Berdaulat Dalam Teknologi dan Industri Pertahanan, Maka Jayalah NKRI!

Industri Pertahanan

Berdaulat Dalam Teknologi dan Industri Pertahanan, Maka Jayalah NKRI!

Penulis Faisal | Editor Rizaldi Dolly

Jaya selalu, Industri Pertahanan dalam negeri!

Thexandria.com – PT. Pindad merupakan satu diantara industri pertahanan negara, bersama dengan PT. PAL dan PT. Dirgantara, yang memasok alutsista militer kita. Dengan formatur Insinyur lokal, hal ini membuktikan bahwa Indonesia mampu berkarya secara Teknologi melalui karya anak bangsa.

Melirik lokasi industri strategis di Jawa Barat, peralatan manufaktur yang mendukung bakat tangan dingin anak bangsa (engineer Indonesia) Pindad mampu memproduksi amunisi ringan, amunisi berat, kendaraan operasi militer hingga produk komersil non militer. Awal mulanya, pada Tahun 1980-an, pemerintah Indonesia kala itu semakin gencar menggalakkan program alih teknologi, yang juga dibarengi dengan gagasan untuk mengubah status Pindad menjadi perusahaan berbentuk perseroan terbatas. Berdasarkan keputusan Presiden RI No.47 Tahun 1981, Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) yang sudah berdiri sejak tahun 1978, maka dengan otomatis, pemerintah harus lebih memprioritaskan proses transformasi teknologi, termasuk pengadaan mesin-mesin untuk kebutuhan Industri.

Ketua BPPT saat itu Prof. DR. Ing. B.J. Habibie kemudian membentuk Tim Corporate Plan (Perencana Perusahaan) Pindad melalui Surat Keputusan BPPT  No. SL/084/KA/BPPT/VI/1981. Tim Corporate Plan diketuai langsung oleh Habibie dan terdiri dari unsur BPPT dan Departemen Hankam. Berdasarkan hasil kajian dari Tim Corporate Plan diputuskan bahwa komposisi produksi Pindad adalah 20% produk militer dan 80% komersial atau non militer.

Arahan Presiden

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membeberkan alasan dirinya membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari PT Pindad, termasuk 500 kendaraan taktis Maung. Prabowo mengaku ingin menghidupkan industri dalam negeri sesuai perintah Presiden Joko Widodo.

“Ya Pindad adalah industri dalam negeri, kita ingin hidupkan industri dalam negeri,” kata Prabowo ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (16/7).

Melalui Pindad, Prabowo mengaku ingin menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat Indonesia. Sebab dengan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri bisa memunculkan banyak lapangan kerja. Oleh karena itu pihaknya ikut berpartisipasi dengan memajukan industri pertahanan dalam negeri agar bisa bersaing di kancah internasional.

“…memang presiden garisnya industri dalam negeri dibangkitkan, ya kita dukung sektor pertahanan,” kata mantan Komandan Jenderal Kopassus, Prabowo.

Lebih lanjut, ia ingin kendaraan seharga Rp600 juta per unit yang dipesan itu selesai Oktober mendatang. Sehingga bisa menjadi ‘kado’ saat HUT TNI jatuh pada 5 Oktober.

Sebelumnya, Prabowo telah menjajal kendaraan taktis 4×4 buatan Pindad pada Minggu, 12 Juli 2020. Ia mengatakan rantis 4×4 itu dinamai Maung (Harimau).

“Kementerian Pertahanan akan terus mendukung peningkatan produksi alutsista dalam negeri, serta mendukung program penelitian dan pengembangan agar nantinya seluruh hasil produksi dalam negeri dapat mandiri secara utuh,” kata Prabowo, yang kami lansir dari CNN Indonesia.

Berdaulat Secara Teknologi

Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Uni Sovyet, dan negara-negara era perang dunia ke-dua, dapat menjadi sebuah negara besar (beberapa bahkan sampai hari ini) karena menguasai teknologi industri dan manufaktur. Para engineer di negara-negara besar kala itu, saling bersaing menciptakan alutsista bagi negaranya—yang dikemudian hari, menjadi sektor pemasukan negara di bidang industri militer, dengan cara menjadi eksportir alutsista. Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia sampai detik ini menjadi produsen senjata yang produknya dipakai oleh hampir seluruh kekuatan militer di dunia. China, yang mungkin paling terakhir untuk ikut bermain menjadi produsen industri pertahanan.

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Indonesia memiliki industri pertahanan dalam negeri yang sudah mampu menciptakan berbagai peralatan militer, bahkan telah mampu meng-ekspornya keluar negeri, seperti kendaraan taktis APC Anoa 6×6 yang sudah dipakai banyak negara dan juga telah mendapatkan lisensi dari PBB, Kapal Cepat Rudal Klas 60 Meter, kapal selam yang dibuat bersama Korea Selatan, pesawat angkut dan patroli CN-235 yang sudah dipakai oleh Malaysia, Brunei, dan Thailand.

Bila dikomparasikan dengan kekuatan industri pertahanan regional, Indonesia sudah cukup superior.

Masalahnya, apa pencapaian yang luar biasa ini harus kita banggakan dan lantas cepat berpuas diri? Tentu jangan, bahkan tidak boleh.

Industri pertahanan dalam negeri, justru harus lebih didorong kedepan. Proses transfer technology sejauh ini sudah diaplikasikan dengan baik oleh jajaran stakeholder. Terbukti dari keberhasilan Indonesia memproduksi kapal selam, hasil dari kerjasama dengan Korea Selatan melalui skema alih teknologi. Indonesia kini satu-satunya negara yang mampu memproduksi kapal selamnya sendiri.

Di sektor yang lain, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu mendapatkan alih teknologi pembuatan kapal selam. Tetapi juga alutsista lain yang memiliki teknologi tinggi seperti, tank kelas berat, rudal jarak jauh, kapal kelas freegat, helikopter serbu, dan juga pesawat tempur.

Baca Juga Menilik Langkah Mitigasi Covid-19 oleh Kabupaten dan Kota di Kaltim

Untuk pesawat tempur, sebenarnya Indonesia telah memiliki kesepakatan seperti halnya pembuatan kapal selam dengan Korea Selatan. Yaitu pesawat tempur generasi 4.5 KFX/IFX, namun, proyek prestisius bagi perkembangan industri pertahanan dalam negeri ini, diketahui masih terus dalam pembahasan.

Perlu diketahui, kekuatan militer yang kuat, diinterpretasikan dalam bentuk kecanggihan alutsistanya. Dan postur kekuatan militer yang baik, dapat menjadi ‘senjata’ bagi para diplomat untuk memenangkan perundingan guna kepentingan nasionalnya.

Secara jujur, Indonesia saat ini belum mampu dikatakan berdaulat secara teknologi dalam bidang industri pertahanan. Terlepas dari keberhasilan Indonesia memproduksi alutsista ringan bahkan sampai kapal selamnya sendiri, protes dan ancaman sanksi dari Amerika Serikat ketika gencar berhembus kabar Indonesia ingin membeli pesawat tempur Sukhoi F-35, adalah bukti dari ‘belum berdaulatnya’ Republik Indonesia.

Coba kalau apa-apa sudah mampu buat sendiri, Amerika Serikat mau ngedumel atau ngambek pun, Indonesia bisa bodo amat.

Terakhir dan mungkin yang paling penting. Jika Indonesia mampu fight di meja perundingan untuk urusan alih teknologi, maka dengan begitu juga, engineer-engineer bangsa akan bisa meng-upgrade pengetahuannya. Dimana sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2014, bahwa, Keinsinyuran bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa dan negara dalam menggali dan memberikan nilai tambah atas berbagai potensi yang dimiliki tanah air, menjawab kebutuhan mengatasi segala kendala dan masalah dari perubahan global yang dihadapi dan selanjutnya dapat menyumbang banyak bagi kemajuan dan kemandirian bangsa.

Jaya selalu, Industri Pertahanan dalam negeri! Penulis akan selalu bermimpi, engineer-engineer Indonesia mampu membuat pesawat tempur siluman dan kapal induk! Ya, suatu hari nanti.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.