Anak Kecil yang Menembus Teralis Jendela Kamar; Jogja, Kaliurang Kilometer 13

Anak Kecil yang Menembus Teralis Jendela Kamar; Jogja, Kaliurang Kilometer 13

Anak Kecil yang Menembus Teralis Jendela Kamar; Jogja, Kaliurang Kilometer 13

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Ini merupakan pengalaman pribadi saya, dan saya tidak meminta anda untuk percaya.

Hari itu, 2016, saya lupa bulan apa, untuk pertma kalinya saya menginjakan kaki di kota gudeg, Jogjakarta, setelah menempuh perjalanan jauh dari Jatim. Kebetulan, saya mencarter mobil, sehingga tidak turun di terminal, saya lupa dimana persisnya saya turun.

Kalau tidak salah, saya turun di pusat kota Jogjakarta, kemudian saya dijemput kawan SMA saya yang waktu itu kuliah disana.

Niat awal saya, saya ingin mendaftar di salah satu kampus swasta di Jogja. Sembari menunggu pendaftaran dimulai, saya menginap di kos kawan, namanya Irvan.

Saat Irvan akhirnya datang, kami berboncengan menuju ke kosnya di daerah Kaliurang, tepatnya Kilometer 13.

Ditengah perjalanan, baru saya mengetahui bahwa saya ternyata tidak akan menginap di kosnya, melainkan di kontrakan teman kampusnya yang juga tak terlalu jauh dari kos Irvan.

“Doll, nanti kamu tinggal di kontrakan temenku, ya.”

“Loh, gak jadi di kosmu, Van?”

“Lebih enak di kontrakan temenku, Doll. Kontrakannya luas, aku juga udah bilang ke mereka kalo ada temenku yang mau nginap.”

“Tapi aku gak kenal, Van.”

“Santai aja, anak-anaknya asik, kok.”

Ragu saya mengiyakan, namun karna tak ada pilihan, saya pun manut sambil menatapi bangunan-bangunan di sepanjang jalan.

Jalan kaliurang yang menanjak, menyuguhkan Gunung Merapi di puncaknya, sekilas ada kesan damai yang menyejukan. Saya sebelumnya juga sering mendengar cerita-cerita mengenai gunung-gunung di pulau jawa, yang memiliki ‘tatanan kehidupan sendiri’. Masyarakat Jawa, sedari nenek moyang, telah diajarkan hidup berdampingan, dan saling menghormati satu sama lain.

Khusus di Kota Jogja, ada sebuah keyakinan sebagian masyarakat bahwasanya, ada tiga tempat, yang menyimbolkan ‘tatanan harmonis kosmos’, Keraton, Pantai Selatan, dan Gunung Merapi. Yang konon katanya, ketiganya membentuk garis linier secara geografis. Jawa memang selalu menyembunyikan misterinya, selain daripada masyarakatnya yang padat tentunya.

Kami terus menanjak menuju Km 13, jalanan terlihat cukup padat, Irvan mengendarai motor mio soul merahnya dengan santai.

“Van, temenmu serius, nih, gapapa kalau aku nginep disana?”

“Iya serius. Mereka teman sekelasku semua. Ada 3 orang yang tinggal disana, Tomy, anak Bantul, Rizky, dari Blora, dan Fery dari Banten.”

Irvan membelokan motornya ke kiri jalan, memasuki jalanan yang disisi-sisi jalan banyak dijumpai warung makan dan jajanan, serta mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang.

“Kampusku di dekat sini, lurus ke atas tadi.”

Irvan menjelaskan walaupun saya tidak bertanya.

Jalanan masuk menuju kontrakan teman Irvan cukup jauh, saya juga melihat ada sebuah pesantren di kiri jalan, setelah melewati pesantren, sisi kanan-kiri jalanan dipenuhi oleh hutan-hutan yang cukup lebat.

Semakin masuk ke dalam, rumah-rumah terlihat berjauhan, ada juga beberapa petak sawah dan beberapa rumah warga yang masih terbuat dari bambu, entah itu rumah atau pondokan. Saya juga menemui satu dua petani yang menggiring sapi dipinggir jalan.

Hingga sampailah, kami di sebuah rumah besar, di depan mushola. Rumah tersebut dikelilingi pagar teralis yang dicat hitam. Sekilas, tak ada yang aneh.

Di depan rumah, ketiga teman Irvan menyambut kami dengan cukup hangat. Saya berkenalan, Tomy, yang berasal dari Bantul, merupakan laki-laki keturunan chinese, dan sangat ramah.

Rizky, berasal dari Blora, bertubuh besar berkepala botak, suaranya terdengar sangat berat. Dan yang terakhir, Fery, berambut ikal, agak gempal, memakai kacamata, dan agak cuek.

Setelah berbincang-bincang sebentar, Tomy mengajak saya ke kamar yang saya akan pakai. Saya tidur sekamar dengan Tomy, kamar yang paling luas, dan ada dua kasur bersebalahan, jendela kamar memiliki teralis yang sangat besar.

Tomy bercerita, bahwa mereka baru saja pindah kemari, dan rencananya mau pindah lagi. Ketika saya tanya kenapa, dengan tersenyum Tomy hanya menjawab,

“Nanti kamu tau sendiri.”

Rumah besar ini, memiliki 3 kamar, yang masing-masing ditempati sendiri-sendiri. Kamar Rizky dan Fery berada di paling belakang, dan kamar Fery yang paling banyak barangnya, ada sebuah keyboard piano di dalam kamarnya.

Kemudian ruang tengah yang diiisi oleh meja dan beberapa lemari milik mpu nya rumah. Nampak beberapa foto pemilik rumah di dalam lemari dan ada sebuah foto anak kecil yang duduk bermain piano klasik, poto jadul.

Di ruang depan, ada sebuah kursi dari kayu dan yang menarik perhatian, ada sebuah meja kayu tua yang tepat diatasnya terdapat sebuah kaca berbentuk bulat, dan terbingkai kayu dengan gaya kuno. Kaca tua tersebut, lumayan berdebu.

Kebetulan, di ruang depan inilah, mereka sering berkumpul, pintu depan yang memiliki dua pintu besar hanya dibuka ketika siang atau sore. Selebihnya ditutup, dan untuk pintu masuk, yang digunakan adalah pintu samping rumah yang tepat mengarah ke ruang tengah.

Dapur berada di paling belakang, terpisah tembok, sehingga jika ingin ke dapur, harus keluar rumah. Wc di dalam rumah hanya sayu, dan kata Tomy, selalu rusak, sehingga mereka menggunakan wc di dekat dapur, bentuknya semacam wc umum dan berjumlah 3.

Beberapa hari saya tinggal di kontrakan, tak ada yang janggal. Pagi sampai siang, saya sendirian di rumah, karna anak-anak berangkat kuliah. Saat itu, biasanya saya membaca buku di ruang depan dan membuka pintu depan.

Namun saya ingat, bahwa saya pernah membersihkan kaca tua di ruang depan dengan sebuah tisu, besoknya debu kembali menempel seakan kemarin saya tidak membersihkannya.

Di suatu siang, saat saya tengah asik membaca buku. Satu persatu anak-anak pulang, kecuali Irvan, ia sibuk dengan berbagai tugas kuliah sehingga hanya berdiam di kosnya.

Kami pun berkumpul di ruang depan, hari itu langit mendung, seperti akan hujan. Kami asik berbincang-bincang, Fery mengajak saya malam ini untuk ikut minum kopi arang. Ditengah-tengah kami berempat ngalor ngidul bercerita.

Suara keyboard di kamar Fery terdengar. Suranya singkat namun menghasilkan nada, saya lupa bagaimana persisnya nada tersebut, namun terdengar cukup sedih.

Sontak kami berempat terdiam. Saling menatap satu sama lain, saya merinding waktu itu. Tak lama, setelah kami berusaha mengontrol ketakutan kami. Saya nyeletuk berusaha berpikiran positif, lagian, masa iya ada setan di siang hari?

“Tetangga… pasti suara keyboard dari tetangga.”

Saya benar-benar tak yakin itu dari tetangga. Saya yakin jelas bahwa suara itu dari keyboard di kamar Fery.

Baca Juga: Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam

Rizky menatap kami bertiga dengan serius. Ia berujar dengan penuh keyakinan,

“Kayaknya ‘dia’ mulai lagi.”

Tomy dan Fery mengangguk pelan, baru saja saya mau bertanya siapa yang dimaksud dengan ‘dia’, suara denting keyboard kembali terdengar, sangat jelas, yang kedua ini, durasi nya cukup lama.

Kami mematung, rasanya bergerak sedikit saja seperti sebuah kesalahan. Setelah selesai, kami berempat bersama-sama ke kamar Fery, dan ternyata, keybord Fery mati bahkan tidak tercolok.

Saat itu, dikepala saya sinkron, tiba-tiba saya menjadi yakin bahwa ada yang salah di rumah ini.

Jogja hujan sore itu. Dingin sekali, dingin.

Bersambung…

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.