Aku dan November

Aku dan November

Aku dan November

By @zein_lich

Kereta Jurusan Surabaya-Banyuwangi

Masa depan itu benar: pemandangan yang paling indah di jagat raya

Tapi sering juga disertai banyak hujan badai, ombak kencang dan muntahnya gunung api

Sebab seperti: acap kali kami terlalu asyik memandang tanpa mengupayakannya

Semacam seisi kereta ini, kupikir, bagaimana jika aku beragitasi?

Mengaburkan khayal sunyi mereka dengan cemoohan

Atas dunia yang tidak seistimewa kebanyakan khayalan

“Wow, saudara sekalian! Lihat di sisi kanan itu, kehijauan yang menunggu mati!

tidakkah kalian pikir kita adalah kehijauan itu, tanpa adanya cinta yang terbawa dari tetes air di musim kering ini?

ya, dan malam mengutuk kita pada dinginnya kesendirian, sebab orang-orangan sawah hanya bisa mengelabui burung kecil yang bodoh,

tapi, tidak dengan sepi!”

Tidak dengan kami—aku, dan orang-orang yang sedang di dalam kereta jurusan Surabaya-Banyuwangi saat ini

Ketidaktahuan adalah nafsu yang berpaling pada pengharapan

Akan dunia esok hari, dan tentang bagaimana penerapan itu dilakukan

Apakah sekadar menatap lembutnya pemandangan dari balik jendela, atau melompat keluar atas nama cinta?

Ah, iya, cinta

Agung dan perkasa

Kapan dimulai?

Kapan harus melambai,

kepada waktu yang katanya memisahkan?

Dan juga waktu yang belakangan ini tidak mendukungku,

sebab menyerangku hingga mabuk saat aku masih menjadi kehijauan itu

Mendapat dan meminum air yang tak lagi suci, ia menjelma sari pati yang bisa mematikan hati

Oh, betapa semua itu seharusnya ditertawakan

Bukan diratapi dengan perilaku menyedihkan

Benar, hanya bualan!

Tapi setidaknya aku berjuang untuk menjenakakan,

apa yang menghilang dari kepunyaanku

Maka, menguninglah aku sekarang

Di depan manusia, tanggal tua

Ditendang Bintang

Pernah satu waktu: ia datang untuk menendangku pulang,

tak luput mengirim kemilau yang sejatinya sanggup membutakan mata dalam jarak sedekat itu

Lalu ia merobek sistem ruang hampa udara demi berucap: “Jangan coba jamah hatiku, terhitung dari sekarang.”

Kujawab, “Itu di luar kehendakku.” Sedang sia-sia saja; ia tak dapat apa-apa; bibirku tak mengeluarkan apa-apa

Ia mengembalikanku ke bumi, yang mana adalah tempat dari segala pengharapanku berasal

Dipecut dan ditunggangi rasa-rasa yang tak tahu menyesal

Menuju jalan rapuh yang sekiranya akan kembali kutempuh?

Tidak lagi, aku benci jika harus menelan begitu banyak peluh

Pengeluh! Kau bisa saja mengatakan itu padaku

Tapi jangan katakan aku berdusta seperti apa yang dikatakan pendusta sesungguhnya:

“Penyair, adalah biang dari segala omong-kosong dan kebohongan”

Sebab aku bukan. Aku hanya makhluk kecil yang telah mencintai bintang paling terang keduabelas di langit malam

Dan itu kebenaran, meski adalah hasil dari permainan mengemas kata-kata yang runtuh dari garis kenyataan

Oh, dan sayang, betapa kebenaran itu mencuat dan memasturbasi egoku:

ia menciptakan ilusi semestanya sendiri, mengharap yang fana tak lagi bersikap arogan

Kemudian, menjadi kehendak dari kehendaknya sendiri

Yang demikian terbentang jalan-jalan rapuh penumbal peluh

Aku sudah menumbalkan sepenuhnya dari keping hati yang tak kuharap akan ditangisi

olehnya; oleh siapa saja yang membenci rasanya disakiti

“Tak sudi disakiti” demikian lumrah dijadikan alat untuk menyakiti

Ah, dan sialnya, aku lupa bahwa: bintang hanya untuk dipandang, dan takdir Tuhan tak boleh ditentang

Jadi pantaslah aku ditendang,

jatuh dan membaur akrab dengan kehilangan

Apakah sesak di dada akan menghilang dalam hitungan jari bulan?

Bagaimana jika terbawa-bawa sampai tua,

sampai penisku menangis sedih, sebab tak punya wadah halal untuk menabur benih?

Termasuk konsekuensi dari terlalu lama mengayomi bekas luka, dan mengira hanya ia yang sanggup menyembuhkannya

Ya, betapa bodohnya itu, telah mencintai sembarangan

Rasa-rasa itu sudah hilang, tapi ingatan bahwa rasa itu pernah ada: adalah pemantik yang manis bagi pengulangan

Coba lihat diriku, setengah mati aku dirundung kehinaan

Mencoba jadi waras namun tak sempat,

aku sudah tersekap di dalam lingkar pengulangan yang terus berulang-ulang,

memang sialan

memang, aku tak pintar melupakan

Ah, dan yang menggelikan: aku mencintainya hingga getir,

ia mencampakkanku begitu mahir.

Di ruang ingatan, tanggal sekian

Astaga, Hujan?

Pada abad ke dua puluh satu, aku memberikannya mantel hujan, demi memberi kesan romantis yang najis jika kuingat-ingat sekarang

Ia tak pandai berterima kasih, padahal tahu hanya aku yang kebasahan di sepanjang jalan

Helm tanpa kaca ini sungguh sial jika sedang hujan!

Aku jadi tak bisa menerka-nerka masa depan;

apa kami selamat, atau bertabrakan

Astaga, jarum jam sudah menjenguk angka 11; malam hari—dengan ayahnya yang cemas menanti

Di jalanan basah yang laju kulalui, ia tak memelukku, tapi aku tidak peduli dengan lelucon itu

“Biar saja kamu kedinginan sampai mati!”

Mungkin seperti itu katanya dalam hati

Ia benar-benar sedikit bicara, sampai ia kuturunkan di rumahnya yang setinggi menara

“Lupakan hari ini, jangan hubungi aku lagi.” Kalimat singkat yang terus kuingat hingga membuat rambutku sedikit beruban

Aku jadi benci hujan, karena begitu mengumbar kemiskinan yang kupunya:

tak sanggup membeli mobil yang bisa melindungi ubun-ubun hingga kancutnya dari segala kebasahan

Aku jadi benci…

wanita itu, sebab mantel hujanku tak pernah ia kembalikan.

Di toilet jongkok, tanggal jadian

Baca Juga: Tertatih dan Merekah

Sumber Foto: Zain Sinjay

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.