswi tetap berkegiatan yang positif selama bulan suci. Sejak awal bulan Ramadhan, biasanya guru agama memberi kita “Buku Kegiatan Ramadhan”. Dimana isinya meliputi kegiatan di pagi hari, rekapitulasi hasil tadarus, hingga pengisian intisari ceramah pada saat sholat taraweh.

Pada saat pengisian kolom ceramah, tak sedikit dari kita yang malas mendegarkan ceramah dan memilih mencontek ringkasan ceramah pak Ustadz milik teman. Lalu, pada saat sholat teraweh berakhir kita ramai-ramai mengantri untuk meminta tanda tangan pak Ustadz. Hadeuh, jadi kangen masa kecil, si Asep gimana kabarnya, ya?

Ketika pagi hari, tepatnya setelah sholat shubuh juga seneng banget kalau nonton balapan liar tadarus bareng teman kampung. Dilanjutkan kegiatan pesantren kilat yang menjadi wadah kita untuk tetap bisa menuntut ilmu. Karena adanya pandemi ini, ada kabar yang mengatakan bahwa kegiatan pesantren kilat akan dilakukan secara daring. Jangan-jangan main Leduman (re: meriam berbahan bambu yang biasa dibuat anak-anak kampung) juga lewat aplikasi? Wah, kurang seru sih. Tapi gapapa, demi kebaikan bersama..

Baca Juga: Polemik Surat Stafsus Milenial Presiden yang Bikin Kita Bertanya: Fungsine Milenial-milenial-an Opo Cuk?

Dengan adanya kondisi seperti itu, barang tentu juga tidak akan ada lagi bukber-bukberan. Tak akan ada reuni-reuni informal dengan teman masa sekolah atau reuni terselubung dengan dia yang dulu menjadi pujaan hati pada masa sekolah. Padahal, pertemuan dengan teman-teman SD, SMP sampai SMA jarang sekali bisa dilakukan kecuali pada saat buka bersama di bulan Ramadhan. Sehingga, momen bulan Ramadhan juga menjadi bulan yang padat dengan beberapa jadwal buka bersama.

Kemungkinan, kumpul-kumpul dengan maksud menyambung tali silaturahmi seperti itu akan berlanjut sampai momen lebaran Idul Fitri. Tidak apa-apa, bumi kita memang sedang tidak sehat. Satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya adalah, kita bisa lebih berhemat. Biaya bukber untuk beberapa acara bisa di-realokasikan kepada hal lain yang tak kalah penting; membelikan susu anak, mensuplai kebutuhan pokok orang tua, atau menabung untuk biaya pernikahan bagi yang berimpian menikah.

Akhir kata, semoga ini menjadi Ramadhan terakhir yang cukup kelam bagi kita semua. Dan, semoga kita bisa bertemu lagi di Ramadhan berikutnya yang akan datang. Aamiin.

Btw, sudah muncul iklan sirup gak, guys?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.