Arteria Dahlan dan Raikage; Serupa Namun Tak Sama

Arteria Dahlan dan Raikage; Serupa Namun Tak Sama

Arteria Dahlan merupakan sebuah mesin produksi kalimat.

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Hallo readers! Di tulisan ini, saya akan menulis tentang senjata kunai yang dipakai oleh tersangka percobaan penusukan kepada Menkopolhukam Wiranto debat panas antara Arteria Dahlan dan Emil Salim yang terjadi di acara Mata Najwa episode ‘Ragu-ragu Perpu’ pada Rabu (9/10). Episode itu membahas rencana penerbitan Perppu KPK. Dalam salah satu segmen, Arteria dan Emil Salim adu argumen. Nada bicara Arteria sempat meninggi hingga menampilkan gestur menunjuk-nujuk Emil Salim. Dia juga menyebut sang profesor sesat.

Akibat sikapnya kepada Emil Salim, Arteria Dahlan mendapat banyak kritik. Bahkan netizen sempat mengedit profil Arteria di Wikipedia. Profil Arteria di Wikipedia sempat diubah dengan menyebut si politikus merupakan orang yang banyak omong alias bacot.

Waduh, suka jujur, nih, yang edit.

Setelah menjadi gunjingan perbincangan hangat bagi segenap masyarakat Indonesia, yang kita tunggu selanjutnya adalah pendapat dari para ahli. Menurut psikiater, ngamuk atau rasa marah bisa diatasi dengan anger management.

“Jika merasa itu sering terjadi, penting sekali untuk melakukan anger management. Bukan semata-mata karena mengalami gangguan (kejiwaan), tapi untuk memperbaiki kapasitas kita yang tadinya sering marah supaya punya kendali dan fokus,” ujar dr I Gusti Rai Putra Wiguna, SpKJ, psikiater dari UbudCare Clinic.

Mengatasi amarah dapat dilakukan dengan bernapas yang dalam dengan diafragma dan dilakukan dengan sering sampai marah hilang. Selain itu, bisa juga dengan alihkan ke aktivitas fisik dan katakan kalimat positif.

Kontrol emosi, apalagi yang dilakukan di depan publik, turut menjadi pembelajaran bagi semua orang.

Sementara itu, Pakar komunikasi politik yang juga Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengkritik Arteria Dahlan yang dianggap tak sopan terhadap Emil Salim.

Adi menilai sikap Arteria bertentangan dengan slogan revolusi mental yang digagas PDIP dan Presiden Joko Widodo. “Saya melihatnya agak kontraproduktif dengan semangat revolusi mental yang selalu digaungkan oleh temen-temen PDIP dan Presiden,” kata Adi.

Adi berpendapat, semangat revolusi mental di antaranya menekankan kesantunan, termasuk ketika berdebat dengan orang yang berbeda pendapat. Dia menyinggung bahwa para pendiri bangsa pun dulu kerap berdebat tetapi tetap dengan cara yang elegan.

Untuk yang sering nonton berita, tentu tak asing dengan bung kita satu ini. Namun bagaimana yang seringnya nonton anime? Karna itu, berikut ini rekam jejak Arteria Dahlan yang memang dikenal kontroversi. Bung Arteria Dahlan diketahui memiliki latar belakang sebagai pengacara, ia pernah menjadi kuasa hukum dari tersangka dan terdakwa korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Salah satu kasus yang pernah ditangani oleh Arteria adalah kasus cek pelawat Deputi Gubernur Senior Miranda Goeltom sekitar 2010 lalu. Kasus ini ditangani oleh KPK.

Selain pernah menangani kasus korupsi, Arteria juga kerap menjadi kuasa hukum dalam sengketa Pemilihan Kepala Daerah, terutama calon yang diusung oleh PDIP.

Setelah menjadi anggota DPR, Arteria pernah protes karena tak dipanggil KPK dengan sebutan Yang Terhormat. Dia pun membandingkan dengan sikap Kapolri Tito Karnavian yang memanggil DPR dengan sebutan Yang Mulia.

Baiklah, kita sepakat dalam setiap tulisan, saya akan menyebutnya dengan tambahan kalimat, “Yang mulia”.

Dan biar fair, saya juga akan menyertakan profile dari bapak Emil Salim. Karna saya berpegang teguh pada premis saya di awal, bahwa tak semua orang menonton berita, ada sebagian orang yang tontonannya adalah anime.

Emil Salim bergelar Profesor, Master of Arts (MA), dan Doctor of Philosophy (PhD). Emil sudah duduk di pemerintahan sejak era Presiden Soeharto.

Emil lahir di Lahat, Sumatera Selatan, saat Republik Indonesia belum berdiri. Dia lahir pada 8 Juni pada 89 tahun silam. Saat perang kemerdekaan berkobar, dia menjadi Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan sekaligus Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949). Dia juga pernah menjadi Ketua IPPI Bogor dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi.

Dia adalah Profesor ilmu ekonomi dari Universitas Indonesia yang meraih gelar PhD ilmu ekonomi dari Universitas California (Berkeley Campus) Amerika Serikat. Gelar Doktor Honoris Causa dianugerahkan kepadanya oleh Universitas Kebangsaan Malaysia tahun 1994.

Emil juga pernah mendapat penghargaan The Leader of Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF) pada 14 September 2012.

Saya jadi heran, dengan sebegitu berkilau nya rekam jejak Prof Emil Salim, bisa-bisanya ” Yang mulia” bung Arteria Dahlan masih sempat menyebutnya “sesat”?

Saya jadi berpikir sekarang, apakah ” Yang mulia” bung Arteria Dahlan pernah menonton serial anime Naruto Shipuden?

Khusunya di episode “Pertemuan 5 Kage”, dimana didalam anime diceritakan, masing-masing pimpinan dari desa shinobi berkumpul dalam suatu rapat. Adapun pesertanya; Hokage, Tsuchikage, Kazekage, Mizukage, dan Raikage.

Saya merasa ada kemiripan antara “Yang terhormat” bung Arteria Dahlan dengan Raikage. Bisa dikatakan, “serupa namun tak sama”.

Bingung, kan?

Begini, ketika rapat dan diskusi berlangsung, Raikage tiba-tiba terlihat emosi dan memukul meja pertemuan sampai hancur. Raikage memang sosok yang tempramental, tapi, bagaimanapun tak selayaknya di dalam sebuah diskusi terjadi tindakan demikian. Raikage kala itu tak mencerminkan sikap seorang negarawan dan publik figur, sebab tidak mampu berdiskusi dengan kepala dingin.

Begitupun “Yang mulia” bung Arteria Dahlan, meski tak sampai memukul meja, namun gesture dan nada yang disampaikam tak elok dilakukan dalam sebuah diskusi yang sudah seharusnya berpegangan pada sisi argumentatif dan etika.

Tapi Raikage punya alasan mengapa ia sampai melakukan tindakan demikian. Karna desa yang dipimpinnya, sedang mengalami masalah besar. Adiknya yang seorang Jinchuriki dan juga sebagai “senjata pamungkas” desanya tengah diculik. Raikage merasa bahwa sudah tugasnya untuk menekan para Kage yang lain, dikarenakan, desa dan rakyatnya bisa terancam. Raikage sedang membela dan memperjuangkan kepentingan tanah airnya.

Lalu bagaimana dengan “Yang mulia” bung Arteria Dahlan?

Begitupun beliau, ia juga sedang membela dan memperjuangkan sesuatu.

Ini yang ia perjuangkan;

“Kalau kita kehormatan dan martabat kita diserang ya saya katakan siapa pun akan melakukan pembelaan diri. Jadi substansinya yang Mata Najwa itu sayang saya, substansinya bukan lagi substansi yang bicaranya bicara materi muatan tapi bicara sekarang ‘saya begini, saya begini’, lucu itu,” Kata Arteria Dahlan.

Bung Arteria juga tengah memperjuangkan kehormatan dan martabatnya, bukan kepentingan yang lain, apalagi kepentingan warga seperti Raikage.

See? Serupa namun tak sama.

Sumber Foto: Tribunnews

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.