Budak Cinta, Nasibmu Kini

Budak Cinta, Nasibmu Kini

Budak yang tidak mudah untuk ‘di-merdeka-kan’.

Penulis Dyas BP | Editor Rizaldi Dolly

Peradaban bumi saat ini sudah cukup tua untuk terus menjadi tempat persinggahan milyaran manusia. Berbagai konflik dan kisah tercetak dalam sejarah, hikayat maupun legenda yang diharapkan mampu memberikan pembelajaran untuk generasi selanjutnya. Di belakang gejolak dan peperangan yang hingga detik ini terjadi, tidak sedikit insan yang memilih untuk membangun bumi dengan cara yang manusiawi.

Lihat bagaimana seorang Greta Thunberg, seorang remaja 16 tahun yang mengejutkan seisi bumi karena dengan berani “memarahi” para pemimpin dunia di forum PBB. “Saya terlalu muda untuk melakukan ini, sebagai seorang anak-anak seharusnya saya tidak melakukan hal ini. Tetapi, hampir setiap orang tidak melakukan apa-apa dan masa depan kami sedang terancam.” seru gadis yang didiagnosa terkena sindrom asperger tersebut kepada Guardian.

Di belahan dunia lain, tepatnya di India ada Asheer Kandhari (15), yang menuntut perdana menteri Narendra Modi untuk menetapkan status bahaya perubahan iklim di India.
“Apa gunanya kita belajar tentang kemanusiaan bila manusia tidak bisa lagi hidup pada abad mendatang?” katanya kepada BBC.

Semua yang dilakukan oleh anak-anak tersebut didasari oleh rasa cinta mereka terhadap tempat di mana mereka tinggal. Ya, benar, cinta. Tak ada satupun manusia yang bisa menghindari rasa cinta. Sekuat apapun ia berusaha mengelak dari cinta, ia akan terus berada dalam lingkaran cinta. Cinta, melekat dan menjadi bagian dari diri manusia itu sendiri. Cinta kepada orangtua, keluarga, lawan jenis, dan cinta kepada sesama. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada alam, cinta kepada makhluk hidup lainnya.

Cinta, Membutakan atau Membudakkan?

Cinta dapat melahirkan kekuatan ”tak terduga” dan ketahanan dalam diri untuk menjalani kehidupan ini. Pada karya-karya fiksi, seperti film, novel ataupun cerita pendek, kerapkali kita menyaksikan para tokoh berjuang bahkan rela mengorbankan nyawanya demi mendapatkan dan membela sesuatu ataupun sosok yang dicintainya. Berbagai kekonyolan juga kerap dihadirkan, dan biasanya terkait dengan kisah-kisah cinta dengan lawan jenis.

Sebelum terlalu jauh, mari kita lihat dulu kisah Romeo dan Juliet karya sastra William Shakespeare yang menjadi kiblat bagi setiap pasangan dalam membangun bahtera cinta mereka. Bercerita permusuhan dua keluarga besar kerajaan, Capulet dan Montague. Pertikaian ini membuat Romeo dari Montague dan Juliet dari Capulet tidak bisa menemukan titik temu untuk bisa bersatu, padahal cinta yang sangat dalam sudah meracuni sel otak di kepala kedua insan muda tersebut. Hingga akhirnya mereka berdua dipertemukan oleh maut saat Juliet memilih meminum racun saat mendengar Romeo bunuh diri.

Kisah tersebut menunjukkan bawa cinta yang berlebihan utamanya pada satu sosok yang dicintai akan melahirkan tindakan-tindakan yang justru akan ”memenjara” bahkan ”menciderai”. Sosok itu harus dan tetap menjadi miliknya. Hanya dia yang memiliki, tidak orang lain. Demi menjaga dan mempertahankannya, maka rasa cinta yang berlebihan ini akan sangat mengekang dan tidak segan melakukan ”kekerasan” terhadap pasangan atau pihak-pihak lain yang dinilai mengancam akan merebut pasangannya itu.

Beberapa masyarakat masa kini mendefinisikan sifat berlebihan tersebut dengan istilah “budak cinta”. Banyak juga istilah serupa seperti “Toxic Relationship“, “Abusive Partner” atau sebutan lainnya dalam spektrum hubungan yang abusif dan manipulatif.

Untuk penyebutan istilah budak cinta sendiri harus dipahami terhadap definisi yang dimaksud. Kemungkinan besar karena istilah yang dikampanyekan tersebut sangat komprehensif, tidak spesifik, sehingga agak membingungkan di susunan padanan katanya. Tapi entah kenapa idiom budak cinta ini mengarahkan kepada definisi, hubungan romantisme antara pelaku kekerasan dan korban kekerasan. Jika itu yang dimaksud, mari kita coba membuat analisis.

Pernah mendengar tentang Stockholm Syndrome? Secara singkat kejadian ini bermula ketika penyanderaan yang dilakukan dua bersaudara Olsson pada tanggal 23 – 28 Agustus 1973 di kota Stockholm. Ketika akhirnya para sandera dibebaskan, respon para korban menunjukan perilaku yang tidak diduga. Mereka justru mencium dan memeluk para tersangka. Mereka secara emosional justru menunjukan atensi positif kepada para pelaku. Salah satu sandera bernama Kristin jatuh cinta pada pelaku bahkan sampai rela membatalkan pertunangannya dengan sang kekasih.

Menurut para ahli, hipotesa terhadap fase munculnya Stockholm Syndrome sebagai berikut :

Keadaan yang bersifat traumatis akut, membuat korban sulit untuk berpikir jernih. Di lain pihak, pelaku menanamkan bahwa kabur bukanlah pilihan yang baik (tentunya korban bisa dibunuh jika kabur). Maka bagi korban mematuhi pelaku adalah cara terbaik bertahan hidup.

Seiring berjalan waktu, ternyata kepatuhan bukan satu-satunya hal yang diinginkan pelaku. Hal ini dikarenakan sang pelaku juga memiliki perasaan dan kondisi emosional yang kerapkali tidak menentu. Hingga pada satu titik, pelaku tidak terlihat sebagai momok menakutkan, melainkan sebagai alat untuk bertahan hidup atau melindungi diri dari mara bahaya, dengan kata lain korban hampir secara sepenuhnya menggantungkan diri kepada pelaku. Dalam kondisi seperti ini korban biasanya memulai delusi atau menanamkan pemahaman palsu sendiri (untuk mengurangi stress yang dihadapi), bahwa pelaku adalah orang terdekatnya, hanya dialah yang mampu diandalkan pada situasi ini.

Fase terakhir merupakan fase yang paling membuat kita heran. Korban akan melihat orang-orang yang berusaha menyelamatkan dirinya bukanlah temannya dan akan beranggapan akan menjauhkannya dengan si pelaku yang dia anggap sebagai “guardian”. Sehingga sebagai korban cenderung melindungi pelaku.

Bagaimana? Kasus tadi tidak bertujuan menjustifikasi dua hal kontra linier. Tetapi, fase di atas mungkin bisa jadi alternatif penjelasan logis mengapa anda terjebak pada siklus budak cinta. Dari perspektif tersebut budak cinta adalah contoh nyata Stockholm Syndrome itu sendiri.

Mari kita perhatikan, apakah kondisi budak cinta itu serupa dengan korban yang telah dijabarkan pada kisah di atas? Pasca abuser melakukan tindakan kekerasan (psikis maupun fisik), korban bisa menginterpretasikan ‘kelembutan’ pihak abuser hanya karena kebaikan-kebaikan kecil dari abuser yang pada kasus budak cinta bisa diasumsikan adalah sang kekasih.

Dari banyak literasi dan kasus yang terjadi, mayoritas kaum hawa adalah korbannya. Makanya tidak heran perempuanlah yang sulit keluar dari jeratan siklus budak cinta.

Cinta memang indah. Karenanya banyak yang menjadi pemuja cinta. Namun cinta juga bisa dianggap sebagai ”petaka” sehingga terlahir tindakan kebencian.

“Dear sobatku yang menjadi budak cinta, dulu bangsa ini juga menjadi budak kolonialisme ratusan tahun hingga akhirnya bisa melepaskan diri dan merdeka..

tetap semangat, jadikan cinta sebagai anugrah tak terkira dari sang Maha Esa. Menjaga keseimbangan, tentulah bisa membangkitkan kebahagiaan luar biasa.”

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.