Backup Friends; “Gue Dibutuhkan Kalau Ada Perlunya Aja, Ya?”

Backup Friends; “Gue Dibutuhkan Kalau Ada Perlunya Aja, Ya”

Backup Friends; “Gue Dibutuhkan Kalau Ada Perlunya Aja, Ya?”

Penulis Suci Jayanti Tadjri | Editor Rizaldi Dolly

“Lo pikir pemain bola doang yang punya cadangan?” kata seorang teman yang marah-marah setibanya saya di kedai kopi untuk menemuinya. Rupanya sudah setengah jam ia menunggu, tapi bukan, bukan karena saya yang telat, iya saya harus minta maaf juga.

Melainkan karena isi kepalanya yang tak tahan untuk meronta-ronta, ia butuh pendengar. Tidak lain, tidak bukan, masih permasalahan yang sama—pertemanan.

Entah sejak kapan, teman saya yang satu ini, sebut saja Tyas—mengalami permasalahan di dalam pertemanan yang itu-itu saja. Tyas, teman saya ini, sosok perempuan yang berteman dengan siapa saja—tidak pandang ‘ini’ dan ‘itu’.

Mau kamu sederhana, bergelimang harta, bentuk seperti ini itu, jelmaan kodok atau alien pun; Tyas tetap merentangkan tangannya selebar mungkin. Tapi, tidak semua orang meperlakukan Tyas dengan sama seperti yang ia lakukan pada orang-orang.

Saya bisa bilang, Tyas dulunya sosok yang tertutup dan jarang sekali mengungkapkan apa yang ada di dalam isi kepalanya sehingga teman-temannya terkadang tidak tahu dan lebih condong untuk “ah, bodo, ah,” mungkin?

Berdasarkan apa yang Tyas tangkap selama ini. Mungkin juga, teman-temannya malah khawatir? I don’t know.. karena tidak ada pertanyaan atau sekadar “Kamu kenapa?” yang terlontar.

Tyas juga merasa—beberapa orang yang bertanya, hanya sekadar bertanya karena “apa ini salah gue, ya?”, wanted to make sure kalau itu benar-benar salah yang ia buat apa bukan? Dan kalau bukan salahnya—ya, mereka akan gone, “bukan salah gue ini, ya aman,” kalau berpikiran negatif, sih.

Saya hanya berharap, hal-hal di atas yang dipikirkan oleh Tyas dan beberapa orang di luar sana tidak akan terjadi.

“Gue capek, dari SMP kayak gini, nih. Nggak berubah permasalahan gue.” ungkapnya, setelah kopi yang saya pesan tiba di meja. Kedua telinga saya dengan saksama mendengarkan isi kepalanya yang meronta-ronta sedari tadi.

Wajahnya memerah menahan tangis. Saya paham sekali rasanya, karena saya pernah ada di posisinya. “Kenapa saat gue butuh support kecil aja nggak ada yang bisa ngasih ya, Ci?” lanjutnya, tangisnya pecah, membuat saya berpindah duduk di sebelahnya.

Saya tahu, semakin bertambah usia semakin mengerucut lingkar pertemanan karena kesibukan, jarak yang jauh, sudah tidak satu frekuensi lagi atau parahnya seperti yang Tyas alami—dibutuhkan kalau hanya butuh, kalau tidak butuh ya sudah, “apa yang aku dapatkan kalau aku hangout sama kamu?” kasarnya seperti itu, mencari keuntungan semata. Kalau tidak menguntungkan ya what’s the point of you?

 Sebenarnya kasus seperti ini tidak jarang ditemui di masyarakat, terlebih pada anak muda yang masih menginjak bangku sekolah dan kuliah. Karena saya dan Tyas masih di bangku kuliah, kami akan bilang kasus ini tidak jarang—banyak yang mengalaminya dan sudah bukan hal baru.

Memang benar, di dunia ini, ada orang-orang yang layak dipertahankan dan ada orang-orang yang sebaiknya segera kita tinggalkan. Namun, kembali lagi pada standar masing-masing orang—yang mana yang layak untuk dipertahankan dan mana yang sebaiknya ditinggalkan.

Jikalau dirasa kata “tinggalkan” itu terlalu strong dan sulit untuk diaplikasikan—menjaga jarak rasanya lebih mudah untuk dilakukan, mungkin? Setelah kamu tahu bagaimana sikap orang-orang itu terhadapmu, dan mungkin membuatmu merasa tidak nyaman—menjaga jarak adalah salah satu solusinya.

Bagaimanapun, yourself comes first, right? Bukan, bukan selfish, sih.. Lebih tepatnya menjaga diri, menyayangi diri sendiri—menjaga dari orang-orang yang membuatmu merasa tidak nyaman. Cara lainnya adalah mencoba untuk masa bodoh kali, ya?

Beberapa orang yang penganut paham bodo amat bilang, “Coba deh lo sedikit bodo amatan gitu, pasti nggak gini,” ya mungkin akan works untuk orang-orang yang emang sebodoh amatan, atau kalian yang ingin mencoba untuk bodoh amat—ya silakan saja, tidak ada yang melarang.

Baca Juga: Kita Semua Pantas untuk Bahagia

Karena cara orang-orang kan beda-beda untuk menghadapi setiap masalah, pakailah cara yang dirasa membuat dirimu merasa nyaman.

“Ya, gitu, gue nggak marah apalagi benci. Orang-orang kalau butuh gue, ya hubungin aja.. gue usahakan untuk ada. Gue akan pasang telinga dan badan jika dibutuhkan.

Gue menghargai orang-orang yang kepikiran gue kalau mereka lagi down atau lagi senang atau lagi ingin kemana, pengin cerita ke gue.

Tapi, gue cukup tau aja sama yang modelan ‘datang kalau butuh’ begini.. terserah mau jadiin gue backup, gue nggak akan balas dendam jadiin mereka backup friends. Nggak enak, nyet!”

Ps. Di atas adalah obrolan saya dan keluh kesahnya Tyas, jika mengalami hal yang sama atau mungkin hanya sekadar ingin menambah teman baru—bisa sharing ke saya atau reply tulisan ini. Mungkin kita bisa ngopi-ngopi bareng!

Sumber Foto: Al Fikrie

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.