Berandai-andai Jika Lahan Bekas Tambang Dihutankan Kembali

Berandai-andai Jika Lahan Bekas Tambang Dihutankan Kembali

Berandai-andai Jika Lahan Bekas Tambang Dihutankan Kembali

Penulis Adi Perdiana | Editor Rizaldi Dolly

Pada umumnya masalah tambang di Indonesia disebabkan oleh sistem tambang terbuka atau open pit yang biasanya dilakukan oleh Tambang Batubara. Aktivitas tambang terbuka ini selalu melahirkan bahan galian, meninggalkan lubang-lubang yang sebagian menjadi kolam air, serta mengubah kualitas tanah menjadi buruk.

Memang benar alam bisa menyembuhkan dirinya sendiri selama manusia tidak terus melakukan perusakan kita bekerjasama dengan penuh kesadaran menjaga alam dan mengindahkan setiap regulasi yang telah diatur.

Berdasarkan UU Minerba No.4 Tahun 2009, pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan, dan pengusahaan mineral atau batubara yang menyeliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca tambang. Yang terakhir adah yang paling sering luput dan akhirnya merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Jika para pelaku usaha tambang tidak mengikuti prosedur operasional yang ditentukan dan proses eksplorasi dan eksploitasi tetap berlanjut maka percayalah bahwa indahnya pemandangan bumi yang hijau dengan udara yang segar bagi anak cucu kita nantinya bisa hanya sekedar dongengan tidur.

Sebagaimana tujuan dari restorasi lahan tambang adalah memulihkan kembali kualitas tanah sehingga memungkinkan keragaman hayati yang hilang bisa kembali seperti kondisi sedia kala.

Teknologi kini bukanlah suatu hambatan dalam upaya kerja pasca tambang termasuk merestorasi lahan terdegradasi bukanlah hal yang mustahil. Yang menjadi pertanyaannya adalah apakah perusahaan punya komitmen atau tidak untuk melaksanakannya.

Atau apahkah pemerintah masih kurang tegas terhadap pelaku usaha tambang yang lalai dalam menunaikan kewajiban sesuai regulasi?

Padahal rincian tahapan rencana dan analisis dampak lingkungan yang akurat bahkan harus beres sebelum eksplorasi dimulai, tapi kenapa masih saja ada korban di bekas galian tambang yang terbengkalai? Boro-boro melihat lahan bekas tambang hijau kembali, eh—lubang-lubang besar ditengah lahan yang kering kerontang malah nampak di sana-sini.

Oke kalau ujug-ujugnya perusahaan terutama pada bagian hulu masih males-malesan merestorasi lahan pasca tambang ya jangan dibiarkan terbengkalai juga dong. Salah satu contoh apabila kita melihat dari negara lain misalnya, Lahan bekas tambang yang berhasil disulap menjadi destinasi wisata Ecotourism bernama Eden Project di Cornwall yang dibuka tahun 2001 membangun hutan hujan di dalam ruangan terbesar di dunia di dalam selungkup termoplastik. Kan keren tuh.

Kalau tidak mau seperti itu ya monggo silakan di eksekusi sesuai seperti regulasi awal yang sudah ada.

Lalu tak bosan-bosannya bagi pemerintah seharusnya bila ada yang melanggar regulasi, pemerintah tidak boleh segan menjatuhkan sanksi pidana dan administrasi. Ah sudahlah, kami hanya bisa berdoa semoga hal ini menjadi semakin baik di kemudian hari dan tak terulang kembali.

Sebenarnya memang masalah ini telah menjadi borok yang tak kunjung usai dan selalu saja menggerogoti hutan-hutan di bumi pertiwi.

Bahkan tahun lalu telah  menjadi salah satu bagian penting dari film dokumenter yang fenomenal yaitu “Sexy Killers” menguak sisi gelap tambang batubara di Indonesia.

Baca Juga: Di Negara Demokrasi, Sebuah Kritik Adalah Keniscayaan

Video dokumenter tersebut akan membuatmu melihat salah satu lokasi tambang terbesar di Indonesia yang berada di wilayah Kalimantan Timur.

Hamparan lahan luas yang gundul dan kering minim pepohonan, serta lubang bekas galian tambang yang dibiarkan begitu saja nampak jelas dan membuat hati saya terenyuh. Saya termenung dan bertanya dalam hati mengapa bisa sampai seperti ini, atau lebih tepatnya ternyata sudah sampai seperti ini.

Tak cukup sampai disitu bahkan air yang diminum oleh warga sekitar juga kondisinya tak lagi bening, tetapi berwarna keruh kecoklatan. Serta cerita pahit tentang banyaknya anak-anak yang kehilangan nyawa akibat terjatuh ke lubang galian yang berada persis di dekat sekolah.

Thanks To Dandy Laksono, angkat topi untuk anda. Terimakasih telah mengingatkat kita bahwa kerusakan akan terus terjadi tanpa adanya orang-orang yang perduli. Thanks To Dandy Laksono, telah berani menguak hal yang selama ini sekedar menjadi rahasia umum.

Terakhir kita kembali ke perandaian bila lahan-lahan bekas tambang seluruhnya berhasil di restorasi, kembalinya hutan-hutan pepohonan yang dipenuhi warna hijau, paru-paru dunia berfungsi dengan baik semestinya.

Oh karena kejadian baru-baru ini aku teringat sebuah narasi dari sebuah puisi, begini katanya “Daya hidup telah diganti nafsu, pencerahan telah diganti oleh pembatasan, dan kita adalah angkatan yang berbahaya.” Benar begitu kan Rendra?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.