Badan Intelijen Negara yang Kian Militeristik dan Bikin Gak Asik

Badan Intelijen Negara yang Kian Militeristik dan Bikin Gak Asik

Badan Intelijen Negara yang Kian Militeristik dan Bikin Gak Asik

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari

Thexandria.com – Badan Intelijen Negara, adalah sebuah badan nasional yang mengkoordinir seluruh kegiatan intelijen Indonesia.

Jika kamu pernah menonton film-film action tentang intelijen, maka penokohan seperti James Bond yang bekerja untuk MI-6 (intelijen Inggris) atau Jason Bourne yang bekerja untuk CIA (intelijen Amerika), adalah sebuah romantisme dalam budaya pop, yang berangkat dari prinsip kerja intelijen itu sendiri, yang dikenal tertutup dan rahasia. Klandestein.

Dalam aksinya, seorang agen intelijen, bertugas mendapatkan dan mengumpulkan informasi-informasi rahasia dari negara lain untuk kepentingan nasional negaranya. Maka tak heran, CIA misalnya, menempatkan agen-agen rahasianya di seluruh Kedutaan Besarnya, dan disamarkan sebagai diplomat.

Baca Juga “Dua Wajah” Musik yang Paradoksal Dalam Sejarah Manusia: Musik dan Perang

Untuk instansi intelijen besar yang memiliki kewenangan untuk menangkap serta memerangi musuhnya secara langsung, merujuk pada CIA dan Mossad (intelijen Israel), para agen tersebut, dibekali dengan kemampuan setingkat militer, sehingga sering juga dikatakan sebagai unit paramiliter intelijen.

CIA pernah terlibat dalam sebuah operasi paramiliter di Timur Tengah, seperti penggulingan Sadam Husein dan pengejaran terhadap Osama bin Laden.

Sementara Mossad, pernah terlibat dalam upaya pengejaran dan pembunuhan terhadap para aktivis dan pentolan pembebasan Palestina yang disinyalir terlibat dalam aksi teror terhadap para atlet Israel di Olimpiade Munich 1972. Dengan latar belakang tersebut, Mossad menjalankan operasi “Murka Tuhan”, dengan mengejar dan membunuh seluruh aktivis pembebasan Palestina diseluruh dunia. Mossad menggunakan unit paramiliternya yang bernama, Kidon, yang dalam bahasa ibrani berarti “bayonet”.

Secara garis besar, operasi intelijen yang yang mengharuskan menggunakan resource pasukan paramiliternya, itu dikarenakan instansi intelijen tersebut memang memiliki kewenangan untuk menangkap dan menghadapi musuhnya secara langsung. Pun demikian, dunia intelijen dituntut tetap harus memegang prinsip kerahasiaannya, secara utuh dan tanpa bisa ditawar. Maka jika seseorang mengejar heroisme dan publikasi secara luas, masuk kedalam instansi intelijen bukanlah pilihan yang tepat.

Kemudian, bagaimana dengan Badan Intelijen Negara?

Kian Menampilkan Citra Militeristik

BIN Militeristik
gambar hanya ilustrasi

Ada hal menarik saat Badan Intelijen Negara (BIN) memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh politik dan militer Indonesia sebagai warga kehormatan, sekaligus acara Inagurasi Peningkatan Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan peresmian Patung Bung Karno di Plaza Utama Kampus STIN, Bogor, Jawa Barat.

Di hadapan para jenderal TNI yang hadir, BIN memamerkan sekelompok pasukan bersenjata, yang mungkin saja adalah unit paramiliternya, seperti halnya Kidon Mossad atau Divisi Aktivitas Khusus CIA.

Baca Juga Seberapa Penting RUU Perlindungan Data Pribadi

Penampakan kemunculan pasukan bersenjata itu diketahui dari sebuah rekaman video yang disiarkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Bambang Soesatyo, dari akun pribadi Instagramnya.

Tidak diketahui secara pasti dari mana asal pasukan itu, karena yang terlihat mereka hanya mengenakan seragam hitam-hitam lengkap dengan senjata laras panjang.

Dan Bamsoet menyebutkan bahwa pasukan bersenjata itu adalah pasukan khusus intelijen BIN bernama Rajawali.

Tentu tak ada yang salah, karena seperti yang penulis sebutkan sebelumnya, adalah hal wajar jika sebuah instansi intelijen memiliki unit paramiliternya sendiri—-asalkan, memiliki kewenangan untuk menangkap dan melaksanakan operasi penyerbuan terhadap musuh.

Inilah yang menjadi alasan penulis menulis artikel ini, pasalnya, BIN sendiri, walaupun secara organisasi berkembang dengan baik di era kepemimpinan Budi Gunawan, yang terbukti dari penambahan dua deputi, tetap saja, BIN tidak memiliki kewenangan menangkap apalagi memerangi musuh negara secara langsung. Tugas dan fungsi BIN saat ini hanya melakukan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan. Hal itu jelas termaktub dalam pasal 6 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011 tentang Badan Intelijen.

That’s the point.

Artinya apa? Pagelaran demonstrasi pasukan serba hitam tersebut, tak lebih dari citra militeristik BIN yang menjadi-jadi.

Baca Juga Ironi Rutan Salemba: Kepingan Tersembunyi Kehidupan Penjara di Indonesia yang Suram

BIN bahkan sekarang memiliki baret merah maroon. Bayangkan, baret, yang notabene-nya adalah atribut militer, mulai secara terang-terangan ditampilkan ke publik. Our country’s intelligence agency doesn’t look cool anymore, dude!

BIN pada hakekatnya adalah sebuah instansi intelijen sipil. Pun demikian dengan CIA.

Malahan, hal seperti ini tidak terlihat di era kepemimpinan Kepala BIN yang berlatar belakang militer murni, seperti Sutiyoso, Marciano Norman, atau Hendropriyono sekalipun.

Justru di bawah Budi Gunawan yang berlatar belakang seorang Polisi, citra militeristik BIN kian kentara. Perlu diketahui, Polisi Indonesia tetaplah sipil, sipil yang dipersenjatai.

Soal kewenangan menangkap dan melawan musuh negara secara langsung, sebetulnya sempat berhembus kabar bahwa BIN akan memiliki kewenangan tersebut, namun, keburu menuai polemik, protes, serta penolakan, karena ditakutkan akan adanya abuse of power, penyalahgunaan wewenang.

BIN harus tetap mampu menjadi intelijen negara yang menjalankan prinsip kerahasiaan secara patuh. Dan perlu diingat, bahwa publikasi dan popularitas harus terus dijauhkan dari BIN. Seperti halnya motto intelijen sendiri, yang berbunyi: “Berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari”,

Bravo, BIN!

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.