Berhenti Ngayal jadi Ekspatriat Indo, Setelah Membaca Banyak Pengalaman Diaspora Indonesia

Tinggal di Luar Negeri

Berhenti Ngayal jadi Ekspatriat Indo, Setelah Membaca Banyak Pengalaman Diaspora Indonesia

Penulis Rizaldi Dolly  | Editor Rizaldi Dolly

Ada anekdot yang bilang kalau ‘rumput tetangga lebih hijau’, atau dengan kata lain, kehidupan di suatu tempat atau orang lain, dimata selalu terlihat lebih enak.

Dan kemungkinan besar, banyak masyarakat Indonesia yang ngayal atau bahkan benar-benar merencanakan untuk tinggal di luar negeri.

Kebetulan, gue kena di bagian yang ngayal doang hehe~

Jadi di tulisan kali ini, gue sebenarnya tidak cukup berkapasitas buat nulis soal tinggal di luar negeri. Jadi, gue cuma me-review dari akumulasi jatah ngayal gue. Kebetulan, dikala ngayal gue butuh penggambaran real mengenai suka duka tinggal di luar negeri, alih-alih memanfaatkan visualisasi dari para vlogger di youtube, gue memilih merangsang daya imajinasi gue lewat beberapa blog di website.

Dan hasilnya, mayoritas dari pengalaman yang gue baca, menyadarkan gue bahwa rumput tetangga memang selalu hijau, tapi tak melulu nyaman untuk ditinggali.

Perlu digarisbawahi, bahwa semua tulisan ini dilihat dari perspektif sebagai orang yang menetap, bukan berkunjung atau jalan-jalan, ya… kalau jalan-jalan mah, ke manapun enak gak enak, di-enak-in aja, namanya juga dolanan~

Gue menemukan fakta bahwa banyak faktor yang melatar belakangi orang-orang tinggal di luar negeri, seperti, kuliah, kerjaan, pernikahan, bosen sama macetnya Jakarta, bahkan emang mimpi yang direalisasikan.

Singapura

Kita bisa mulai dengan Singapura.

Di Singapura, sebuah negara yang luasnya tak lebih besar dari DKI Jakarta, bahkan dijuluki ‘litle red dot’, atau titik kecil merah yang mengacu pada peta dunia, merupakan sebuah negara yang tergolong maju di kawasan Asia Tenggara.

Tak sulit menemukan diaspora Indonesia di Singapura, banyak warga Indonesia yang kuliah, bekerja, dan koruptor yang beralasan berobat berobat di Rumah Sakit Singapura.

Sebagai sebuah negara kecil yang maju, masyarakat dan kehidupan di Singapura juga bergolak dengan cepat, yang bahkan, eskalator, di setting lebih cepat dari eskalator yang ada di Indonesia. Orang-orang di Singapura, terbiasa tetap berjalan ketika menaiki tangga eskalator, begitupun di Jepang.

Singapura juga dipenuhi dengan berbagai denda serta larangan, pun, terkenal dengan ‘nerakanya para perokok’, jangankan merokok, buang ludah sembarangan pun, denda nya gede bre~

Dan di Singapura, katanya kita bisa dengan mudah menemukan, bahwa masyarakat Indonesia yang terkenal santuy dan terbiasa melanggar aturan, bakal jadi orang yang super taat aturan. Salut sama ketegasan pemerintah Singapura! Tapi, berhubung gue perokok aktif, umm… jadi…umm…ya….hehe~

Paris

Paris sudah masyhur sebagai kota mode, sarangnya berbagai merek fashion ternama, kota yang katanya dipenuhi dengan romantisme, dan juga salah satu pusat historis di Eropa.

I mean, siapa, sih, yang enggak mau liat menara Eiffel, menyusuri sungai Seine, foto di Musee du Louvre, dan menyaksikan kemegahan Arc de Triomphe?!

I bet that all of you want to go there~

Tapi, nih, bre… katanya, Paris memang merupakan salah satu destinasi terbaik buat berkunjung, namun, tidak untuk menetap, camkan itu, tidak-untuk-menetap! Hmmm mengapa demikian?

Biaya tempat tinggal yang muahal dan susah buat dicari. Banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di Paris, tak jarang mengeluarkan ongkos yang mahal dan hanya mendapatkan sebuah kamar berukuran kecil.

Sering ngeliat di film betapa enjoy nya menikmati secangkir kopi di kedai-kedai di kota Paris? Tau harganya berapa? Rata-rata secangkirnya seharga 7 euro atau $9,60, silahkan di rupiah-kan dengan kurs saat ini. Ingin rasanya aqu tersenyum kecil~

Selain itu, parisian (warga asli Paris), seringkali terkena stereotype sebagai orang yang sombong, sombong bukan dalam artian jahat. Parisian terkenal tak mau menggunakan bahasa Inggris dan hanya mau menggunakan bahasa Prancis.

Katanya juga, parisian menjadi terlihat ‘angkuh’ dikarenakan kejenuhan dengan banyaknya turis yang berkunjung kesana. Bila pada saat musim tertentu, dan pelancong membludak, parisian biasanya enggan keluar rumah.

And do you want to look like a parisian? Pakailah mantel, pasang headset, berjalanlah dengan cepat dan cuek.

Jepang

Jepang ketika era perang dunia ke dua, mengklaim sebagai ‘saudara tua’, sebuah propaganda guna mendapatkan simpati rakyat Indonesia kala itu, dan hasilnya? Romusha~

Setelah di bom atom oleh uncle sam, alih-alih terus terpuruk, Jepang ketika itu, mengumpulkan para guru dan beberapa ekonom. Jepang segera menaruh perhatian penuh pada restorasi dari akar rumput sampai tingkatan elit, mereka fokus pada satu hal, nation chatacter building.

Setelahnya, pelan tapi pasti, Jepang telah membuktikan bahwa dengan kedisiplinan disertai pemikiran out of the box, Jepang hadir sebagai kekuatan ekonomi yang sangat berpengaruh tidak hanya di regional, namun juga dunia.

Penerapan kedisiplinan yang tinggi, membuat masyarakat jepang di era ini, menjadi masyarakat yang work holic, gila kerja.

Di kota-kota besar seperti Tokyo, orang-orang Jepang berjalan dengan cepat, mengenakan masker, bahkan membaca buku di dalam kereta, sunyi, tak ada yang berisik.

Kenapa gue bilang Jepang out of the box? Karena salah satu pendapatan APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) terbesar Jepang adalah, Manga. Lo enggak salah dengar, dengan sebuah komik, Jepang tak hanya membuktikan bahwa daya kreatifitasnya yang tinggi, namun juga mampu meng-kapitalisasi.

Alhasil, terdapat pula beberapa warga Indonesia yang memutuskan menetap di Jepang karena mereka….. suka baca komik Jepang.

Gue menemukan fakta tersebut dari salah seorang blogger yang shock.

Karakter-karakter di dalam komik Jepang, lumayan banyak menampilkan sebuah ekspresif yang unik dan khas dari penggambaran ceritanya. Dan faktanya? Masyarakat Jepang ternyata sangat kaku, bahkan ada resepsionis yang berdiri mematung memasang senyum seperti sebuah robot.

Ada yang bilang, bahwa segala macam tindakan ekpresif di manga, merupakan sebuah ‘tragedi pemberontakan kultur’ yang hanya bisa tersalurkan lewat manga, yang dimana masyarakat jepang tidak bisa melakukannya di kehidupan sosial yang nyata.

Baca Juga: Rules Number One; Boleh Aware sama Politik, asal Jangan Fanatik!

Selain itu, sangat sulit bagi orang asing untuk bisa menembus ‘dinding sosial’ masyarakat Jepang, kecuali bahasa Jepang lo sudah pada tingkatan kage, yonkou, atau admiral~ sorry, gue lupa kalau gue juga fans Naruto dan One Piece.

Tetap Ngayal

Dari sekian banyak ulasan di atas, sebenarnya banyak pula hal-hal positif dan lebih baik dari tinggal di Indonesia.

Gue menulis duka, wabilkhusus kepada teman-teman pembaca yang juga baru bertaraf ngayal.

Karena faktanya, tak ada salahnya tunggal diluar negeri, namun, persiapannya tak hanya sekedar finansial, namun juga mental, dan pemikiran yang baik. Dan juga, tak lebih buruk bila kita tetap tinggal di Negeri terkorup tercinta.

Apakah suatu saat, gue akan bertranformasi dari level ngayal ke level ikutan pindah?

 Tuh, kan, gue ngayal lagi~

Share Artikel:

One thought on “Berhenti Ngayal jadi Ekspatriat Indo, Setelah Membaca Banyak Pengalaman Diaspora Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.