Beristirahatlah Imaji

Beristirahatlah Imaji - Puisi Baskara

Beristirahatlah Imaji

Oleh Adi Perdiana

Peramu senjakala membalik langit penuh kesedihan, menenggelamkan baskara pelan menyisa dua jengkal tingginya.

Horizon membisik sudut mata, menanda salam kepergian, di dasar pohon pertama besar yang membawahi melahirkan keremangan.

Kesunyian memang menenangkan.

Nurani yang paling sering dikelirukan kembali mencemburu, menyesal tambatkan harap pada hiruk pikuk siang, gemerlap malam.

Baskara nan jauh, ‘tika lupuk dari pandangan rupanya lebih beku dari malam.

Asterisk pun tak nampak bisa sampai hangatnya.

Candra terakhir yang menjelma seribu purnama, dengan sopan menerangi setitik kecil malam.

Pada pengejar Dunia di hadapan, seperti sebuah permainan sihir aku tertipu benar.

Sajak sajak penyair palsu terlahir, kiranya untuk yang terakhir.

Pada pengejar Dunia di hadapan, kita sama dihadap-Nya.

Kucoba membuat satu abadi.

Tak sampai enam puluh detik, kau bakar lembaran keabadian.

Bukan kematian benar menusuk kalbu, kata si mata merah tempo dulu.

Impianmu dihancurkan kawan terakhir, bagaimana kau rasakan, kataku.

Kepada lembaran keabadian yang hangus terbakar.

Kumpulkan debu sekitar biar kau menyatu, tumpuk batu berlapis sampai tinggi jadi monumen.

Kisah-kisah lalu yang kelak tak akan pernah pudar, terpahat di dinding waktu.

Oh monumen perjuangan, kiranya bisa mengabadikan perasaan.

Dan kesakitan pilu membiru, terbalut kemegahan rasa haru.

Tapi kau harus ingat, kesakitan yang katanya lebih sakit adalah dalam ingatan.

Baca Juga Malam Sekopi Sunyi

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.