A World of Sameness: Persaingan Merk yang Mirip Hingga Minimarket yang Bersebelahan

world sameness merk mirip

A World of Sameness: Persaingan Merk yang Mirip Hingga Minimarket yang Bersebelahan

Penulis M. Alfajri | Editor Dyas BP

“Saat gagal, kamu hanya perlu memulai lagi dengan cara yang lebih cerdas.”

N.N

Thexandria.com – Pemberian brand (merek) menjadi kebutuhan penting saat ini dalam dunia industri beserta kebutuhan pasar-nya. Di mana para pelaku yang membangun aktivitas branding sadar akan kesempatan untuk mencapai tingkat kedewasaan (maturity) terhadap perkembangan produknya.

Mulai banyak dari pelakon branding yang secara drastis merubah bisnis mereka dari komoditi umum menjadi produk dan jasa yang sangat bermartabat tinggi. Hasilnya pun sangat besar terhadap nilai tambah yang mereka dapat. Ya, itu semua dikarenakan adanya strategi dan aktivitas branding di dalamnya.

Salah satu contohnya yang sudah bukan menjadi rahasia lagi, yaitu dunia perkopian. Jika kita amati sudah banyak sekali coffee shop menjamur di berbagai daerah. Bahkan, banyak dari beberapa kedai kopi tersebut yang merancang strategi branding dengan begitu matang. Kira-kira sudah berapa banyak kita mengkonsumsi kopi dari berbagai macam merk?

Baca Juga: GDP Tak Lagi Harus Menjadi Patokan Dalam Menilai Kemampuan Sebuah Negara

Menyikapi banyaknya brand (merek) di luar sana yang memiliki produk atau layanan yang mirip dan beberapa bisa dikatakan memiliki kesamaan. Bagaimana dengan dunia teknologi? Sama halnya dengan dunia perkopian dan industri lainnya, dunia teknologi menurut salah satu kutipan dalam buku yang ditulis oleh Paul Temporal dan KC Lee: “Teknologi secara khusus sangat rawan terhadap pengaruh kesaman, karena teknologi akan selalu tersedia bagi tiap perusahaan yang menginginkannya”.

Laptop dengan kemiripan pada segi desain – gambar ilustrasi

Bahkan menurutnya di dunia teknologi sendiri, terobosan dan inovasi yang terus hadir menyediakan hanya satu manfaat kompetitif “berjangka pendek”. Hal ini terjadi karena teknologi nampaknya mampu menyediakan solusi bagi kebutuhan pasar, dan kebutuhan pasar akan selalu dicari solusinya melalui teknologi. Oleh karena itu, proses iterasi pada sebuah produk teknologi akan terus dilakukan terus menerus untuk menemukan pembaharuan di dalamnya.

Di dalam dunia teknologi, produk pun dapat ditiru dengan mudah. Beragam fitur serta manfaat produk teknologi kurang atau lebih sama. Kalo itu sih jangan ditanya lagi ya, sudah banyak banget aplikasi yang memiliki tujuan yang sama. Bahkan fitur, desain, dan cara menggunakannya pun hampir mirip-mirip.

Lalu dari semua hal kesamaan ini, apa yang membuat satu produk lebih menonjol dari produk yang lainnya?

Bila kita melakukan sebuah pengamatan atau observasi terhadap produk teknologi, yaitu dua produk yang serupa dan secara bersamaan diperkenalkan ke pasar. Harga dan fitur teknologinya tidak berbeda. Secara fungsional kedua produk tersebut identik, menawarkan standar kinerja dan jaminan yang sama. Akan tetapi, salah satu produk tersebut menampilkan merk yang belum pernah anda dengar (produk baru), sementara produk satunya lagi (contohnya) Apple. Andai kata anda ingin membeli di antara kedua produk tersebut, mana yang akan anda pilih? Bukan keputusan sulit untuk memilihnya bukan?

Sekarang ini yang memiliki banyak kesamaan, dengan adanya brand (merek) akan dengan sendirinya perbedaaan di antara keduanya—lebih memilih membeli Apple atau produk dengan merk baru tersebut?

Selain itu yang mengejutkan adalah masih banyak perusahaan teknologi saat ini masih sulit dalam menerima penilaian para konsumen mereka. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan lebih mencurahkan perhatiannya kepada segi desain dan memproduksi produk yang inovatif yang dapat mengungguli pesaingnya. dari pada menegakkan suatu rantai pemberian brand yang “berjangka panjang”. Hal ini terjadi karena sikap umum para konsumen terhadap produk teknologi dan karena kurangnya tanggapan dari kalangan perusahaan teknologi terhadap masalah ini. Sehingga, membuat pengembangan merek semakin sulit bagi para pelaku persaingan di perusahaan teknologi.

Kok Bisa Sebelahan?

Pasti kita tidak asing dengan minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Ya, minimarket tersebut cukup membantu kita saat membutuhkan sebuah barang baik untuk digunakan atau dikonsumsi. Tapi seringkali kita menemukan dan bertanya, “Kok bisa saingan malah sebelahan, ya?”

Dilansir dari beberapa sumber, skema tersebut diibaratkan sebagai sebuah pertandingan, Indomaret dan Alfamart saling menunjukkan taringnya untuk merebut hati konsumen. Keberadaan kedua minimarket yang kerap berdekatan, mengindikasi bahwa persaingan antar keduanya memang cukup ketat. Alfamart maupun Indomaret tidak mau sama-sama kalah. Dua mini market tersebut tidak keberatan saling bersaing dalam wilayah yang sama untuk  menunjukkan eksistensi masing-masing.

Lokasi Indomaret dan Alfamart yang berdekatan.

Sekilas Alfamart dan Indomaret terlihat tidak jauh berbeda, apalagi di mata para konsumen. Keduanya seakan saudara yang memiliki banyak kesamaan. Namun ternyata keduanya mengakui bahwa mereka memiliki keunggulan masing-masing. Konsep bisnis yang dibawa berbeda, nilai tambah yang ditawarkan pun berbeda. Ada yang mengusung keunggulan dari segi harga yang lebih murah, kapasitas toko yang lebih luas, pelayanan yang lebih ramah, maupun suasana yang lebih nyaman. Semua hal yang ditawarkan antar kedua toko dianggap menjadi nilai lebih yang membedakan dengan pesaingnya.

Baca Juga: Pemuda; Survive Menghirup Udara Asing dari Atmosfer Dunia Bisnis

Sehingga ketika konsumen tidak menemukan sebuah barang di Indomaret, dia bisa menemukan barang tersebut di Alfamart yang berada di sebelah. Hal ini merupakan keuntungan bagi konseumen yang tak perlu ‘melancong’ lebih jauh ke toko lain dan juga memberikan alternatif.

Bisnis retail memang menjanjikan pasar yang tidak ada habisnya. Kebutuhan masyarakat akan makanan, minuman, produk kebersihan dan sebagainya memang tidak akan pernah mengalami penyusutan. Bahkan dari waktu ke waktu, kebutuhan tersebut semakin meningkat seiring berubahnya gaya hidup, dan juga naiknya pendapatan masyarakat. Hal itulah yang menjadikan Indomaret dan Alfamart tidak takut bersaing di tempat yang sama. Karena keduanya sama-sama tahu, bahwa pasar yang mereka bidik adalah pasar yang sangat besar. Kehabisan konsumen tidak akan pernah menjadi kendala yang mereka takuti, karena memang hal tersebut tidak akan terjadi.

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.