Anxiety Disorder dan Pentingnya untuk Tidak Mendiagnosis Diri Sendiri

Anxiety Disorder dan Pentingnya untuk Tidak Mendiagnosis Diri Sendiri

Anxiety Disorder dan Pentingnya untuk Tidak Mendiagnosis Diri Sendiri

Penulis Suci Jayanti | Editor Adi Perdiana

Anxiety atau anxiety disorder?

Thexandria.com – Pernah nggak sih ngerasa jantung berdetak lebih cepat dari biasanya di situasi tertentu? Bahkan sampai memengaruhi fisik seperti pusing, berkeringat yang berlebih dan mual? Sampai-sampai mau kerjain kerjaan aja terhambat. Anxiety atau anxiety disorder? Eh, tapi jangan self-diagnose dulu, ya.. simak dulu, yuk..      

Kecemasan atau anxiety melibatkan perasaan khawatir, takut, dan gelisah. Biasanya dialami pada tingkat kognitif, emosional, dan fisik. Misalnya, ketika merasa cemas, seseorang mungkin memiliki pikiran negatif atau menganggu. Pada tingkat emosional, seseorang bisa merasa takut atau bahkan nggak terkendali, lho. Kecemasan yang parah juga bisa melalui sensasi somatic seperti berkeringat, gemetar, atau sesak nafas. Gejala-gejala ini umum untuk orang yang telah didiagnosis gangguan kecemasan (anxiety disorder). Orang-orang dengan gangguan tersebut biasanya terbiasa berjuang dengan mengelola perasaan-perasaan cemas—rasanya seperti semua terambil alih dan di luar kendali seseorang.

Tanda-tandanya apa aja, sih?

  • Kekhawatiran secara berlebihan yang berlangsung selama berbulan-bulan.
  • Merasa gelisah.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau pikiran kosong.
  • Menjadi mudah tersinggung.
  • Penegangan otot.
  • Kesulitan untuk tidur, tidur gelisah, tidak nyenyak.

Atau lebih lengkapnya silakan kunjungi website berikut: https://thiswayup.org.au/how-do-you-feel/worried/

1. Berhenti sejenak dan hirup buang nafas

Ketika rasa cemas meluas, luangkan waktu dan pikirkan apa yang membuat kamu cemas. Kecemasan biasanya meliputi kekhawatiran tentang masa depan atau kejadian-kejadian di masa lampau. Misalnya, nih, kamu khawatir banget sama masa depanmu—akan jadi apa kamu atau memikirkan sesuatu yang buruk akan terjadi di masa depan. Mungkin juga kamu terlalu memikirkan kejadian di masa lalu sehingga kamu enggak memperhatikan situasi pada dirimu di saat ini.

Cukup dengan berhenti sejenak, duduk, dan tarik napas dalam-dalam bisa membantumu mengembalikan rasa keseimbangan diri dan membawamu kembali pada saat ini. Namun, jika kamu memiliki waktu lebih, lakukanlah kegiatan ini sedikit lebih banyak dan bereksperimen dengan meditasi dsb.

2. Cari tau apa yang menganggumu

Gejala fisik dari anxiety seperti gemetar, nyeri dada, dan detak jantung yang berdetak cepat biasanya lebih jelas daripada memahami apa yang membuat kamu cemas. Namun, untuk mencari akar dari kecemasanmu, kamu perlu mencari tau apa yang menganggumu. Untuk mengatasinya, silakan sisihkan waktu untuk menjelajahi pikiran dan perasaanmu.      

Menulis di buku catatanmu bisa menjadi cara yang bagus, lho, untuk menjabarkan sumber-sumber kecemasanmu. Tuliskan semua hal yang menganggumu atau bercerita dengan teman yang dipercaya juga bisa menjadi cara lain untuk menemukan dan memahami perasaan cemasmu.

3. Fokus sama apa yang bisa kamu ubah

Sering kali kecemasan datang dari rasa takut akan hal-hal yang bahkan belum pernah terjadi dan mungkin enggak akan terjadi. Misalnya, khawatir tentang finansial di masa depan, meskipun semua baik-baik aja.

Kita enggak bisa selalu mengendalikan apa yang terjadi, namun kita bisa memutuskan bagaimana kita akan berurusan sama suatu hal atau orang. Kita bisa mengubah kecemasan menjadi sumber kekuatan dengan melepaskan rasa takut dan berfokus pada rasa terima kasih.

4. Fokus pada sesuatu yang kurang mencemaskan

Kadang-kadang, nih, ya.. akan sangat membantu jika bisa mengarahkan diri sendiri untuk fokus pada sesuatu selain kecemasanmu. Mungkin kamu ingin mengubungi teman lamamu, melakukan beberapa pekerjaan di rumah, atau melakukan kegiatan/hobi yang menyenangkan. Berikut kegiatan-kegiatan mengasyikan yang bisa kami sarankan (semua tergantung hal-hal yang kamu sukai itu apa, ya..):

  • Jalan-jalan di taman
  • Membaca buku atau nonton film kesukaan
  • Dengerin musik
  • Meditasi
  • Bersepeda
  • Menggambar, menulis, atau melukis

Baca Juga: Mengenali Pelecehan Seksual di Kehidupan Sehari-hari dan Catcalling Bukanlah Sebuah Pujian

Pentingnya untuk tidak mendiagonis diri sendiri

Bahaya terbesar dari mendiagnosis diri sendiri adalah kemungkinannya kamu kehilangan penyakit medis yang menyamar sebagai sindrom pskiatrik. Misalnya, nih, kamu tuh sebenarnya ada tumor di bagian tubuhmu, namun, kamu menganggap init uh bukan tumor—melainkan pembengkakan biasa. Atau kalau berhubungan dengan psikologi—kamu menganggap dirimu mengalami depresi dan mengobatinya dengan sembarangan tanpa campur tangan dokter.

Bahaya lain dari diagonisis diri adalah bahwa kamu berpikir mungkin ada sesuatu yang salah daripada yang sebenarnya terjadi—atau sebaliknya. Ini juga memicu kekhawatiran dan pikiran yang berlebih jika mendiagnosis diri sendiri.      

Kebanyakan orang mengalami kecemasan dari waktu ke waktu. Namun, rasa cemas yang kronis bisa menjadi tanda gangguan kecemasan yang terdiagnosis. Oh, iya.. sebaiknya segera melakukan treatment lebih lanjut ke psikolog atau psikiater jika dirasa rasa cemasmu bisa menganggu aktivitasmu. Jangan self-diagnose sendiri, ok?

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.