Beratnya Menjadi Secret Admirer Angkot yang Sesuka Hati Berhenti Mendadak

Beratnya Menjadi Secret Admirer Angkot yang Sesuka Hati Berhenti Mendadak

Beratnya Menjadi Secret Admirer Angkot yang Sesuka Hati Berhenti Mendadak

Penulis Dyas BP | Editor Dyas BP

“Lautan roda, asap hitam meninju telak di muka..

Membabi buta, tak tahan ku teriak semua jadi gila..”

Perpaduan lirik dari Surya dan musik dari Abyan Zaki membuat hits Gurita Kota dari The Panturas terasa hidup dengan metafora-metafora cerdas pada lirik mereka. Gurita Kota merupakan salah satu tembang dari album The Panturas yang berjudul “Mabuk Laut” yang rilis pada 2018. Begitu relevan bila dijadikan sebagai analogi untuk penggambaran bus-bus tua dengan asap pekat yang merusak kesehatan.

Bahkan, bus-bus tersebut masih menjadi “preman jalanan” di beberapa kota di Indonesia. Bukan tanpa sebab mereka diberi label seperti itu, namun sebelumnya mari sebut saja mereka dalam klasifikasi “oknum”—karena sebagian besar cara berkendara mereka yang ugal dan terkesan cuek kerap membahayakan orang lain dan knalpot mereka sering mengeluarkan asap berbahaya bagi pernafasan.

“Gurita Kota sebenarnya bercerita tentang pengalaman saya ditabrak oleh Metro Mini di Jakarta. Saya membayangkan kalau jalanan ini adalah lautan, Bus/Metro Mini itu akan berperan sebagai Gurita: makhluk besar yang mengeluarkan tinta hitam untuk melawan musuhnya,” ujar Surya Fikri Asshidiq, sang kapten penabuh drum di The Panturas dikutip dari Mavemagz.

Kemampuan para personil The Panturas dalam menuangkan keresahan atau pengalaman kelam menjadi sebuah karya apik, cukup membuat saya iri.

Bagaimana tidak, acapkali diresahkan oleh “biota-biota” lain selain Gurita Kota di perjalanan dengan kendaraan, namun tetap saja keresahan itu terpendam dalam hati. Benar-benar menjadi seorang pengagum rahasia atau secret admirer.

Biota lain yang termaksud, secara khusus adalah angkutan kota atau disingkat angkot bangsat. Saya begitu yakin, ini bukan saja menjadi keresahan saya. Dan, apabila dilakukan jejak pendapat, kemungkinan 10 dari 10 orang memilih shampo lain pernah mendapatkan pengalaman buruk saat membuntuti angkot saat berkendara.

Sama seperti pedang mistis ala dunia dongeng yang akan menentukan siapa tuan-nya, pengoperasian kendaraan juga tergantung kepada siapa tuan-nya, yaitu sang supir. Oknum supir angkot yang menjadi tuan dari angkot itu sendiri dianggap tidak layak mendapatkan SIM A untuk lisensi mengendarai armada roda empat.

Begitu se-suka hatinya mereka berbelok ke kiri jalan yang kerap membahayakan pengendara lain yang ada di belakangnya. Bahkan, hampir sebagian besar angkot yang doyan melipir dadakan ini tidak memasang lampu sein jauh-jauh hari, eh jauh-jauh jarak sebelum berhenti maksudnya. Hal ini membuat sebagian besar dari kita tidak secara efektif menghindari tubrukan dengan angkot itu.

Dalam kondisi kecepatan berkendara yang rendah saja cukup membahayakan, apalagi dengan kecepatan tinggi dengan reaksi dadakan? Nyawa taruhannya, gan. So, tetap selow aja, yang penting selamat sampai tujuan, ada keluarga yang menunggu di rumah.

Mengambil dan memberhentikan penumpang merupakan dalih para supir angkot saat berhenti mendadak. Tak jarang, dari situ muncul masalah baru; terkadang kemacetan cukup panjang dan kacau disebabkan menumpuknya kendaraan lain di belakang sang angkot. Para supir angkot sendiri tidak peduli dengan keadaan jalan yang mereka buat semrawut.

Maka tak pelak, ini merupakan kesempatan kedua dan emas bagi kita untuk menjadi seorang secret admirer setelah merasa cukup melewati masa pubertas. Barang tentu, menjadi seorang pengagum rahasia merupakan sebuah pekerjaan berat. Menjadi pengagum rahasia secara langsung biasanya dengan cara membuntuti orang yang kita kagumi secara diam-diam. Begitu pula dengan aktivitas berkendara kita yang membuntuti angkot tanpa alasan dan tak bisa terungkapkan oleh apapun. [lebay]

Baca Juga: Berandai-andai Jika Lahan Bekas Tambang Dihutankan Kembali

Menjadi secret admirer yang menyukai seseorang secara diam-diam selalu terasa ironis. Hal tersebut identik dengan perasaan sepihak, cinta yang tak berbalas sampai bertepuk sebelah tangan. Lihat saja bagaimana pengalaman dari beberapa teman, supir angkot enggan untuk disalahkan saat terjadi tabrakan. Tanggung jawab yang kita harapkan dari sang supir angkot kadang tak berbalas dan hanya berbuah ke-sia-sia-an. Buruknya ialah supir angkot tak mau bertanggung jawab, tak perduli kemudian pergi, hingga diumpat yang galaknya ngalah-ngalahin guntur di langit saat hari mulai mendung.

Lantas, itu kembali relevan dengan The Panturas-Gurita Kota

“Gurita kota kini ditunggang oleh bala perompak, harta karunnya hanya ada di tanggal muda minggu pertama..

berwajah congkak, mereka sikat habis aspal hitamnya. Kebun binatang keluar lantang keras dari dalam mulut..”

Tapi ternyata kita mengalami apa yang disebut dengan cinta Platonis; singkatnya sebuah cara mencintai diam-diam. Meski terus berusaha menahan kegundahan karena tak terbalasnya perasaan, namun, rasa cinta itu akan tetap ada, atau justru berkembang menjadi lebih besar. Tengoklah angkot dengan jumlah masif masih terlihat di sudut kota, dan bodohnya..

..keesokan hari kita masih saja santai berkendara santai di belakang angkot.

Benar katanya, cinta itu membutakan.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.