Bersedih jika Benar Naruto Mati Adalah Kewajaran

Naruto Mati-Thexandria.com

Bersedih jika Benar Naruto Mati Adalah Kewajaran

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Ada apa gerangan? Apakah banyak mayoritas masyarakat Indonesia telah terjebak dalam mugen tsukoyomi?

Thexandria.com – Serial manga dan anime ‘Naruto’, begitu melekat di benak masyarakat Indonesia. Perdana tayang di Jepang pada 4 November 1999 lalu, manga karya Masashi Kishimoto ini, juga telah menemani sebagian besar generasi muda Indonesia dari masa kanak-kanak, remaja, bahkan sampai dewasa.

Uzumaki Naruto, karakter utama yang digambarkan memiliki rambut berwarna kuning, mata biru, dan kumis yang menyerupai kucing atau rubah ini, telah berhasil meraih semua mimpi yang ia yakini.

Serial manga dan anime-nya, sudah tamat, namun, bukan berarti Naruto benar-benar hilang begitu saja dari jagad animasi Jepang.

Baca Juga iPhone 12 yang Sebenarnya Bukan Manifestasi Kerja Keras Kita

Naruto, tetap ada didalam cerita putra laki-lakinya. Uzumaki Boruto.

Sebagai Hokage ke-7, Naruto mungkin tak akan pernah menyangka, bahwa putranya, Boruto, bisa mengingatkannya pada masa kecilnya kala itu; anak kecil yang nakal.

Kemudian, Naruto dan Boruto terlibat dalam sebuah dramatikal ayah dan anak yang—-hussh! Ini malah kenapa ceritanya jadi nge-review?

Ada kabar mengejutkan yang kini menggemparkan seisi bumi. Di Indonesia, Naruto yang serial animasinya telah tamat, bahkan sempat menjadi topik populer di berbagai lini masa sosial media beberapa hari yang lalu.

Naruto. Mati.

Ini mungkin adalah fenomena yang cukup menarik. Naruto, yang padahal hanya sekedar karakter fiksi, namun isu kematiannya membuat banyak orang merasa kehilangan.

Ada apa gerangan? Apakah banyak mayoritas masyarakat Indonesia telah terjebak dalam mugen tsukoyomi? Sehingga kita semua secara tidak sadar mengalami delusional akut? Merasa bahwa Naruto bukanlah karakter buatan, melainkan sosok yang benar-benar nyata!?

Dengan kerendahan hati yang paling dalam, Thexandria akan katakan, bahwa, ya, Uzumaki Naruto memanglah bukan hanya tokoh fiksi. Lebih dari itu, Naruto yang awalnya hanya ciptaan, telah menjelma menjadi sosok yang benar-benar hidup!

Naruto hidup didalam hari-hari kita. Didalam mimpi-mimpi dan semangat kita. Naruto, adalah kita yang termarjinalkan. Kita yang tak pernah berhenti berjuang. Kita yang tulus dalam apapun. Dan tentu, Naruto adalah kita yang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan.

Naruto yang Terpinggirkan

Naruto Masa Kecil

Di masa kecilnya, Naruto adalah yatim piatu yang kesepian. Ia sama sekali tak memiliki teman, dianggap remeh, bahkan

dikucilkan orang-orang dilingkungannya.

Sebab itulah, Naruto sempat tumbuh menjadi anak kecil yang nakal, karena ingin mendapatkan perhatian. Tak lebih dari itu, sungguh, ia hanya kesepian.

Bagi orang-orang yang bernasib kurang baik, tak memiliki siapa-siapa, ditolak oleh lingkungannya, dan selalu merasa kesepian. Sosok Naruto adalah penggambaran yang senasib dan pengungkap bahasa yang paling gamblang dari segala sisi marjinal orang-orang di kehidupan nyata.

Seorang Pemimpi Besar

Naruto Perang Ninja

“Suatu hari nanti, aku akan menjadi Hokage!”—-kalimat tersebut, merupakan kalimat pamungkas yang selalu ia utarakan dalam kondisi apapun. Sekalipun orang-orang menganggapnya tak lebih dari seorang pembual, nyatanya, Naruto adalah seorang pemimpi besar.

Bagi Naruto, kalimat itu bukanlah jargon-jargon pembangkit semangat semata. Kalimat tersebut, adalah sebuah bentuk keyakinan yang ia selalu jaga.

Kita bisa membayangkan, Naruto yang bukan siapa-siapa dan berangkat dari “kaum marjinal”, sangat berani untuk menjadi orang nomor satu di desanya. Dan juga, akan sangat wajar jika penduduk desa mentertawakan mimpinya itu, mungkin saja, orang-orang yang mendengar mimpi Naruto, akan mengatakan jika Naruto telah lancang.

Pemimpin yang hebat, adalah seorang pemimpi besar. Naruto telah berhasil membuktikannya.

Di kehidupan nyata, ada sebuah motivasi umum yang pasti sudah sering kita dengar. Bermimpilah setinggi langit.

Naruto membersamai mereka, atau kita, yang tiada hari percaya akan mimpi-mimpinya. Naruto secara simultan, juga terus mendorong penontonnya untuk tidak pernah takut bermimpi.

Menjunjung Tinggi Pertemanan

Naruto Vs Sasuke

Setelah berhasil mendapatkan pengakuan dari banyak orang, Naruto secara natural juga telah berhasil memiliki banyak teman. Bukan sembarang teman, tapi teman-teman yang percaya bahwa Naruto akan melindunginya.

Selama aksi pengejaran untuk mendapatkan kembali Sasuke, Naruto telah menampakan sisi bromance yang memorable. Ketika kata-kata tidak mampu saling mengerti, lewat tinju dan pukulan-lah, Naruto dan Sasuke berbagi perasaan satu sama lain. Yap, rasengan vs chidori, tentu, sangat melegenda.

Naruto bahkan rela, untuk menampung segala kebencian Sasuke.

Di kehidupan nyata, Naruto telah sedikit banyak menginspirasi bagaimana pertemanan berjalan dengan semestinya. Tanpa kemunafikan, tulus, dan rela berkorban.

Itulah beberapa kilasan, mengapa sosok Naruto mampu menggugah para penontonnya. Meskipun baru isu, namun berita kematian Naruto telah memicu gelombang kesedihan dari para fansnya.

Kalau Naruto beneran bakal mati? Mungkin kita harus terus mengingat bagaimana Naruto tidak hanya mengajarkan filosofi-filosofi hidup, namun juga sebuah ketegaran. Sehingga, kesedihan dari kita, bisa menjadi sebuah kewajaran.

Tapi jangan lupa, di dunia Naruto atau Boruto sekalipun, banyak jutsu-jutsu yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati. Edo tensei!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.