Balada Para Pemendam Rasa

Balada Para Pemendam Rasa

Balada Para Pemendam Rasa

Penulis, Rizaldi Dolly | Editor, Rizaldi Dolly

Thexandria.com – Kamu lupa kapan persisnya perasaan itu mulai tumbuh, tau-tau sudah mekar, berbunga harum, namun tangkai nya berduri. Tanganmu bisa berdarah bila ingin memetik. Jadi, untuk waktu yang kamu tak punya jawabanya, kamu memutuskan hanya melihatnya dari jarak, jauh maupun dekat.

Cantik, bukan? Bunga yang tak pernah kau semai, liar tumbuh dibawah langit tinggi representasi dari segala impian, menarik segala perhatianmu, terfokus pada satu tangkai. Setangkai rasa, yang terlalu sulit untuk disentuh. Bagaimana?

Kamu puas? Pasti belum.

Kamu sadar, kamu berlomba dengan waktu, demi bunga itu! Sungguh demi bunga liar yang tumbuh di pekarangan hatimu! Ada 3 skenario yang akan terjadi, jangan mengelak, kamu tau persis bagaimana probabilitas-probabilitas melintas tanpa ketuk tanda permisi.

Pertama, kamu akan membiarkanya saja, mekar seperti itu, kamu pandangi dengan sepenuh jiwa, sampai nanti ia layu. Layu, layu, layu, bunga nya menguning, lemah tak bergeming, ia mati.

Kedua, saat kamu tidak tau harus bagaimana, tiba-tiba ada orang lain yang berani memutiknya. Kamu marah, tapi pengecut tetaplah pengecut. Pecundang takan bisa jadi ksatria. Iya, kan?

Ketiga, kamu–kamu memutiknya. Dengan segala resiko dan konsekuensi. Kamu menahan darah yang mengucur akibat duri di tangkai nya. Kamu menahanya sekuat tenaga. Seresah daun yang gugur dari tangkainya. Sisanya adalah urusan Tuhan. Kamu sudah mengambil keputusan. Sisanya urusan Tuhan, karna cuma Yang Maha Pengasih yang bisa memberikan kasih.

Ah, membicarakan cinta memang tak pernah sederhana. Mungkin karna itu, Tuhan memilih Cinta menjadi salah satu hak prerogatif nya, disamping maut dan rezeki.

Aku tidak bermaksud menulis ini untuk memprovokasi perasaan dan situasimu, teman.

Aku hanya menulis cerita tentang perandaian. Kebingungan-kebingungan yang bertumpuk berkolaborasi dengan ketakutan-ketakutan yang kamu ciptakan sendiri.

Balada. Balada bagi mereka pemendam rasa.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “Hanya orang yang terlalu mencintai dirinya sendiri, yang tak mampu mengungkapkan apa yang dia rasakan.”

Aku pikir ini relevan, lebih dari itu, aku pikir kalimat itu benar! kamu terlalu takut tanganmu berdarah, sampai lupa kalau perih memang suatu fase dalam kehidupan. Apa? Kau mau mengelak, lagi? Bunuh lah dulu ke-naif-an yang mengakar di pikiranmu.

Baca Juga: Aku dan November

Teman? Dimanapun kamu berada? Apapun yang menghambat mu untuk memutik bunga liar yang tumbuh di pekarangan hati mu?

Ku sarankan untuk memilih kemungkinan yang ketiga.

Maaf. Aku tau banyak hal diluar sana yang membuat urusan setangkai bunga bisa jauh lebih kompleks dari mars, atau alien, atau perdebatan siapa yang paling kuat diantara Superman dan Kapten Amerika. Aku tau, aku tau itu.

Aku hanya memberi saran.

Sebagai sesama anak manusia yang mempunyai perasaan? Aku hanya ingin kamu tau kalau pilihan pertama dan kedua, bisa jadi jauh lebih menyakitkan.

Temanku… bilamana nanti, kau benar-benar mengikuti saran dariku?

Aku punya satu peringatan lagi. Jangan kaget dan lantas kecewa kalau ternyata, bunga itu beracun.

Jangan kaget bilamana bunga itu mensifati bunga-bunga indah yang beracun, seperti; Nerium Oleander, Belladona, Aconitum, atau Autumn Crocus.

Jangan khawatir. Setelah peringatan, maka terbitlah saran.

Kau tau? Mengapa Tuhan menciptakan ruang kosong yang tak terpenuhi dengan perbendaharaan alam?

Karna kita pun, demikian.

Jauh didalam hati kita, yang terselubung diantara kesepian?

Terdapat sebuah ruang kosong. Ruang yang dapat kau isi sesuai kemauanmu.

Ruang yang hanya akan kau temukan, dengan sebuah persyaratan, yaitu, kecewa dan hancur berulang-ulang.

Ruang yang melampaui sisi kesepian. Ter-independensi dari intervensi emosi. Blank space.

Kau bisa meniruku, mengisi ruang itu dengan sedikit ketabahan dan sedikit lelucon.

Lelucon yang lantas kau rias wajahmu dengan bedak tebal, gincu yang melebihi bibir, perias mata warna hitam yang kau lingkar melebihi diameter mata, rambut palsu!

Yes! There you are! A fucking clown!

Sorry, I lied. I’m a bad liar. I lied about everything. about flowers, feelings, advice, God, empty space, everything. I am the main character in this story, who died because of poisonous wild flowers. please bury me right now. write on my tombstone, “here rested a poor knight”.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.