Bernafas dalam Ketidaksadaran

Bernafas dalam Ketidaksadaran

Bernafas dalam Ketidaksadaran

Oleh Musthofa

Pelacur yang Tersungkur

Aku wanita jalang,

Terpasung dalam engapnya sekumpul lelaki uzur bujang hingga pria kesepian lajang.

Di pelacuran,

Akulah bidadari yang selalu dicari, sekaligus dicaci.

Banyak anak-cucu Adam tak malu memahkotaiku dengan uang,

Asal aku mau diajak telanjang.

Dihabiskannya waktuku untuk bersemayam,

Aku bertakhta di kerajaan malam.

Tak habisnya dilaknati pendoa,

Tapi habisnya dinikmati pendosa.

Ya Tuhan, aku ini apa?

Diperebutkan dan diributkan.

Boleh saja ragaku diobrak-abrik,

Namun hatiku tak mudahnya dicabik-cabik.

Meski seluruh tubuhku sementara menjadi milikmu, tuan.

Tetapi hati dan cinta sejatiku selamanya milik-Nya.

Remah Darah

Sebenarnya kita tahu betul, tidak semua manusia bisa diselamatkan—

Oh, atau barangkali memang tidak mau diselamatkan.

Manusia-manusia semacam itu, tumbuh masokis,

Seperti orang gila yang mencintai ketidakwarasannya.

Menggilai kebahagiaannya dengan menyakiti

Diri sendiri dan bunuh diri.

Menjatuhkan tubuhnya ke dasar lautan

Meski sudah diangkat ke permukaan berkali-kali.

Terkadang, mereka punya alasan.

Salah satunya pengorbanan.

Bajingan!

Ribuan tahun terjebak dalam kata pengorbanan,

Yang mengartikan dirinya sebagai cinta, kasih, dan peduli.

Jika cinta adalah pengorbanan, maka berkorbanlah!

Berkorbanlah untuk berhenti mengorbankan diri!

Kita yang Menjelma

Di tubuh kota,

Masing-masing kita adalah pelacur yang kehabisan cara,

melucuti kelakuannya sendiri.

“Tuhan, bolehkah kita berhenti saling menyiasati?”

Tertawa Ia,

“Untuk apa? kau dan mereka sama saja.

kau mabuk senggama,

sedang mereka mabuk agama”

Baca Juga: Sebilah Kata Untuk Membunuh

Share Artikel:

2 thoughts on “Bernafas dalam Ketidaksadaran

  1. Mohon maaf, saya merasa keberatan dengan postingan ini. Ada karya saya yang dicopy-paste. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di caption postingan instagram saya yang berjudul “Nosce Te Ipsum”. Mohon untuk ditakedown.

    1. Halo, kak Mitha. Kami atas nama tim redaksi Thexandria.com memohon maaf atas ketidaktelitian kami terhadap tulisan yang masuk dari kontributor eksternal kami. Untuk postingan ini, pada puisi bagian milik kak Mitha akan kami hapus. Terimakasih dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya, kak. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published.