BALADA KEMBANG API

Puisi BALADA KEMBANG API

BALADA KEMBANG API

Oleh Azwar Aswin

Tentang kembang api yang muncul
di atas langit rumahku, hanya sesaat semarak
lalu ia padam. Bunyi letupan dan warnanya jadi
aroma renunganku. Gembira sempat hinggap
sebentar di wajah ini, lalu melayang naik,
memecah belah dirinya ke luar angkasa.
Ceria segera kupendam,
hatiku kini di ujung pena,
ingin rasanya kutuliskan kata-kata
untuk sejarah manusia.
Benarkah hidup itu hanya
untuk berguna sebentar lalu terkalahkan?
Melesat rasanya masa depan, datang
ke dinding rumahku, detak-detik waktu
tak pernah rasanya kuminta, terus berganti.
Ah, andai mesin waktu di dalam laci kamar Nobita
juga ada di laci kamarku. Tentu aku tak perlu
kenangan dan rencana hidup.
Penting rasanya untuk kujawab
tanya dari malam,
hitam dan segala gelap
yang menentang.

Tapi aku tak tahu ke mana bisa dapat contekan.
Sepertinya aku perlu belajar untuk mengerti:
bahwa tidak semua hal
bisa selesai dengan sendirinya.
Ingin sekali aku teriak,
teriak senyaring bunyi ledakan mercon,
agar kebebasan datang lagi.
Tapi, entahlah! Ragu seperti pagar di depan
rumahmu: ia tak pindah ke mana-mana, sesekali
dibuka dan tampak diam menghalangi.
Kembang api kini muncul lagi, asaku menyeruak
ratusan kali, seperti hiasan dinding yang ditempel
sebentar, lalu disimpan di gudang belakang
dan tak pernah kutahu lagi tepatnya di mana.
Aku mulai lupa pada semua keharusan.
Syukur tiada akhir, aksara masih
berbaris rapi di jendela akal sehatku.
Aku ingin terus terang, bukan pada malam,
bukan pada puisi yang kutulis,
bukan juga pada gudang yang isinya berantakan,
tapi pada episode yang belum bisa kita baca.
Titipkan padaku satu kotak kembang api,
sampai manis akan kugubah jadi balada.
Balada hidupku.

Jakarta Timur, 2014

Baca Juga Kupu-Kupu Bunga

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.