Bagaimana Musik Membentuk Persepsi Kita

Bagaimana Musik Membentuk Persepsi Kita

Bagaimana Musik Membentuk Persepsi Kita

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Musik memicu hormon oksitosin dan serotonin.

Thexandria.com – Hampir semua orang memiliki lagu-lagu favorit yang didengarkan secara khusus ketika sedang dalam kondisi sendirian dan butuh ketenangan. Musik, dalam artian yang lebih dalam, bisa dikatakan menjelma sebagai “obat penenang” yang cukup mujarab.

Kalaupun mengambil sisi musik yang lebih sederhana, rasanya, memang terlalu sulit memisahkan musik dari kehidupan sehari-hari.

Namun taukah kita, bahwa ternyata musik, secara sains memanglah memiliki andil dalam membentuk persepsi atau paling tidak, mempengaruhi.

Baca Juga “Dua Wajah” Musik yang Paradoksal Dalam Sejarah Manusia: Musik dan Perang

Melansir Tirto.id, para peneliti di Universitas Groningen menunjukkan dalam sebuah eksperimen bahwa mendengarkan musik sedih atau bahagia tidak hanya dapat membuat orang berada dalam suasana hati yang berbeda, tetapi juga mengubah apa yang diperhatikan orang.

Dalam studi tersebut, 43 siswa mendengarkan musik bahagia atau sedih ketika mereka ditugaskan mengidentifikasi mimik wajah-wajah bahagia dan sedih. Ketika musik bahagia dimainkan, peserta melihat lebih banyak wajah bahagia dan sebaliknya berlaku untuk musik sedih.

Para peneliti berpendapat bahwa ini bisa jadi karena keputusan perseptual pada rangsangan indera kita, dalam kasus percobaan ekspresi wajah, secara langsung dipengaruhi oleh keadaan pikiran kita.

Tetapi jika benar musik dapat mengubah suasana hati dan persepsi kita, pertanyaannya apakah itu hal yang baik?

Studi terbaru lainnya mengatakan, orang dengan kecenderungan depresi klinis ditemukan merasa lebih buruk setelah mendengarkan musik sedih.

Di sisi lain, mereka yang tidak memiliki depresi melaporkan merasa lebih baik setelah mendengarkan musik sedih. Musik membantu bekerja melalui emosi dan menumbuhkan koneksi antara orang-orang. 

Baca Juga Yurigarins Rilis Single Bertajuk ‘Rahasia’

Studi ini juga melibatkan orang dengan depresi dan tanpa depresi dan menemukan bahwa kedua kelompok merasa lebih baik setelah mendengarkan musik yang bahagia.

Daniel Levitin, profesor psikologi dan musik di McGill University di Kanada, menunjukkan bahwa bukti yang kuat adalah musik dapat membantu depresi karena ia menawarkan pengalihan perhatian.

Selain itu musik juga dapat mempengaruhi tindakan sederhana seperti berapa banyak uang yang kita habiskan atau seberapa produktif kita. Orang-orang yang menari dan aktif terlibat dengan musik ditemukan lebih bahagia daripada yang lain, yang tidak terlibat dengan musik.

Penelitian dari Australia ini mewawancarai 1.000 peserta melalui telepon dan melihat skor kesejahteraan subyektif mereka atau evaluasi pribadi mereka tentang kepuasan hidup.

Orang-orang yang menari dan menghadiri acara musik memiliki skor kesejahteraan subyektif yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang tidak terlibat dengan musik dengan cara ini. Orang-orang yang secara aktif terlibat dengan musik dalam suatu kelompok juga memiliki skor lebih tinggi daripada orang lain yang menikmati musik dengan cara ini sendirian. 

Baca Juga Rilisan Mini Album Pertama Better Think of Something’s yang Bertajuk “Here We Go” Membuktikan Pop Punk Never Die!

“Pada tingkat yang paling mendasar, musik yang bahagia cenderung memiliki tempo yang lebih cepat, dan kami tahu neutron menyala secara serempak dengan irama musik dan musik yang bahagia dapat memberi energi pada Anda,” jelas Levitin.

Musik memicu hormon oksitosin dan serotonin, yang bertanggung jawab untuk ikatan, kepercayaan, dan keintiman, jelas Levitin.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.