Antara Mc’Donald, Mahasiswa-mahasiswi dan Tugas Kuliahnya, serta Pengunjung Lain yang Resah

Antara Mc'Donald, Mahasiswa-mahasiswi dan Tugas Kuliahnya, serta Pengunjung Lain yang Resah

Antara Mc’Donald, Mahasiswa-mahasiswi dan Tugas Kuliahnya, serta Pengunjung Lain yang Resah

Penulis M. Zein | Editor Rizaldi Dolly

Dulu di kalangan kawan-kawan sekolah saya, tahun 2014 sampai 2016 merupakan masa jaya-jayanya Mc’Donald sebagai salah satu tongkrongan paling gaul bagi para pelajar dengan bujet kecil.

Sepulangan dari Helipad untuk bermain skateboard di sore hari, kami lantas pergi ke Mc’Donald tanpa mandi. Dengan modal uang 15 ribu untuk menukarnya dengan sebotol McFloat serta rokok ketengan Melawai; kami menikmati senja manis di Mc’D tanpa ponsel dan Instastory puisi, hanya sebatas haha-hihi yang murni tercipta dari ABG liar yang ingin dipandang kekinian.

Mengeluarkan uang sesedikit mungkin dengan rentang waktu nongkrong yang sangat panjang, ketika itu, kami sama sekali tidak menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. Dengan dalih “Kami bayar, kami berhak di sini selama yang kami mau”, menjadikan kami bocah-bocah malang yang tumbuh berkembang dengan sifat apatis dan egois.

Kemudian dengan datangnya kedai-kedai kopi di berbagai penjuru kota yang konon menawarkan cita rasa kopi dengan definisi rasa yang paling harfiah—yang konon lagi, tidak bisa kamu dapatkan dari kopi-kopi kemasan konvensional—semakin hari semakin mencuri perhatian kawula muda yang tak sedikit hanya mengikuti tren agar terlihat keren. Saya pernah menjadi salah satunya, dan tak ada keraguan untuk mengakui kengerian itu.

Kemungkinan, hampir 3 tahun saya tidak lagi bersua dengan McFloat serta potongan-potongan kentang gurih bikinan Mc’D, dan tepat di satu setengah bulan yang lalu—entah mendapat ilham dari mana—saya pergi ke sana dalam rangka bernostalgia.

Setibanya di sana, saya kaget seperempat mati melihat pemuda-pemudi serampangan yang berkumpul ramai-ramai, semacam membentuk satu kerajaan baru serupa Sunda Empire; menyatukan banyak meja menjadi satu barisan dan merampas kursi-kursi yang semestinya juga jadi hak orang lain, lantas kemudian asyik dengan laptop masing-masing dengan buku-buku yang menumpuk di atas meja. Saya penasaran, apa mereka tidak sadar bahwa meja-meja mereka telah menghalangi jalan keluar-masuknya orang lain?

Tak jarang mereka berteriak-berdiskusi secara-tidak-sembunyi-sembunyi-dan-senyap, mungkin sebagai upaya memberitahu banyak orang bahwa mereka orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi.

Dari sana saya menganggap malam itu Mc’D yang saya datangi bukan lagi sebagai restoran cepat saji, melainkan tempat mengerjakan tugas dan proses belajar kelompok yang berisik.

Baiklah, di luar konteks berapa lama mereka di sana dan seberapa intens mengganggu pengunjung yang lain: itu bukan kesalahan. Karena manusia boleh belajar di mana saja.

Saya mengamati mereka sepersekian detik sebelum akhirnya menarik pintu utama. Dugaan saya, mereka adalah mahasiswa/i yang sedang menumpang Wifi untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Akibat tidak mendapatkan kursi, pesanan saya take away.

Perasaan ingin tertawa terus melunjak di pikiran saya selama berjalan menuju parkiran motor, sebab ada semacam kesimpulan yang memiliki fokus pada peninggalan romantis dari masa lalu, perihal prinsip nongkrong orang-orang egois yang menganggap ketika mereka sudah membayar, mereka akan mendapat gelar “pembeli adalah raja” yang punya privilese untuk melakukan apa saja, semaunya.

Anehnya, saya mendapati peninggalan itu lahir kembali di kalangan orang-orang yang ‘berintelektualitas tinggi’.

Bukan pulang tanpa sedikitpun keresahan, saya hanya manusia biasa yang hobi marah-marah dalam hati. Tidak terduga nostalgia saya akan dikacaukan oleh orang-orang seperti itu, yang tidak peduli bahwa gelasnya sudah kosong; piring-piringnya telah berpisah dengan nasi, dan pengunjung lain yang wara-wiri kesal tidak kebagian kursi.

Saya jadi bingung, apa memang ‘kesadaran terhadap hak-hak orang lain’ seberat itu untuk dilakukan? Paling tidak, segerakan memesan lagi untuk menghormati. Dan paling tidak, JANGAN BUAT BARISAN KERAJAAN DI SANA, BRENGSEK! SAYA JADI SULIT BERJALAN! HEY, DENGAR TIDAK?

Apa kami harus menunggu sampai tugas kamu selesai supaya kebagian kursi? Kita sama-sama bayar, lho~

Ah, saya tidak berniat melupakannya, perihal dahulu saya dan kawan-kawan saya juga seperti itu. Akan tetapi, masih dalam tahap: beli-sebiji-nongkrong sehari. Bolehkah saya sebut ini sebagai karma?

Tapi apa jadinya jika yang meresahkan hal tersebut bukan hanya datang dari kalangan kawan-kawan saya saja—sebagai orang-orang yang kena karma? Di bawah ini mungkin bisa menjadi bukti betapa banyaknya orang-orang yang juga sedemikian kesal, dan yang saya yakini, tak sedikit dari mereka tidak punya dosa di masa lalunya.

Dari bukti di atas, saya menyimpulkan ini bukan lagi perkara peninggalan yang romantis dari masa lalu—bukan lagi menggeneralisasi mahasiswa/i. Kepada siapa saja, dan lebih dari itu. Ada semacam kepekaan lingkungan sekitar yang kurang dicermati, serta kepedulian terhadap kewajiban-kewajiban makhluk sosial yang semestinya menghindarkan orang-orang dari keegoisan untuk (hanya) mementingkan diri sendiri, atau kelompok-kelompok tertentu yang mereka ikuti.

Dengan modal materi yang sejatinya tidak dapat membeli kehidupan di dunia yang lain, manusia mempergunakan itu sebagai alat pendongkrak keegoisan dan kesewenang-wenangan di dunia ini, serta menjadi alat berupa tameng kokoh jika sewaktu-waktu ada pendapat lain yang ingin melawan. 

Baca Juga: Lewat Depan Rumah Tetangga Tukang Gosip, Bikin Jantung Dag, Dig, Dug

Dari dulu hingga sekarang, bagi saya kesosialan hanya bersimbol pada bunga tidur—seperangkat mimpi manis yang dalam realitanya, mesti dipungut sisa-sisa aromanya dari jejak-jejak ego manusia. Dari situ saya maklum kepada orang-orang anti sosial.

Mc’Donald yang dulu saya kenal, memiliki sistem yang buruk terhadap pelayanan-setelah-makannya, bisa dibilang, pelayan-pelayan mereka kurang peduli pada sampah-sampah di meja—selama masih ada orang yang duduk di sana, mereka akan urung membersihkannya.

Entah canggung atau tidak enakan, siapa juga yang ingin dengar alasan klise semacam itu? Dan sekarang, saya cukup yakin tak ada perubahan yang signifikan, mengingat masih bisa ditemui orang-orang serampangan yang tadi sudah saya definisikan.

Pelayanan yang tidak bagus, menjadi peluang untuk orang-orang serampangan melampiaskan keegoisan dan keserakahannya.

Saya lebih menaruh respek paling tinggi terhadap tempat-tempat nongkrong yang mewah, dan mengharuskan seseorang mengeluarkan duit yang cukup besar untuk bisa menikmati makanan dan minumannya, akan tetapi begitu menjaga ketat tata kelola yang terbilang sangat rapi.

Semisal sekelompok pelayan yang tak pernah membiarkan gelas kosong berlama-lama di atas meja, memungutnya dengan tersenyum serta meninggalkan semacam kegengsian untukmu. Strategi marketing yang ciamik, memberikan kamu dua pilihan krusial: membeli lagi atau meninggalkan—sebagai upaya menghormati pengunjung lain yang menunggu dengan sabar.

Sebagai penutup, saya akan berterus terang bahwa memang terdapat semacam keberpihakan di tulisan ini, keberpihakan pada orang-orang yang merasa terzalimi. Karena memang, saya menulis ini dengan niatan sungguh-sungguh ingin menyinggung orang-orang serampangan yang tidak tahu diri, kalau nanti memang ada yang tersinggung, di situlah saat-saat saya harus berucap: Aw, malu bangeeeetttt~

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.