BEBAS; Membuka Buku Lama, Bernostalgia Masa SMA.

BEBAS; Membuka Buku Lama, Bernostalgia Masa SMA.

Bebas yang kini hanya bagian dari masa lalu yang setidaknya tak hilang.

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

“Kamis ke bioskop, ah!” Gue monolog ketika rebahan.

Sebuah rutinitas pada hari kamis pagi untuk mengecek jadwal film-film apa saja yang sedang tayang di bioskop.

Kali ini mata gue— dari kemarin, sih.

Lebih tepatnya, sudah sebulan lalu film Bebas karya Riri Riza ini bikin gue penasaran. Dengan gambar poster perbandingan masa SMA dan masa sekarang dari 6 karakternya; atas bawah tersenyum sumringah.

“Bebas” yang diadaptasi dari film Korea bertajuk Sunny (2011) ini diproduksi oleh Miles Films, disutradrai oleh sutradara kenamaan nan kondang, Riri Riza, juga ditulis oleh Gina S Noer dan Mira Lesmana.

Menceritakan tentang 6 remaja yang bersekolah di SMA Jakarta, dan memiliki komplotan ala tongkrongan, bernama Geng Bebas, yang terdiri dari; Kris (Sheryl Sheinafia), Vina (Maizura), Suci (Lutesha), Gina (Zulfa Maharani), Jessica (Agatha Pricilla) dan Jojo (Baskara Mahendra). Tidak lupa juga dengan Marsha Timothy, Indy Barends, Susan Bachtiar, Widi Mulia, hingga Baim Wong turut ambil peran sebagai anggota Geng Bebas versi dewasa.

Diawali dengan Vina, yang diceritakan sebagai murid pindahan dari Sumedang, kemudian memulai perkenalan dengan Kris, ketua Geng Bebas. Perkenalan mereka, buat gue pribadi teramat lucu, karena nama mereka sama dengan dua diva pop Indonesia yakni Krisdayanti dan Vina Panduwinata.

Bicara soal Geng Bebas pasti tidak lepas dari makan di kantin bareng, perseteruan dengan penggencet, geng sebelah, juga romansa-romansa yang dibalut humor menggelitik.

Suatu ketika, mereka berpisah karena satu hal dan kembali lagi, juga dikarenakan satu hal.

Lo bayangin, geng SMA mereka, ketemuan lagi setelah 23 tahun lamanya, dengan pola pikir, keadaan, serta intervensi-intervensi fase kedewasaan yang turut serta mengisi karakter-karakter, hingga memunculkan sisi pembaharuan dari tiap peran, tanpa mengubur sisi kenangan mereka tentunya.

Kris yang didiagnosa kanker dan hanya mempunyai sisa waktu 2 bulan lagi untuk hidup, meminta Vina untuk mengumpulkan kembali Geng Bebas, yang lantas membuat Vina menyanggupi permintaan Kris, bahwa mereka akan kembali reuni seperti dulu kala. Apapun caranya.

Riri Riza menurut gue, sebagai sutradara, alih-alih mendikotomi fase waktu dalam alur cerita, justru berhasil menyeimbangkan dan menyatukan atmosfir antara masa SMA dan masa sekarang. Ini terlihat dari perpindahan sudut pandang yang smooth–kayak model iklan shampo, yang lantas tidak membuat penonton kebingungan.

Pun disisi lain, Gina S Noer dan Mira Lesmana berhasil menuliskan cerita yang membuat gue pribadi sempat hanyut dalam memori putih abu-abu gue. Gue ngerasa ter-refleksikan dengan kenyataan.

Dialog-dialog yang nampol khas Gina S Noer serta jika melihat kembali perkembangan karakter dari waktu ke waktu; Vina, salah satunya, yang menyadari akan ketakutan-ketakutan dalam dirinya dan harus belajar mematahkan ketakutan itu sendiri, karena satu hal yang menimpa anaknya.

Kemudian ada Jojo, yang fighting for himself dan kisah percintaannya.

Sementara karakter lainnya;

Vina yang struggling dengan keuangannya dan Suci yang membuat teman-temannya berusaha untuk menemukannya seperti permintaan Kris untuk membuat Geng Bebas reuni sebelum ia pergi.

Pada akhirnya semua menyadari bahwa dalam hidup, ada hal-hal yang harus berubah. Bahkan ketika kita ingin dan yakin tidak ada yang perlu dirubah. Yang pada akhirnya pula, semua akan termaknai kembali dengan pergeseran paradigma. Semua berkontemplasi.

Di masa SMA, tempat dan waktu dimana segala impian, harapan, pun angan-angan terkutub dalam gelora remaja yang membara. Pada waktunya, akan linier dengan hukum daripada waktu yang bergerak lurus kedepan. Ada kalanya semua gelora itu memupus dengan sendirinya.

Dan satu hal yang gue temukan dari film ini adalah, sebuah value! Ya, sebuah nilai.

Film ini mengingatkan gue di mana letak rumah lainnya, selain rumah itu sendiri; rumah yang termanifestasikan lewat sebuah persahabatan yang tulus.

Tidak perduli seberapa hebat keadaan akan berubah, teman-teman yang tulus akan selalu menyediakan bahunya untuk menangis, bahkan hanya untuk sekedar bersandar. Sejauh dan seberantakkan apapun kehidupan, rumah itu tidak akan pernah punah. Tidak akan berpindah. Juga tidak akan pernah terlupa dan terpisah.

Sebuah rumah, yang pondasinya dibangun atas persahabatan, atapnya dari doa-doa yang terselipkan, jendelanya dari kabar-kabar yang bertukaran, dan pintunya, dari kenangan manis yang abadi melintasi zaman.

The thing is, Film “Bebas” sudah selayaknya sebuah paket komplit nostalgia anak SMA, terlebih untuk anak-anak 90-an; lelucon, fashion, bahasa-bahasa gaul pada masanya, juga sudut-sudut tua nan lampau yang terekam khas tahun 90-an.

Persahabatan dan romansa sederhana yang harmoni serta bumbu konflik ringan yang disajikan, membuat penonton bisa diajak “masuk” kedalam cerita dan visual dengan mudah.

Ditambah soundtrack lawas yang bikin sing along di sepanjang film, gue jamin akan membawa kita kembali ke masa-masa SMA selama 119 menit di dalam bioskop.

“Jadi, lo mau nonton film Bebas kapan, Nyet?”

Share Artikel:

2 thoughts on “BEBAS; Membuka Buku Lama, Bernostalgia Masa SMA.

Leave a Reply

Your email address will not be published.