Alur Mundur

Alur Mundur

Alur Mundur

Oleh Rizaldi Dolly

Penutup

Dercit ranjang menggericit, irama yang serempak dan diatasnya dua tubuh berpadu benci busana.

Sebab apa peluh meraja? Diatasnya ada langit-langit kamar yang tuna netra.

Sesumpalan racauan, cakaran, jambakan, k-e-n-i-k-m-a-t-a-n, sesaat… sesaat… se-saat

Dari situ, terbitlah matahari, karna malam terlalu lelah untuk berujar “sudah”

Adakah aku dimatamu?

Ada tubuhmu di kepalaku

Jangan lupakan itu

Isi

Dan satu diantaranya, mengenal sesama, bersama, dan merdeka

“Lalu apa setelah ini?”

Kartu kamar yang telah digenggam,

“Malam ini kita memerdekakan kebinatangan!”

Ragu kita menjawab,

“Bisa setelah itu kita menghitung bintang?”

Satu diantara kita menggeleng pelan,

“Gak bisa. Maaf.”

Sejumlah tanya terlontar seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

“Karna malam terlalu lelah untuk berujar sudah”

Pembuka

Jangan tanyakan alasan, karna beberapa judul, kadang tidak berisi penjabaran

Mata itu terbelalak genit, ngotot melotot, padahal matanya sipit

“Jangan tanya!”

Segenap harap, agar kejelasan kenapa si itu mencintai, si ini dicintai, dipastikan menguap

Matahari tak perlu alasan kenapa ia menerik, bulan tak perlu alasan kenapa ia temaram, dan manusia, kadang juga, tak perlu alasan mengapa ia membangun rasa

Rekonstruksi masa lalu, menjadi kastil putih karna didalamnya ada putri yang bukan kawanan disney

“Ayo ikut aku”

“Kemana?”

“Berlayar ke samudra”

“Kamu bukan pelaut, kekasih”

“Aku ini laut, bukan urusanku meminta orang untuk menjadi pelaut sebelum ia melaut”

Digenggamnya sebuah tangan, didekapnya dalam dada. Kuat-kuat!

“Kamu benar, kamu lautan. Degup jantungmu seperti deburan ombak yang marah”

Baca Juga: Puisi Trilogi Dirangkai Oleh Dyas BP

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.